Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 29 Juli 2026
Kemarau Panjang, Hutan Gunung Agung Terbakar Lagi
BERITABALI.COM, KARANGASEM.
Hutan di Gunung Agung terbakar lagi. Kemarau panjang dan lahan yang terlalu kering, diduga menjadi penyebab kebakaran. Kebakaran di hutan Gunung Agung terjadi di beberapa titik seperti di lereng utara, di lereng timur, dan di lereng di tenggara. Api dengan cepat menjalar dan sudah dipadamkan.
Terkait hal ini, Wakil Bupati Karangasem I Made Sukerana menyatakan, kebakaran hutan di Gunung Agung bukan disebabkan oleh kelalaian manusia, namun lebih disebabkan oleh faktor alam.
"Kebakaran hutan Gunung Agung ini bukan kareba kelalaian manusia, namun karena kondisi di sana terlalu kering, ditambah lagi musim kemarau yang panjang," ujarnya, di Denpasar (23/10/2012).
Kebakaran di hutan Gunung Agung, jelas Sukerana, terjadi di lima lokasi yakni di Batu Ringgit, Kedampal, Batu Dawa, Juntal, dan Pucang. "Kebakaran di hutan Gunung Agung sulit dipadamkan, apalagi hanya mengandalkan warga dan Pemkab Karangasem saja. Seluruh kabupaten di Bali harusnya ikut membantu karena Gunung Agung ini milik seluruh warga Bali,"ujarnya.
Bulan lalu, hutan di kawasan Gunung Agung bali juga terbakar. Saat itu luas lahan yang terbakar mencapai 60 hektar.
Reporter: bbn/psk
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3895 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2937 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2051 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 2014 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1810 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun