Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 25 Oktober 2026
107 Siswa SMAN 3 Singaraja Dibekali Edukasi Kesehatan Mental, Bullying, dan Adiksi Gadget
beritabali/ist/107 Siswa SMAN 3 Singaraja Dibekali Edukasi Kesehatan Mental, Bullying, dan Adiksi Gadget.
BERITABALI.COM, BULELENG.
Sebanyak 107 siswa kelas X SMAN 3 Singaraja mengikuti Sosialisasi Kesehatan Jiwa Remaja yang digelar Suryani Institute for Mental Health (SIMH) bersama Program Studi Spesialis Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, pada hari Jumat, 23 Oktober 2026.
Kegiatan yang berlangsung di SMAN 3 Singaraja, Kabupaten Buleleng, ini diikuti siswa kelas X F, X G, dan X H. Edukasi mengangkat tiga isu yang dekat dengan keseharian remaja, yaitu kesehatan mental, perundungan (bullying), dan adiksi gadget, sebagai upaya promotif dan preventif kesehatan jiwa di lingkungan sekolah.
Kegiatan ini merupakan wujud kepedulian Suryani Institute for Mental Health (SIMH) terhadap kesehatan jiwa masyarakat Bali dan lanjutan road show edukasi kesehatan mental di Kabupaten Buleleng setelah sebelumnya melakukan kegiatan serupa di SMAN 1 dan 2 Singaraja.
Melalui pendekatan kunjungan rutin ke sekolah-sekolah, Suryani Institute for Mental Health (SIMH) terus menghadirkan penyuluhan kesehatan jiwa langsung kepada para pelajar, dengan keyakinan bahwa ketahanan mental perlu dibangun sejak anak dan remaja.
Suryani Institute for Mental Health (SIMH) didirikan pada tahun 2005 oleh Prof. Dr. dr. Luh Ketut Suryani, Sp.K.J.(K) untuk membantu orang dengan gangguan jiwa melalui pengobatan, edukasi, dan program pencegahan berbasis komunitas. Kunjungan ke Singaraja ini memiliki makna tersendiri, sebab Prof. Dr. dr. Luh Ketut Suryani, Sp.K.J.(K) lahir di Singaraja pada tahun 1944.
Rombongan disambut Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, Gede Hendri Setiawan, yang hadir mewakili Kepala SMAN 3 Singaraja, Dr. Putu Eka Wilantara. Pihak sekolah menyampaikan bahwa kegiatan ini relevan dengan berbagai persoalan kedisiplinan yang kerap ditemui di sekolah, seperti siswa membolos dan pelanggaran tata tertib lainnya, yang tidak jarang berkaitan dengan kondisi psikologis siswa.
“Kami menyambut baik kegiatan ini. Banyak perilaku siswa yang tampak sebagai pelanggaran disiplin, padahal di baliknya bisa ada persoalan emosional yang perlu dipahami dan didampingi,” ujar Gede Hendri Setiawan.
Paparan utama disampaikan Prof. Dr. dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, Sp.K.J., Subsp.K.(K), MARS, selaku perwakilan Suryani Institute for Mental Health (SIMH) sekaligus Koordinator Program Studi Spesialis Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.
“Masa remaja adalah masa pencarian jati diri yang penuh tekanan. Remaja perlu tahu bahwa merasa cemas, sedih, atau bingung itu wajar, dan meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan,” ungkap Prof Cokorda.
Ia menambahkan bahwa semangat yang dirintis Prof. Dr. dr. Luh Ketut Suryani, Sp.K.J.(K) melalui Suryani Institute for Mental Health (SIMH) adalah menghadirkan layanan kesehatan jiwa yang dekat dengan masyarakat, termasuk menjangkau sekolah agar siswa tidak ragu membicarakan kondisi mentalnya.

Materi pertama mengenai kesehatan mental remaja dibawakan dr. Kadek Soga Prayaditya Putra, residen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Ia menjelaskan tanda-tanda awal gangguan emosi yang sering luput dari perhatian, seperti perubahan pola tidur, menarik diri dari pergaulan, mudah marah, hingga penurunan prestasi belajar. Menurutnya, perilaku seperti membolos dapat menjadi sinyal bahwa siswa sedang menghadapi masalah yang belum tersampaikan.
Materi kedua tentang bullying pada remaja disampaikan dr. Sylvia Chandra, residen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Ia menekankan bahwa perundungan, baik secara fisik, verbal, sosial, maupun di media digital, dapat meninggalkan dampak jangka panjang bagi korban, pelaku, maupun saksi. Siswa diajak berani bersuara, saling peduli, dan melaporkan perundungan kepada pihak yang dipercaya.
Materi ketiga mengenai adiksi pada remaja dibawakan dr. Putu Indyah Tixna Pramudawardani, residen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Ia menyoroti bahwa penggunaan gawai yang berlebihan dan tidak terkontrol dapat mengganggu kualitas tidur, konsentrasi belajar, regulasi emosi, serta hubungan sosial. Para siswa didorong membangun kebiasaan digital yang lebih sehat melalui pengaturan waktu layar, aktivitas fisik, dan interaksi langsung dengan keluarga serta teman.
Dalam sesi diskusi, siswa juga diperkenalkan dengan alur penanganan masalah yang berlaku di SMAN 3 Singaraja. Penyelesaian masalah dilakukan secara berjenjang, dimulai dari guru wali sebagai pendamping terdekat siswa, kemudian wali kelas, guru Bimbingan Konseling (BK), bagian kesiswaan, hingga kepala sekolah. Apabila masalah memerlukan penanganan lebih lanjut, sekolah akan merujuk siswa kepada tenaga profesional kesehatan jiwa, yaitu psikiater atau psikolog. Saat ini sekolah didukung lima orang guru BK untuk mendampingi siswa.
Alur berjenjang ini memastikan setiap persoalan siswa ditangani sedini mungkin oleh pihak yang paling dekat, sekaligus membuka jalur rujukan yang jelas bila dibutuhkan. Kunjungan Suryani Institute for Mental Health (SIMH) dinilai bermanfaat untuk memperkuat alur tersebut, karena membekali siswa agar lebih peka mengenali masalah pada diri sendiri maupun teman, serta tidak ragu mencari bantuan sesuai jenjang yang tersedia di sekolah.
Kegiatan juga diisi dengan penyerahan cinderamata oleh Prof. Dr. dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, Sp.K.J., Subsp.K.(K), MARS kepada Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMAN 3 Singaraja, Gede Hendri Setiawan, serta pemberian buku Hope and Freedom karya Rudi Waisnawa. Buku tersebut diberikan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kepedulian terhadap pencegahan praktik pemasungan terhadap orang dengan gangguan jiwa, sejalan dengan perjuangan panjang Prof. Dr. dr. Luh Ketut Suryani, Sp.K.J.(K) bersama Suryani Institute for Mental Health (SIMH).
Salah satu residen yang terlibat dalam kegiatan edukasi mengapresiasi respons para siswa yang dinilai terbuka dan antusias selama mengikuti kegiatan.
“Kami melihat siswa sangat terbuka untuk berdiskusi mengenai pengalaman sehari-hari, mulai dari tekanan pertemanan, penggunaan media sosial, hingga stres akademik. Banyak yang baru menyadari bahwa kesehatan mental adalah sesuatu yang perlu dijaga dan dibicarakan tanpa rasa takut,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan literasi kesehatan jiwa semakin meluas di lingkungan pendidikan di Bali, serta terbangun sistem dukungan yang kuat antara siswa, guru, dan orang tua demi lahirnya generasi muda yang sehat secara mental dan tangguh menghadapi tantangan.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5659 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4583 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2520 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2185 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2179 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan