Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 25 Oktober 2026
Dari Pandemi, Amigurumi Buleleng Tembus Mancanegara
BERITABALI.COM, BULELENG.
Pandemi Covid-19 yang membatasi aktivitas masyarakat pada 2021 justru menjadi titik awal Sonia Della Mustika Larossani (29) membangun usaha kreatif. Dari rumah di Kelurahan Beratan, Kecamatan Buleleng, Sonia mengembangkan kerajinan amigurumi yang kini telah dipasarkan hingga ke luar negeri.
Amigurumi merupakan boneka rajut tiga dimensi asal Jepang yang dikenal memiliki bentuk unik dan menggemaskan. Ketertarikan Sonia terhadap kerajinan tersebut bermula ketika ia melihat berbagai karya amigurumi di media sosial.
Keinginan membeli boneka rajut itu sempat terkendala biaya. Sonia kemudian memilih mempelajarinya secara mandiri melalui video YouTube. Dari proses belajar tersebut, ia berhasil membuat karya pertamanya berupa boneka berbentuk lebah.
"Awalnya waktu Covid tidak boleh ke mana-mana. Saya lihat di media sosial lucu, tapi tidak punya uang untuk beli. Akhirnya belajar sendiri lewat YouTube," ujar Sonia, Sabtu (8/8).
Menurut Sonia, membuat amigurumi membutuhkan ketelitian tinggi. Setiap tusukan benang harus dihitung dengan tepat karena kesalahan kecil dapat memengaruhi bentuk akhir boneka.
"Kalau hitungannya salah sedikit saja, bentuknya pasti tidak sempurna. Itu yang membuat amigurumi lebih rumit," katanya.
Kemampuan Sonia terus berkembang setelah berhasil membuat karya pertamanya. Ia kini mampu menghasilkan beragam karakter, termasuk gadis berhijab hingga figur Jegeg Bali yang dilengkapi detail rambut, pakaian adat dan aksesori.
Karya Jegeg Bali menjadi salah satu produk yang memiliki peminat tinggi. Boneka berukuran sekitar 22 hingga 23 sentimeter tersebut bahkan pernah terjual hingga Rp5 juta kepada pembeli dari luar negeri.
Untuk menghasilkan satu amigurumi premium, Sonia membutuhkan waktu pengerjaan hingga dua bulan. Sementara produk berukuran kecil seperti gantungan kunci dapat diproduksi sekitar lima buah dalam sehari.
"Yang paling rumit itu detail rambut dan bajunya. Semakin detail, semakin lama pengerjaannya," ungkapnya.
Pertumbuhan permintaan membuat Sonia mulai melibatkan tenaga perajin lain. Saat ini, usaha rumahan tersebut telah mempekerjakan enam orang perajin.
Namun, menjaga kualitas menjadi tantangan tersendiri. Sonia tidak bisa sembarangan merekrut tenaga kerja karena setiap produk harus memenuhi standar kerapian yang telah ditetapkan.
"Tidak bisa asal cari orang. Rajutannya harus benar-benar rapi supaya hasilnya sesuai standar," jelasnya.
Baca juga:
Menguak Boneka Arwah yang Viral
Bahan baku utama berupa benang milk cotton didatangkan dari Jakarta dan Bandung. Sementara pemasaran dilakukan melalui media sosial, pameran UMKM, serta penjualan langsung dengan sistem siap kirim maupun pre-order.
Pasarnya juga semakin luas. Sejak 2024, produk amigurumi buatan Sonia mulai rutin dikirim ke luar negeri. Belanda dan Australia menjadi dua negara yang telah menerima karya rajut tersebut.
Selain boneka berukuran premium, Sonia mengembangkan produk yang lebih terjangkau berupa gantungan kunci amigurumi. Produk tersebut dijual mulai Rp35 ribu dan banyak diminati anak-anak karena bentuknya yang unik.
Sebelum terjun sepenuhnya ke dunia usaha kreatif, Sonia pernah bertugas di lingkungan kepolisian di Polres Lampung Tengah. Kini ia memilih meninggalkan pekerjaan tersebut dan fokus mengembangkan bisnis amigurumi dari rumah.
Bagi Sonia, setiap helai benang yang dirajut bukan sekadar menghasilkan boneka. Dari ketekunan merajut, hobi yang bermula saat pandemi berkembang menjadi usaha kreatif yang mampu menjangkau pembeli hingga mancanegara.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rat
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5752 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4590 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2550 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2196 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2185 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan