Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 26 Oktober 2026
Jejak Trauma Keluarga, Kesepian, dan Keinginan Mengakhiri Hidup
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Seorang perempuan, berusia 26 tahun, berinisial RAS sejak kecil merasa diabaikan oleh kedua orang tuanya. Ayahnya menikah delapan kali, sedangkan ibunya empat kali. Setelah orang tuanya bercerai saat ia SMP, ia tinggal bersama kakek dan neneknya.
Ketika mengunjungi ayah atau ibunya, ia kerap dicaci, ditolak, bahkan disebut anak haram. Sejak itu, muncul keinginan untuk mengakhiri hidup. Ia sendiri pernah menikah, kemudian bercerai karena kekerasan yang dialami.
Setahun terakhir, ia pindah ke Bali untuk bekerja sebagai asisten psikolog anak berkebutuhan khusus. Selama sepuluh bulan, ia menjalani pendampingan psikolog tanpa merasakan perbaikan. Ia belum pernah mendapatkan penanganan psikiatri. Tiga bulan terakhir, ia menjalin hubungan dengan seorang kekasih.
Ia beberapa kali mencoba mengakhiri hidup dengan menenggelamkan diri di laut, menusuk diri, dan meminum Baygon dua minggu sebelumnya. Ia juga menggores tangan untuk mengalihkan rasa sakit emosionalnya. Kekasihnya menyaksikan perilaku membenturkan kepala dan meminum pengharum ruangan yang dilakukannya namun tidak banyak bisa membantu.
Seminggu terakhir, sejak bertugas sebagai shadow teacher, tekanan pekerjaan memperburuk kondisinya. Ia merasa lingkungan kerjanya tidak mendukung. Ia sempat sangat bersemangat, melukis empat kanvas besar, memiliki banyak ide, tidak tidur beberapa hari, berbelanja berlebihan, dan mentraktir banyak orang.
Keesokan harinya, ia merasa sedih dan mudah marah. Ketika tersinggung, muncul pikiran membunuh orang lain serta kecurigaan terhadap orang sekitarnya. Kekasihnya terus mendampingi, sementara psikolog merujuknya kepada psikiater.
Ia mengeluhkan mendengar suara-suara yang menyakiti dirinya dan terkadang merasa ada bayangan yang mendatanginya disaat ia rebahan di atas kasur. Terkadang muncul perasaan kesepiaan dan sendiri serta iri melihat orang lain banyak memiliki teman yang mengunjungi, sementara ia hanya seorang diri tanpa keluarga dan teman. Kalau emosinya mulai muncul akan ada perasaan sesak di dada yang sangat menekan dirinya. Perubahan suasana perasaan yang dirasakan dapat berubah dalam hitungan hari.
Mendengarkan luka dalam upaya mengkahiri hidup
Sejak kecil, RAS merasa tidak mendapatkan tempat di hati kedua orang tuanya. Setelah mereka bercerai ketika ia SMP, ia tinggal bersama kakek dan nenek. Kunjungan kepada orang tua justru diwarnai penghinaan dan penolakan. Ketika dewasa, perkawinannya pun berakhir setelah mengalami kekerasan. Perpindahan ke Bali dan pekerjaannya membuka babak kehidupan baru, tetapi luka lama belum tentu ikut mereda. Kini, tekanan pekerjaan bertemu dengan kesepian dan perasaan tidak didukung.
Pertanyaan mengapa ia ingin mati? tidak dapat dijawab hanya dengan menyebut gangguan jiwa atau kurangnya dukungan keluarga. Kita perlu mendengarkan perjalanan seseorang sampai hidup terasa begitu menyakitkan. Pada RAS, perempuan berusia 26 tahun, keinginan mengakhiri hidup muncul dalam sejarah panjang pengabaian, penolakan, dan kekerasan. Kemungkinan, ia ingin menghentikan penderitaan yang terasa tidak berujung. Keinginan memperoleh kelegaan tetap dapat disertai niat mati yang sungguh-sungguh.
Perceraian orang tua perlu dipahami secara hati-hati. Banyak anak dari keluarga bercerai tumbuh sehat ketika tetap memperoleh pengasuhan hangat, kepastian, dan perlindungan. Sebaliknya, tinggal dalam keluarga yang tetap utuh secara hukum tidak menjamin keselamatan apabila kekerasan terus berlangsung. Perceraian tidak boleh diperlakukan sebagai takdir buruk yang pasti mengikuti anak hingga dewasa.
Dalam kisah RAS, perhatian utama adalah bagaimana ia diperlakukan sebelum dan sesudah perpisahan tersebut. Jumlah perkawinan orang tuanya tidak menjelaskan keadaan jiwanya dengan sendirinya. Yang perlu ditelusuri ialah keberlanjutan pengasuhan, siapa yang hadir saat ia takut, dan apakah kebutuhannya dianggap penting. Apabila ada pengabaian emosional masa kecil maka akan memunculkan keinginan untuk melakukan percobaan bunuh diri.
Sebutan yang merendahkan asal-usul seorang anak juga membawa luka sosial. Dalam lingkungan yang menempatkan keluarga sebagai sumber identitas dan kehormatan, penghinaan semacam itu dapat membuat anak merasa keberadaannya sendiri tidak diterima. Kita perlu menegaskan bahwa anak tidak bertanggung jawab atas keputusan orang dewasa. Martabatnya tidak bergantung pada status perkawinan orang tua. Pesan sederhana ini mungkin tidak pernah cukup sering didengar ketika ia sedang membentuk pandangan tentang dirinya.
Kesepian yang ia ceritakan pun bukan sekadar tidak memiliki teman berkunjung. Kesepian merupakan pengalaman subjektif yang muncul ketika terdapat jarak antara hubungan yang dibutuhkan seseorang dan hubungan yang dirasakannya. Seseorang mungkin membutuhkan kedekatan, penerimaan, dan dukungan emosional, tetapi merasa kebutuhan tersebut belum terpenuhi.
Kesepian berbeda dari isolasi sosial, yaitu terbatasnya hubungan atau interaksi secara nyata. Seseorang dapat tinggal sendiri tanpa merasa kesepian, sementara orang yang memiliki pasangan atau berada di tengah keramaian tetap dapat merasa tidak dipahami.
Ada kemungkinan ia merindukan kepastian bahwa seseorang akan tetap hadir ketika dirinya sedang sulit. Kehadiran kekasih merupakan dukungan berharga, tetapi satu hubungan tidak dapat menggantikan seluruh jaringan pertolongan. Karena itu, kesepiannya perlu didengarkan tanpa menganggapnya kurang bersyukur atas dukungan yang sudah tersedia.
Bagaimana pergulatan batin dan lingkungan sosial membentuk tubuhnya
Anak belajar merasa aman ketika pengasuh merespons kebutuhannya secara cukup konsisten. Bila tempat berlindung justru menjadi sumber ketakutan, kedekatan dapat terasa sekaligus diinginkan dan mengancam. Melalui hubungan dengan orang tua, anak membangun pemahaman tentang dirinya dan orang lain seperti “Apakah aku layak disayangi?” dan “Apakah orang lain dapat dipercaya?” Apabila pengasuh berulang kali menolak atau menghina, anak dapat kesulitan merasa aman dalam hubungan.
Pada RAS, orang tua yang diharapkan memberikan kasih sayang justru menjadi sumber penolakan. Pengalaman ini mungkin membuatnya sangat mendambakan kedekatan, tetapi sekaligus takut ditinggalkan. Penolakan di tempat kerja atau hubungan dewasa kemudian dapat terasa lebih menyakitkan karena mengingatkan pada pengalaman sebelumnya.
Ucapan yang bagi orang lain terasa ringan mungkin menyentuh kembali pengalaman pernah dihina. Kemarahan yang muncul kemudian dapat memuat sakit hati hari ini sekaligus memunculkan ketakutan lama. Perasaan perlu diterima tetapi perilaku berbahaya tetap memerlukan batas dan perlindungan.
Adanya perlakuan berulang dapat membentuk keyakinan mendasar tentang diri, misalnya merasa tidak layak disayangi. Bila keyakinan seperti itu terbentuk, pengalaman penolakan mudah terasa sebagai pembuktian, sedangkan perhatian orang lain menjadi sulit untuk dipercaya. Tugas pendamping ialah membantunya mengenali cara ia memahami pengalaman, tanpa mengatakan bahwa penderitaannya hanya berasal dari pikiran yang keliru.
Munculnya kesulitan mengelola emosi dapat berkembang melalui pertemuan antara kepekaan seseorang dan lingkungan yang terus mengabaikan atau menghukum perasaannya. Ia menyampaikan bahwa melukai diri digunakan untuk mengalihkan sakit emosional. Ini menunjukkan fungsi perilaku tersebut sebagai pengalamannya, bukan alasan untuk menganggapnya aman. Melukai diri tanpa niat mati dan percobaan bunuh diri dapat hadir pada orang yang sama dan niat dapat berubah.
Secara psikososial, pekerjaan baru, tuntutan merawat anak berkebutuhan khusus, pengalaman kekerasan dalam perkawinan, serta minimnya dukungan dapat saling menambah beban. Mengajarkan pengelolaan emosi saja tidak cukup apabila lingkungan terus melukai. Pemulihan membutuhkan keterampilan pribadi sekaligus perubahan keadaan yang masih dapat diperbaiki. Tubuh ikut membawa pengalaman tersebut.
Kajian neurobiologi terbaru menghubungkan penganiayaan dan pengabaian masa kecil dengan perbedaan perkembangan sistem otak yang berperan dalam mendeteksi ancaman, mengolah emosi, dan membangun hubungan. Secara sederhana, sistem kewaspadaan dapat menjadi lebih mudah menyala.
Keluhan sesak dada ketika emosi meningkat perlu didengarkan sebagai pengalaman tubuh yang nyata. Demikian pula, beberapa hari hampir tidak tidur, peningkatan aktivitas, pengeluaran berlebihan, dan perubahan suasana hati perlu dinilai secara menyeluruh.
Adanya pengalaman mendengar suara dan melihat bayangan juga tidak boleh otomatis dianggap akibat trauma ataupun pengalaman gaib. Pikiran melukai orang lain memerlukan penilaian niat, rencana, dan keselamatan pihak terkait.
Sepuluh bulan pendampingan tanpa perbaikan yang dirasakan bukan bukti bahwa ia tidak dapat ditolong. Hal itu menjadi alasan untuk meninjau kembali kebutuhan dan pendekatan perawatannya. Psikiater dan psikolog dapat bekerja bersama, dengan tujuan yang disepakati bersama RAS. Latihan terstruktur untuk menghadapi tekanan dan mengelola emosi merupakan salah satu pilihan. Latihan tersebut memiliki peran dalam mengurangi perilaku melukai diri, meskipun hasil jangka panjang masih perlu diteliti.
Tanggung jawab bersama untuk usaha pemulihan
Bagi keluarga, langkah awal adalah menghentikan penghinaan dan mendengarkan tanpa segera mengadili. Namun, keluarga biologis tidak selalu merupakan tempat paling aman. Bila kekerasan masih terjadi, pemulihan dapat melibatkan orang lain yang dipercaya. Ia tidak perlu dipaksa berdamai atau memaafkan sebagai syarat memperoleh pertolongan. Keselamatan dan pilihannya tetap harus dihormati.
Bagi pemerintah, ruang aman harus hadir dalam layanan yang terjangkau dan berkesinambungan. Puskesmas memerlukan tenaga terlatih, jalur rujukan yang jelas, serta hubungan kerja dengan rumah sakit dan layanan perlindungan korban kekerasan. Orang yang pulang setelah krisis perlu mengetahui siapa yang akan menghubunginya kembali.
Di masyarakat, gotong royong dapat diwujudkan melalui tindakan kecil yang konsisten seperti menemani berobat, membantu kebutuhan sehari-hari, dan mengajak seseorang terlibat tanpa mempermalukannya. Dalam konteks Bali, jejaring lingkungan, banjar, komunitas seni, atau kelompok keagamaan dapat menjadi pilihan apabila orang tersebut merasa diterima. Keterlibatannya harus berdasarkan persetujuan, bukan membuka kisah pribadinya kepada banyak orang. Dukungan spiritual dapat menemani perawatan tanpa menjadikan penderitaan sebagai kesalahan moral.
Untuk RAS, langkah pertama ialah memastikan keselamatan melalui penilaian langsung. Sesudah itu, ia dan tim perawatan perlu menyusun rencana yang konkret seperti mengenali tanda awal krisis, menentukan orang yang dapat dihubungi, membatasi akses terhadap benda atau bahan berbahaya, dan memastikan tindak lanjut. Kekasihnya perlu mendapat arahan serta dukungan. Kedekatan emosional sangat berarti, tetapi tidak menjadikan seseorang terlatih menangani keadaan darurat.
Bagi pembaca yang mengalami hal serupa, sampaikan keadaan Anda kepada orang yang dipercaya, bahwa “Saya sedang tidak aman dan membutuhkan bantuan.” Bila ada dorongan segera menyakiti diri atau orang lain, baru terjadi keracunan atau cedera, atau mendengar suara mendorong tindakan berbahaya, segera menuju IGD terdekat. Mintalah seseorang menemani. Jangan menunda perjalanan ke IGD.
Pemulihan tidak selalu berlangsung lurus. Ada hari ketika tidur membaik, lalu ada hari ketika kesepian kembali terasa berat. Kemunduran tidak menghapus kemajuan. Ia berhak memperoleh pertolongan yang tekun, hubungan yang menghormati batasnya, dan kesempatan membangun kehidupan yang lebih aman. Tanggung jawab kita adalah menghadirkan kondisi agar meminta bantuan adalah mungkin, dan agar seseorang tidak harus menghadapi masa paling sulitnya sendirian. (Oleh: Prof Dr dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5890 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4618 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2590 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2231 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2207 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan