Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 26 Oktober 2026
Bulan dan Venus Tampak Berdempetan di Langit Bali, Ini Penjelasan BMKG
BERITABALI.COM, BADUNG.
Pemandangan Bulan yang tampak berdekatan dengan planet Venus di langit malam, Senin, 14 September 2026, menarik perhatian masyarakat di Bali. Fenomena tersebut sempat diabadikan warga dan beredar di media sosial.
Fenomena Bulan dan Venus yang terlihat berdekatan tersebut merupakan fenomena astronomi yang normal. Kejadian ini tidak berkaitan dengan pertanda atau kondisi tertentu.
Baca juga:
Venus dan Jupiter "PDKT" Tampak Seperti Dua Cahaya Terang, Begini Menurut Astrologi Hindu
PMG Muda Pusat Gempabumi Regional III Bali atau PGR III, Randika Rivaldi, menjelaskan posisi Bulan dan Venus yang tampak berdekatan dikenal sebagai konjungsi Bulan–Venus.
Menurut Randika, fenomena tersebut terjadi akibat pergerakan benda-benda langit. Pergerakan itu melibatkan rotasi dan revolusi Bumi, pergerakan Bulan mengelilingi Bumi, serta pergerakan planet seperti Venus.
"Konjungsi Bulan dan Venus bukan fenomena langka yang hanya terjadi beberapa tahun sekali. Fenomena serupa dapat terjadi cukup sering, bahkan hampir setiap bulan, karena Bulan mengelilingi Bumi dalam waktu sekitar satu bulan," ujarnya, Selasa (15/9/2026).
Ia mengatakan fenomena yang terlihat pada 14 September 2026 tersebut hanya dapat diamati pada malam itu.
"Bulan dan Venus diperkirakan telah terbenam sekitar pukul 20.52 WITA," terangnya.
Randika menjelaskan pemantauan benda-benda langit lainnya bukan menjadi fokus utama BMKG. Pengamatan benda langit secara lebih luas dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN, khususnya melalui Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa serta Pusat Riset Antariksa.
Sementara itu, BMKG lebih berfokus pada pengamatan posisi Matahari dan Bulan untuk kepentingan penentuan tanda waktu resmi serta kalender Hijriah.
Masyarakat juga tidak perlu melakukan tindakan khusus apabila kembali melihat fenomena serupa. Menurut Randika, fenomena tersebut merupakan kejadian alam yang biasa dan dapat kembali diamati pada bulan berikutnya selama kondisi langit mendukung.
"Pengamatan akan lebih mudah dilakukan ketika langit cerah, minim awan, serta tidak terganggu polusi atau noise cahaya di sekitar lokasi," tutupnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5858 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4605 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2576 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2214 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2198 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan