Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Perahu Selerek Jarah Lahan Nelayan Tradisional

Beritabali.com, Mendoyo

Rabu, 27 Januari 2010, 17:15 WITA Follow
Beritabali.com

Beritabali.com

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, JEMBRANA.

Pelemparan batu oleh nelayan tradisional di Medewi, Pekutatan tidak membuat nelayan perahu selerek (perahu besar/kapal ikan) menghentikan aksinya. Mereka malah meneruskan aksinya menjarah lahan milik nelayan tradisional dan meluaskan daerah jarahannya hingga mencapai wilayah tangkapan nelayan tradisional di Yeh Sumbul, Mendoyo. 

Sejak empat hari yang lalu, nelayan tradisional Yeh Sumbul dirisaukan oleh kehadiran nelayan selerek yang menjarah ikan di wilayah tangkapannya. Awalnya, jumlah nelayan selerek hanya satu dua perahu saja namun lama kelamaan jumlahnya terus bertambah hingga mencapai 40-40 perahu selerek perharinya.

Tentunya kondisi ini membuat hasil tangkapan nelayan tradisional terus merosot lantaran sarana penangkapan ikan mereka kalah jauh dibanding alat tangkap perahu selerek itu. Kehadiran nelayan selerek itulah membuat hasil tangkapan kami anjlok sehingga kami sangat keberatan, ujar Sofyan, nelayan tradisional Yehsumbul ketika ditemui, Rabu (27/1).

Menurutnya aksi nelayan selerek itu jelas-jelas melanggar ketentuan lantaran mereka semestinya beroperasi di luar batas lima mil dari tepi pantai. Sebelum adanya nelayan selerek itu, satu jukung sangat mudah untuk menghasilkan Rp.300 ribu. Tapi sekarang, jangankan untuk makan digunakan untuk biaya operasional dan BBM saja tidak cukup, akunya.

Selain nelayan tradisional, imbuh Sopyan, ibu-ibu rumah tangga yang nyambi menjadi pedagang ikan juga dirugikan karena minimnya hasil tangkapan dari nelayan tradisional.

Mereka sangat tergantung dengan hasil tangkapan kami kalau kami dapatnya banyak mereka bisa menjualnya kembali. Sekarang, mereka terancam kehilangan penghasilan karena tidak dapat ikan untuk dijualnya kembali, jikapun dapat, jumlahnya tidak seberapa,” ungkapnya.

Ketua Himpunan Nelayan Yeh Sumbul, Suharmin ketika ditemui terpisah, Rabu (27/1) mengatakan akibat penjarahan yang dilakukan nelayan selerek yang diduga dari Pengambengan dan Perancak itu membuat 90 orang anggotanya kehilangan penghasilan.

Tidak itu saja, kami juga menerima laporan 30 jaring milik anggota kami hilang yang diduga disapu oleh nelayan selerek, imbuhnya.

Suharmin mengaku kalau anggotanya pernah menegur nelayan selerek tersebut namun yang didapatnya malah ancaman akan ditabrak.
Kami hanya bisa mengalah karena perahu kami jauh lebih kecil, keluhnya.

Menurut Suharmin, pihaknya telah melaporkan kondisi ini kepada pengawas yang ada di Pengambengan dan Pekutatan namun hingga kini belum ada tanggapan. Kami meminta agar masalah ini segera disikapi sehingga tidak berlarut-larut,” pintanya.

Kadis Pertanian Kehutanan dan Kelautan (PKL) Jembrana, IGN Sandjaja ketika dikonfirmasi, Rabu (27/1) mengatakan untuk mengatasi persolan tersebut, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pengawas dan Satker di Pengambengan.

Dari laporan yang kami terima, ada indikasi nelayan selerek itu melanggar jalur operasional kapal dan merusak jaring milik nelayan tradisional, tandasnya.

Terkait indikasi pelanggaran jalur operasional dan perusakan jaring nelayan tradisional, imbuh Sandjaja, pihaknya akan melakukan pemanggilan kepada seluruh pemilik kapal purse seine untuk diberikan pembinaan agar tak lagi beroperasi pada jalur yang bukan peruntukannya. Jika nantinya terbukti melanggar, sesuai dengan UU No 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, sanksinya bisa mencapai dua miliar, tandasnya.

Terkait dengan perijinan kapal purse seine, Sandjaja mengaku masih memerlukan koordinasi dengan Dinas Kelautan Propinsi Bali karena ijin operasional kapal purse seine di atas 10 GT dikeluarkan oleh propinsi. Saat ini kami belum menerima tembusan ijin-ijin yang telah dikeluarkan propinsi. Namun yang pasti kami akan memeriksa seluruh ijin kapal purse seine yang ada, tegasnya. 

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/ctg



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami