Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 18 Agustus 2026
LIPI: Edukasi Kebencanaan Penting bagi Warga di Lokasi Rawan
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Kondisi geografis menjadikan Indonesia unggul dalam potensi alam namun rawan bencana. Karenanya, pengetahuan lokal dalam manajemen pengelolaan bencana menjadi hal penting yang diketahui masyarakat di wilayah rawan bencana.
"Kalau pengelolaan bencana harus berbasis struktural dan non struktural. Struktural antara lain teknologi peringatan dini, alat pendeteksi bencana. Sedangkan, non struktural merupakan suatu pendidikan kebencanaan yang memberikan pertolongan pertama kali saat bencana itu terjadi,” kata, Kepala Pusat Penelitian Kependudukan LIPI Herry Jogaswara dalam keterangan tertulis dikutip dari Liputan6.com, Jumat (27/8/2021).
Herry menyatakan, masyarakat Indonesia yang berada di wilayah rawan bencana harus diedukasi dan diberikan materi yang berkaitan dengan kebencanaan. Salah satu upaya yang dilakukan oleh LIPI yaitu melakukan studi lapangan terkait di Pulau Sebesi, yang lokasi tak jauh dari Gunung Anak Krakatau.
Berdasarkan studi LIPI di masyarakat Pulau Sabesi dengan topik ‘Krakatau dalam Pandangan Masyarakat Sebesi: Antara Berkah dan Bencana’. Hasilnya menyatakan, pulau tersebut menjadi lumpuh komunikasi dan terisolasi.
"Survei dilakukan dengan wawancara pada 13-16 Oktober 2020. Pulau Sebesi, sebagai pulau yang posisinya hanya 20 KM (sekitar 10,7 mil laut) dari Gunung Krakatau dan tak luput dari sapuan tsunami," papar Herry.
Ditambahkan oleh Devi, peneliti LIPI, aktivitas Anak Krakatau tak lepas dari gemuruh, letusan kecil yang mengeluarkan asap, bau belerang, hujan debu vulkanik hingga tsunami di 2018 sudah biasa dirasakan oleh masyarakat di Pulau Sebesi. Tapi menariknya, lanjut Devy, risiko tinggi yang dihadapi tidak serta merta membuat masyarakat meninggalkan Pulau Sebesi.
"Bagi sebagian besar warga Sebesi, ketika ada aktivitasnya, maka mereka yakin Anak Krakatau tidak akan membahayakan mereka,” kata Devy.
Menurut hasil penelitian, sambung Devy, ketika Anak Krakatau cenderung sepi aktivitas dan diam dalam periode waktu yang cukup lama, maka masyarakat justru mempertanyakan dan mengkhawatirkan kondisi ini.
Namun Devy berharap, dengan penelitian dan edukasi diberikan LIPI, pandangan masyarakat bisa mulai berubah. Terlepas trauma berat pada masyarakat Sebesi sebab bencana tsunami 2018.
Diketahui, kondisi alam Anak Krakatau membuat Pulau Sebesi menjadi salah satu unggulan destinasi wisata bahari oleh pemerintah Lampung. Pantai di pulau tersebut memiliki pemandangan yang indah dan berhadapan langsung dengan Anak Krakatau.
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4563 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2367 Kali
Pria 28 Tahun Diduga Tewas Gantung Diri di Belakang Rumah Payangan
Dibaca: 2020 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1632 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1070 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun