Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 26 Oktober 2026
Kualitas Kopi Rendah, Petani Bali Belum Optimal Terapkan GAP
BERITABALI.COM, BANGLI.
Penerapan Good Agricultural Practices (GAP) yang belum optimal oleh petani kopi di Bali menjadi belum maksimalnya produksi dan masih rendahnya kualitas kopi hasil budidaya di Bali.
GAP merupakan panduan cara budidaya yang baik, benar, ramah lingkungan dan aman dikonsumsi.
“Dari seluruh perkebunan kopi yang ada belum seluruhnya budidaya tanaman dilakukan dengan baik dan benar. Penerapan GAP budidaya tanaman Kopi dapat meningkatkan capaian produksi dan kualitas produk yang dihasilkan,” kata Akademisi Fakultas Pertanian, Universitas Warmadewa, Dr. Ir. I Gusti Bagus Udayana, M.Si saat di konfirmasi di Denpasar pada Jumat (15/7).
Menurut Udayana, peningkatan produksi kopi arabika dapat dicapai dengan strategi intensifikasi melalui optimalisasi penggunaan lahan dan tenaga kerja keluarga yang digunakan serta penerapan GAP, konservasi lahan dan pengendalian hama.
Budidaya pada sisi lain juga mesti memperhatikan kondisi sosial-ekonomi dan ekologi guna mendorong pertumbuhan berkelanjutan yang berorientasi pada standar tertentu.
Ia mengakui upaya sosialisasi penerapan GAP sudah mulai dilakukan, salah satunya kepada Kelompok Tani Dharma Kriya, Desa Belantih, Kintamani Bangli.
Sosialisasi dilakukan dalam bentuk pengabdian masyarakat bersama anggota tim pengabdian lainnya diantaranya Dr. Ir. I Gede Pasek Mangku, MP dan I Ketut Selamet, SE., M.Si.
Secara agroklimat Kabupaten Bangli sangat sesuai untuk pertumbuhan tanaman kopi arabika. Produksi kopi arabika tertinggi terdapat di Kabupaten Bangli.
Produksi kopi arabika pada tahun 2020 di kabupaten ini mencapai 2.249 Ton (53,68 %) dari total produksi kopi arabika di Provinsi Bali.
Keberadaan kopi arabika di Kabupaten Bangli telah mendapat mengakuan nasional dan internasional dengan di kembangkannya sertifikat indikasi geografis.
Mengutip data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Bali tahun 2020 Bangli menjadi satu-satunya kabupaten yang memiliki jumlah produksi kopi arabika tertinggi dibandingkan dengan kabupaten lainya di Provinsi Bali.
Udayana menambahkan khusus dari sisi kualitas yang cenderung rendah disebabkan oleh belum maksimalnya penerapan Good Manufacturing Practices (GMP).
GMP merupakan suatu pedoman atau tata cara manajemen dan cara kerja yang sesuai standar sebuah Negara dalam bentuk prosedur untuk menghasilkan produk yang nantinya akan dijual ke pasar. Penerapan GMP bertujuan untuk menghasilkan biji kopi berkualitas sesuai dengan standar internasional, yaitu ICO 407 dan SNI 01-2907-2008.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/mul
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5831 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4598 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2563 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2207 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2191 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan