Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 31 Oktober 2026
Film Dokumenter Hidupkan Kembali Sejarah Tari Kecak di Bedulu
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Pemutaran film dokumenter yang mengisahkan lahirnya Tari Kecak di Desa Adat Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, digelar pada Sabtu malam (19/9/2025).
Pemutaran film bertajuk Die Insel der Dämonen karya sutradara Friedrich Dalsheim ini mendapat sambutan antusias dari masyarakat setempat. Film berdurasi 1 jam 23 menit tersebut menyingkap asal-usul Tari Kecak yang lahir dari ritual keagamaan Hindu di Desa Bedulu pada 1930-an.
Baca juga:
Matta Cinema dan Tempo Kolaborasi Luncurkan 6 Project Film di Busan International Film Festival
Kala itu, Tari Sanghyang Dedari dan Sanghyang Jaran dipentaskan di Pura Goa Gajah dengan iringan suara vokal khas para pria penari. Ritual ini dipercaya sebagai upaya mengusir bencana atau wabah yang diyakini akibat perbuatan ilmu pangleakan.
Inisiatif pemutaran film datang dari Scott F. Bauer, pendiri Usada Bali Ubud. Ia berharap karya tersebut mampu membangkitkan kembali Tari Kecak klasik khas Bedulu.
Pengamat budaya Profesor Wayan Dibia menjelaskan, Tari Kecak lahir berkat kreativitas seniman asal Bedulu, almarhum I Wayan Limbak, yang mendapat dorongan dari pelukis asal Jerman, Walter Spies.
“Kecak diciptakan sebagai bentuk penghormatan agar tarian sakral masyarakat tetap terlindungi, sekaligus menghadirkan pertunjukan seni yang bisa dinikmati wisatawan,” jelas Prof. Dibia.
Limbak menata ulang koreografi Sanghyang Jaran dan Sanghyang Dedari tanpa menyertakan unsur sakralnya. Dari sana lahirlah seni pertunjukan baru bernama Tari Cak atau Kecak.
Meski sempat populer, Tari Kecak Bedulu mengalami pasang surut. Beberapa kali warga berupaya membentuk sekaa Kecak, namun kurangnya minat generasi muda serta minimnya dukungan instansi membuat upaya itu belum berhasil maksimal.
"Seiring perkembangan pariwisata Bali, Tari Kecak pun dipentaskan secara reguler bersama kesenian lain seperti Barong dari Desa Singapadu serta Legong dari Peliatan, Bedulu, dan Blangsinga," tutup Prof. Dibia.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/gnr
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 6040 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4707 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2672 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2365 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2253 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan