Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 4 Agustus 2026
Nasib Jembatan Belanda di Atas Wihara Blahbatuh Tunggu PUPR Jatim-Bali
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Jembatan era Belanda yang di bawahnya terdapat wihara Amurpa Bhumi di Blahbatuh, hingga kini belum tertangani. Kondisi jembatan yang putus tali sling besi sementara hanya ditutup. Bahkan, wihara ikut ditutup.
Dari pihak Balai Besar PUPR Jatim-Bali telah mendatangi lokasi jembatan Belanda itu. Kru dari Balai sedang melakukan pengecekan terkait konstruksi jembatan.
Kapolsek Blahbatuh Kompol Made Tama ikut dalam pengecekan dan mendampingi tim dari balai. "Telah dilakukan pengecekan terhadap jembatan kuno, peninggalan Belanda. Sementara diobservasi dulu," ujar Kompol Tama.
Dikatakan bahwa jembatan sepanjang 60 meter dengan lebar 5 meter. Jembatan membentang menyambung wilayah Kemenuh, Sukawati dengan Blahbatuh. Sedangkan posisi wihara berada di wilayah Blahbatuh. Untuk masuk wihara, pintunya berada di sebelah pintu jembatan Belanda.
"Observasi ini sebagai tindakan selanjutnya, apa yang harus diambil," jelasnya.
Mengingat di bawah jembatan itu berada wihara, sehingga perlu metode khusus untuk menangani jembatan agar tidak mengenai bangunan wihara di bawah jembatan.
Sementara itu, dari polisi hanya bisa meminimalisir. "Dari kami memasang police line dan mensterilkan lokasi untuk antisipasi hal yang tidak diinginkan," jelas dia.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/gnr
Berita Terpopuler
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 432 Kali
Harga Pertamax Series Turun Mulai 1 Agustus, Ini Rinciannya
Dibaca: 362 Kali
Bali Siaga Kekeringan, Buleleng-Jembrana Diprediksi Terdampak
Dibaca: 308 Kali
KPU Bali Temukan Ribuan Data Pemilih Belum Sinkron
Dibaca: 226 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun