Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Minggu, 27 September 2026
Sperma Tumpah di Luar Vagina, Apa Bisa Bikin Hamil?
Seksologi dr Oka Negara, FIAS
Minggu, 19 Agustus 2018,
12:15 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar. Tanya: “Dok, beberapa waktu lalu aku berhubungan intim dengan pacar, beberapa kali dalam satu malam, nggak pake kondom. Sperma aku tumpain di luar vagina, tapi tanpa aku perkirakan ada sedikit yang terdorong ke dalam. Apakah pacarku bisa hamil jika ada sedikit sperma di bibir vagina yang ikut terdorong ke dalam lagi. Tolong di jelaskan dan apa solusinya jika pacarku hamil. Terima kasih.” (Robby,23).
Jawab: Hubungan seksual yang dilakukan dengan mengatur agar pengeluaran sperma atau ejakulasi terjadi di luar vagina disebut senggama terputus atau coitus interruptus. Sebenarnya cara ini merupakan salah satu cara sederhana untuk mencegah kehamilan. Tetapi ternyata keberhasilannya dalam mencegah kehamilan tidak cukup memuaskan. Kegagalannya cukup sering terjadi mengingat banyak laki-laki yang kesulitan untuk benar-benar bisa mengontrol ejakulasinya, atau dalam kasus ini malah sperma yang sudah diejakulasikan diluar vagina, segera terdorong kembali sebagian ke dalam vagina.
Logika awam banyak yang memperkirakan bahwa kalau tidak ada sperma yang masuk ke vagina, maka tidak mungkin terjadi kehamilan. Memang kalau tidak ada sperma yang masuk sama sekali, pasti kehamilan tidak akan terjadi. Masalahnya, sekali lagi, sering kali terjadi kegagalan buat mengontrolnya. Ini adalah satu-satunya alasan kegagalan yang cukup tinggi dari senggama terputus. Pada senggama terputus tidak selalu terjamin tidak ada sperma yang masuk ke dalam vagina. Karena itu kegagalan sanggama terputus cukup tinggi.
Demikan juga, sel spermatozoa hanya dapat bertahan hidup pada media tertentu dengan pH normal. Itu adalah di dalam lingkungan vagina, sedangkan di luar tubuh akan segera mati. Tetapi tetap saja masih ada usia hidup di luar tubuh sekitar setengah sampai satu jam, jadi jika belum lewat durasi itu ada sperma yang kembali terdorong ke dalam, maka memunculkan kemungkinan terjadi kehamilan.
Asal memang di pihak perempuan juga sedang dalam masa subur. Kehamilan dimungkinkan terjadi kalau ada pertemuan antara sel spermatozoa dan sel telur. Karena sel telur hanya dikeluarkan pada saat tertentu, yaitu pada saat wanita mengalami masa subur, maka hanya hubungan seksual yang dilakukan pada masa subur, yang mungkin menimbulkan kehamilan. Di luar masa subur, hubungan seksual tidak akan menimbulkan kehamilan.
Senggama terputus makin banyak dilakukan remaja yang sudah berhubungan seksual, seiring dengan derasnya sumber informasi keliru yang didapat. Baik itu lewat pergaulan sebaya hingga media, seperti video porno hingga informasi di internet. Tujuannya jelas memang untuk menghindari terjadinya kehamilan tanpa perlu menggunakan alat kontrasepsi.
Sesungguhnya informasi tentang senggama terputus pastilah menjamin seratus persen hubungan seksual yang dilakukan bisa terhindar dari kehamilan tentu saja keliru. Karena sekali lagi, kegagalannya cukup tinggi. Ini juga serupa dengan banyaknya informasi keliru lain seperti sebuah mitos yang menyebutkan loncat-loncat setelah berhubungan seks tidak akan menyebabkan kehamilan. Faktanya, ketika sperma sudah memasuki vagina, maka sperma akan mencari sel telur yang telah matang untuk dibuahi. Loncat-loncat tidak akan mengeluarkan sperma. Jadi, tetap ada kemungkinan untuk terjadinya pembuahan atau kehamilan.
Mitos serupa masih banyak beredar dan dipercaya. Pengaruhnya masih sangat kuat, bahkan juga di antara para anak muda yang justru sedang butuh atau sedang giat-giatnya mencari informasi tentang seks dan kesehatan reproduksi. Banyak yang mempercayai informasi yang belum tentu benar, sehingga tidak jarang kita temui kasus-kasus yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi bermula dari keyakinan yang salah. Hal itu terjadi karena tidak lengkapnya informasi tentang kesehatan reproduksi yang bisa diakses oleh remaja, baik melalui lembaga formal seperti sekolah, keluarga atau masyarakat pada umumnya.
Lalu, kalau terjadi kehamilan, apa yang mesti dilakukan? Tentu saja kehamilannya harus dipertanggung jawabkan. Dan jika dilihat dari usianya, maka jawaban yang lebih tepat adalah dengan menikah dan melanjutkan kehamilan. Kecuali memang ada pertimbangan medis lain yang tidak memungkinkan kehamilan dilanjutkan.[bbn/dr oka negara/psk]
Berita Denpasar Terbaru
Berita Premium
Reporter: bbn/psk
Berita Terpopuler
01
Sopir Truk di Muncan Karangasem Dibakar Hidup-hidup, Diduga Soal Setoran
Dibaca: 8480 Kali
02
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5829 Kali
03
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3654 Kali
04
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2483 Kali
05
ABOUT BALI
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Jumat, 11 September 2026
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Selasa, 1 September 2026