Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 8 September 2026
Mecolek-Colekan Adeng, Tradisi Banyuning Memukau PKB 2026
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Teriakan riang anak-anak, permainan tradisional, dan kearifan lokal Desa Banyuning mewarnai penampilan Duta Gong Kebyar Anak-Anak Kabupaten Buleleng pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, Minggu (21/6) malam.
Sanggar Seni Suara Mustika yang dipercaya menjadi wakil Kabupaten Buleleng berhasil memukau ratusan penonton melalui sajian Tari Dolanan Mecolek-Colekan Adeng, sebuah tradisi rakyat khas Banyuning yang berkembang menjadi permainan anak-anak dan kini mulai jarang dijumpai dalam pertunjukan modern.
Penampilan tersebut menjadi salah satu daya tarik utama yang membedakan sajian Buleleng dari peserta lainnya. Melalui garapan tari yang sarat pesan budaya, para penampil tidak hanya menyuguhkan hiburan, tetapi juga menghidupkan kembali memori kolektif masyarakat tentang permainan tradisional yang mengajarkan nilai kebersamaan, sportivitas, dan kegembiraan masa kanak-kanak.
Ketua Sanggar Seni Suara Mustika, Made Wira Okta Atmadi, menjelaskan bahwa Tari Dolanan Mecolek-Colekan Adeng merupakan satu dari tiga materi yang dibawakan pada penampilan tersebut. Selain tari dolanan, sanggar juga menampilkan Tabuh Kreasi Pepanggulan Sudha Citta dan Tari Kreasi Penyambutan Kembang Deeng.
Menurut Wira, tradisi Mecolek-Colekan Adeng berakar dari tradisi masyarakat Banyuning yang dilaksanakan saat Piodalan di Pura Pemayun Banyuning. Seiring waktu, tradisi tersebut berkembang menjadi permainan yang akrab dimainkan anak-anak di lingkungan masyarakat setempat.
Dalam berbagai permainan tradisional seperti mececimpedan dan meatma-atmaan, mecolek-colekan adeng biasanya diberikan sebagai hukuman ringan bagi peserta yang kalah. Tradisi sederhana itu kemudian diangkat menjadi sebuah karya tari dolanan yang merepresentasikan nilai kebersamaan dan kegembiraan anak-anak Bali.
Selain mengangkat tradisi lokal Banyuning, Sanggar Seni Suara Mustika juga membawakan Tabuh Kreasi Pepanggulan Sudha Citta. Karya tersebut terinspirasi dari perjalanan spiritual Siddhartha Gautama dalam mencapai pencerahan dan penyucian batin.
Melalui komposisi tabuh yang dinamis, karya ini menggambarkan perjalanan manusia dalam mencari kejernihan pikiran, ketenangan jiwa, dan keseimbangan hidup.
Sementara itu, Tari Kreasi Penyambutan Kembang Deeng hadir sebagai simbol kelembutan dan keramahtamahan perempuan Buleleng. Tarian yang terinspirasi dari tradisi pedeengan dalam upacara pengabenan ini dibawakan secara berkelompok dengan gerak yang anggun dan penuh estetika.
Persiapan menuju PKB 2026 telah dimulai sejak Februari lalu. Sebelum ditetapkan sebagai Duta Kabupaten Buleleng, Sanggar Seni Suara Mustika terlebih dahulu mengikuti proses seleksi di tingkat kabupaten bersama sejumlah peserta lainnya.
“Tantangan terbesar tentu karena kami membina anak-anak. Karakter mereka berbeda-beda dan kedisiplinan dalam mengikuti latihan menjadi tantangan tersendiri. Namun berkat dukungan orang tua, pelatih, dan semangat anak-anak, seluruh proses persiapan dapat berjalan dengan baik,” ujarnya.
Melalui penampilan di panggung Ardha Candra, Sanggar Seni Suara Mustika berharap dapat memperkenalkan tradisi dan permainan rakyat yang hidup di tengah masyarakat Buleleng kepada generasi muda Bali sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap seni budaya daerah.
“Semoga penampilan hari ini dapat memukau penonton dan menggugah anak-anak di luar sana untuk mau belajar menggambel, menari, serta ikut melestarikan seni dan budaya Bali,” pungkasnya.
Editor: Redaksi
Reporter: Diskominfo Buleleng
Berita Terpopuler
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3212 Kali
Anak-anak Bakar Tisu, Rumah di Banyuning Buleleng Ludes Terbakar
Dibaca: 708 Kali
Desil Warga Jehem Bangli Lompat dari 2 ke 7, Ini Masalahnya
Dibaca: 662 Kali
ABOUT BALI
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman