Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 10 Agustus 2026
Geger Dubes Cina Bikin Ulah, Tiga Negara Eropa Ini 'Ngamuk'
BERITABALI.COM, DUNIA.
Cina mengatakan bahwa pihaknya menghormati dan mengakui status negara berdaulat seluruh negara bekas Uni Soviet, Senin (24/4/2023).
Pernyataan tersebut dikeluarkan setelah duta besar Cina untuk Prancis membuat sejumlah negara di Eropa 'ngamuk' akibat mempertanyakan kedaulatan negara-negara tersebut.
"Cina menghormati status negara berdaulat dari republik yang berpartisipasi setelah pembubaran Uni Soviet," tegas Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Mao Ning, dikutip dari AFP, Senin (24/4/2023).
Mao mengatakan, Cina sepenuhnya menghormati kedaulatan, kemerdekaan, dan integritas teritorial semua negara dan menjunjung tinggi tujuan dan prinsip Piagam PBB.
"Setelah runtuhnya Uni Soviet, Cina adalah salah satu negara pertama yang menjalin hubungan diplomatik dengan negara-negara terkait," ujar Mao.
"Sejak menjalin hubungan diplomatik, Cina selalu berpegang pada prinsip saling menghormati dan kesetaraan untuk mengembangkan hubungan persahabatan dan kerja sama bilateral," kata Mao.
Sebelumnya, Duta Besar Cina untuk Prancis, Lu Shaye memicu kehebohan setelah menyatakan bahwa negara-negara yang muncul setelah jatuhnya Uni Soviet tidak memiliki status efektif di bawah hukum internasional. Ini karena tidak ada perjanjian internasional yang menegaskan status mereka sebagai negara berdaulat.
Dilaporkan, pernyataan tersebut tidak hanya merujuk ke Ukraina, tetapi juga ke seluruh bekas Uni Soviet yang muncul sebagai negara merdeka setelah jatuhnya Uni Soviet pada 1991, termasuk anggota Uni Eropa (UE).
Komentar Lu pun sontak memicu gelombang kemarahan di seluruh Eropa dan membuat tiga negara baltik Uni Eropa, yakni Estonia, Latvia, dan Lithuania memanggil perwakilan Cina untuk menjelaskan pernyataan tersebut.
Bahkan, Menteri Luar Negeri Lithuania, Gabrielius Landsbergis turut berkomentar melalui akun Twitternya.
"Jika ada yang masih bertanya-tanya mengapa Negara-negara Baltik tidak mempercayai Cina untuk 'memperantarai perdamaian di Ukraina', inilah duta besar Cina yang berpendapat bahwa Krimea adalah Rusia dan perbatasan negara kita tidak memiliki dasar hukum," ucap Landsbergis.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Josep Borrell mengatakan bahwa pernyataan itu tidak dapat diterima. Namun, ia juga menambahkan bahwa UE hanya dapat menganggap pernyataan itu tidak mewakili kebijakan resmi Cina.(sumber: cnbcindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4463 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2235 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1561 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1013 Kali
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 949 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun