Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Kemarau di Jembrana, Petani Terpaksa Pompa Air 12 Jam Sehari

Kamis, 9 Juli 2026, 20:13 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Kemarau di Jembrana, Petani Terpaksa Pompa Air 12 Jam Sehari.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, JEMBRANA.

Musim kemarau mulai memberikan dampak serius terhadap sektor pertanian di Kabupaten Jembrana. Petani di Subak Basah, Desa Tegalbadeng Timur, Kecamatan Negara, terpaksa mengandalkan mesin pompa air setelah sekitar dua bulan tidak lagi mendapatkan pasokan air dari saluran irigasi subak.

Kondisi tersebut memaksa petani mengeluarkan biaya produksi yang jauh lebih besar demi menjaga tanaman padi tetap mendapatkan suplai air. Selain harus membeli mesin pompa, mereka juga harus menanggung biaya bahan bakar setiap hari.

Salah seorang petani, Komang Indrayasa, mengatakan mesin pompa harus dioperasikan hingga sekitar 12 jam setiap hari agar lahan persawahannya tidak mengalami kekeringan. Dalam sehari, mesin tersebut menghabiskan sekitar tujuh liter bahan bakar minyak (BBM).

"Sudah sekitar dua bulan air subak tidak mengalir. Mau tidak mau kami harus memakai pompa supaya padi tidak mati. Dalam sehari mesin bisa hidup sekitar 12 jam dan menghabiskan kurang lebih tujuh liter BBM. Biayanya jauh lebih besar dibandingkan saat masih ada air dari subak," ujar Komang, Kamis (9/7/2026).

Menurut Komang, untuk membeli mesin pompa ia harus mengeluarkan biaya sekitar Rp5 juta. Selain itu, selama musim kemarau berlangsung, pengeluaran untuk membeli BBM telah mencapai sekitar Rp1,5 juta.

Meningkatnya biaya operasional tersebut menjadi beban tambahan bagi petani, terlebih hasil panen masih bergantung pada kondisi cuaca. Jika musim kemarau terus berlanjut tanpa adanya pasokan air yang memadai, petani khawatir produksi padi akan menurun bahkan berpotensi mengalami gagal panen.

Para petani berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi krisis air irigasi di wilayah tersebut. Mereka juga berharap adanya bantuan bagi petani agar biaya produksi tidak semakin membengkak dan sektor pertanian tetap mampu bertahan selama musim kemarau.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/jbr



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami