Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Menulis Sejarah Bersama Jadi Kunci Merawat Persahabatan Indonesia–Timor-Leste

Kamis, 23 Juli 2026, 10:24 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Menulis Sejarah Bersama Jadi Kunci Merawat Persahabatan IndonesiaTimor-Leste.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Hubungan Indonesia dan Timor-Leste memasuki babak baru yang lebih erat. Namun, persahabatan kedua negara dinilai hanya akan bertahan jika dibangun di atas fondasi sejarah yang ditulis secara jujur, seimbang, dan diingat bersama oleh generasi mendatang.

Pesan tersebut mengemuka dalam Seminar Internasional bertajuk "Menjaga Memori Bersama demi Mempererat Persahabatan Menuju Rekonsiliasi" yang digelar Program Studi Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Udayana di Denpasar, Selasa (21/7). Seminar menghadirkan akademisi, pegiat hak asasi manusia, Komnas HAM, hingga perwakilan Centro Nacional Chega! (CNC) Timor-Leste untuk membahas pentingnya merawat hubungan kedua negara melalui penulisan sejarah dan rekonsiliasi.

Rektor Universitas Udayana Prof. Ir. I Ketut Sudarsana, S.T., Ph.D. menegaskan, kampus memiliki tanggung jawab moral menjaga ruang dialog yang jujur mengenai sejarah Indonesia dan Timor-Leste. Menurutnya, semangat JASMERAH mengajarkan bahwa rekonsiliasi bukan dibangun dengan menghapus masa lalu, melainkan dengan keberanian mengingatnya secara jujur dan penuh empati.

"Melalui pendidikan, kebudayaan, dan forum akademik, diplomasi antarmasyarakat dapat menjadi jembatan yang memperkuat persahabatan Indonesia dan Timor-Leste," ujarnya.

Perwakilan CNC Timor-Leste, Jesus dan Joel, menilai memori kolektif harus terus dirawat karena menjadi pelajaran penting agar tragedi kemanusiaan tidak kembali terulang. Mereka menegaskan hubungan kedua negara kini tidak lagi bertumpu pada masa lalu, tetapi pada komitmen bersama untuk saling menghormati, mengakui kesalahan, dan membangun masa depan.

"Persahabatan harus dibangun di atas keberanian mengakui sejarah dan terus melangkah menuju rekonsiliasi," ungkap mereka.

Dalam diskusi, sejumlah narasumber menekankan bahwa penulisan sejarah menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai. Akademisi Hugo Maria Fernandes menjelaskan, proses rekonsiliasi pascakemerdekaan Timor-Leste hanya dapat berjalan apabila dibangun melalui pengungkapan kebenaran, pengakuan, penyesalan, dan permintaan maaf.

Sementara itu, Erawan mengingatkan bahwa hubungan baik Indonesia dan Timor-Leste tidak cukup hanya mengedepankan narasi persahabatan. Menurutnya, persahabatan justru akan semakin kuat jika kedua negara berani menghadirkan sejarah secara utuh kepada publik.

"Fondasi persahabatan adalah kebenaran. Memori sejarah harus tetap hidup sebagai bagian dari pendidikan kemanusiaan," katanya.

Hal senada disampaikan Ivo yang mendorong penulisan sejarah dari perspektif masyarakat biasa (history from below), bukan hanya dari sudut pandang elite politik. Ia menilai dokumentasi, digitalisasi arsip, dan pelestarian cerita para penyintas menjadi langkah penting agar sejarah Indonesia dan Timor-Leste dipahami secara lebih utuh oleh generasi muda.

Komisioner Komnas HAM, Dr. Atnike, menambahkan bahwa upaya penyelesaian pelanggaran HAM berat terkait Timor-Leste juga menjadi bagian dari merawat hubungan kedua negara. Pengungkapan kebenaran, pencarian keluarga yang terpisah akibat konflik, hingga pelaksanaan rekomendasi berbagai komisi bersama merupakan proses yang harus terus dilanjutkan.

Menurutnya, pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa mengungkap sejarah secara jujur tidak menghambat pembangunan. Sebaliknya, hal itu justru menjadi fondasi terciptanya perdamaian yang berkelanjutan.

Diskusi juga menyoroti pentingnya penyusunan sejarah bersama antara Indonesia dan Timor-Leste, termasuk penyelesaian kasus anak-anak yang terpisah akibat konflik (labarik lakon). Para peserta menilai sejarah yang ditulis secara berimbang akan memperkuat saling pengertian sekaligus mencegah munculnya kembali prasangka antargenerasi.

Seminar ditutup dengan kesepakatan bahwa merawat memori sejarah bukan berarti membuka kembali luka lama, melainkan menjadikannya pijakan untuk membangun hubungan Indonesia dan Timor-Leste yang semakin dewasa, damai, dan saling menghormati. Universitas Udayana pun menegaskan komitmennya menjadikan ruang akademik sebagai jembatan dialog, sehingga sejarah menjadi perekat persahabatan, bukan sumber perpecahan.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/jun



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami