Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 30 Juli 2026
Kualitas Kopi Rendah, Petani Bali Belum Optimal Terapkan GAP
BERITABALI.COM, BANGLI.
Penerapan Good Agricultural Practices (GAP) yang belum optimal oleh petani kopi di Bali menjadi belum maksimalnya produksi dan masih rendahnya kualitas kopi hasil budidaya di Bali.
GAP merupakan panduan cara budidaya yang baik, benar, ramah lingkungan dan aman dikonsumsi.
“Dari seluruh perkebunan kopi yang ada belum seluruhnya budidaya tanaman dilakukan dengan baik dan benar. Penerapan GAP budidaya tanaman Kopi dapat meningkatkan capaian produksi dan kualitas produk yang dihasilkan,” kata Akademisi Fakultas Pertanian, Universitas Warmadewa, Dr. Ir. I Gusti Bagus Udayana, M.Si saat di konfirmasi di Denpasar pada Jumat (15/7).
Menurut Udayana, peningkatan produksi kopi arabika dapat dicapai dengan strategi intensifikasi melalui optimalisasi penggunaan lahan dan tenaga kerja keluarga yang digunakan serta penerapan GAP, konservasi lahan dan pengendalian hama.
Budidaya pada sisi lain juga mesti memperhatikan kondisi sosial-ekonomi dan ekologi guna mendorong pertumbuhan berkelanjutan yang berorientasi pada standar tertentu.
Ia mengakui upaya sosialisasi penerapan GAP sudah mulai dilakukan, salah satunya kepada Kelompok Tani Dharma Kriya, Desa Belantih, Kintamani Bangli.
Sosialisasi dilakukan dalam bentuk pengabdian masyarakat bersama anggota tim pengabdian lainnya diantaranya Dr. Ir. I Gede Pasek Mangku, MP dan I Ketut Selamet, SE., M.Si.
Secara agroklimat Kabupaten Bangli sangat sesuai untuk pertumbuhan tanaman kopi arabika. Produksi kopi arabika tertinggi terdapat di Kabupaten Bangli.
Produksi kopi arabika pada tahun 2020 di kabupaten ini mencapai 2.249 Ton (53,68 %) dari total produksi kopi arabika di Provinsi Bali.
Keberadaan kopi arabika di Kabupaten Bangli telah mendapat mengakuan nasional dan internasional dengan di kembangkannya sertifikat indikasi geografis.
Mengutip data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Bali tahun 2020 Bangli menjadi satu-satunya kabupaten yang memiliki jumlah produksi kopi arabika tertinggi dibandingkan dengan kabupaten lainya di Provinsi Bali.
Udayana menambahkan khusus dari sisi kualitas yang cenderung rendah disebabkan oleh belum maksimalnya penerapan Good Manufacturing Practices (GMP).
GMP merupakan suatu pedoman atau tata cara manajemen dan cara kerja yang sesuai standar sebuah Negara dalam bentuk prosedur untuk menghasilkan produk yang nantinya akan dijual ke pasar. Penerapan GMP bertujuan untuk menghasilkan biji kopi berkualitas sesuai dengan standar internasional, yaitu ICO 407 dan SNI 01-2907-2008.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/mul
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3905 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 3017 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2069 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 2037 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1822 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun