Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 11 Juni 2026
Suryani Institute dan FK Unud Edukasi Kesehatan Mental di Siswa SMAN 1 Semarapura
BERITABALI.COM, KLUNGKUNG.
Suryani Institute for Mental Health (SIMH) bekerja sama dengan Program Studi Spesialis Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana menggelar Sosialisasi Kesehatan Jiwa Remaja di SMAN 1 Semarapura, Kabupaten Klungkung, Jumat (5/6/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya promotif dan preventif untuk meningkatkan literasi kesehatan mental di kalangan remaja sekaligus mendeteksi dini berbagai permasalahan kesehatan jiwa yang berpotensi memengaruhi kualitas hidup dan prestasi belajar siswa.
Acara diawali dengan sambutan dari Wakil Kepala Sekolah Bidang Penjaminan Mutu SMAN 1 Semarapura, Ni Made Deasy Dewayanti, S.Si., M.Pd., yang menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut.
Baca juga:
Suryani Institute dan FK Unud Edukasi Kesehatan Mental Mahasiswa UIN Walisongo Lewat Meditasi
"Kami menyampaikan terima kasih kepada Suryani Institute for Mental Health dan Program Studi Spesialis Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana yang telah memilih SMAN 1 Semarapura sebagai lokasi kegiatan ini. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi remaja saat ini, edukasi mengenai kesehatan mental menjadi sangat penting. Kami berharap para siswa dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar mengenali kondisi psikologis diri sendiri serta membangun kebiasaan hidup yang lebih sehat secara mental," ujarnya.
Selanjutnya, peserta mendapatkan pemaparan mengenai pentingnya kesehatan jiwa remaja dari Prof. Dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, dr., Sp.K.J., Subsp.K.(K), MARS. Ia menekankan bahwa masa remaja merupakan fase penting dalam pembentukan identitas diri sehingga kesehatan mental perlu mendapatkan perhatian khusus.
"Remaja menghadapi berbagai tantangan perkembangan, mulai dari tekanan akademik, relasi sosial, hingga pengaruh media digital. Oleh karena itu, pemahaman mengenai kesehatan mental dan kemampuan mencari bantuan ketika mengalami masalah psikologis menjadi sangat penting," ujar Prof. Cokorda Bagus Jaya Lesmana.
Materi mengenai depresi dan kecemasan pada remaja disampaikan oleh dr. Dewa Ayu Bintang Kartika dari Program Studi Spesialis Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Dalam paparannya, ia menjelaskan berbagai tanda awal depresi dan gangguan kecemasan yang sering dialami remaja, seperti perubahan suasana hati, gangguan tidur, menurunnya motivasi belajar, hingga kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial.
"Depresi dan kecemasan bukanlah bentuk kelemahan pribadi. Kondisi ini dapat dialami siapa saja dan perlu dikenali sejak dini agar dapat ditangani dengan tepat. Dukungan keluarga, sekolah, dan teman sebaya sangat berperan dalam proses pemulihan," jelas dr. Bintang.
Sementara itu, materi tentang adiksi gadget pada remaja dibawakan oleh dr. I Made Peri Ardiana Kusuma. Peserta diajak memahami dampak penggunaan gawai yang berlebihan terhadap kesehatan mental, kualitas tidur, kemampuan konsentrasi, dan hubungan sosial.
"Teknologi memberikan banyak manfaat, namun penggunaan yang tidak terkontrol dapat memicu berbagai masalah psikologis dan sosial. Remaja perlu memiliki kemampuan mengatur waktu penggunaan gadget agar tetap produktif dan sehat secara mental," ungkap dr. Peri.
Selain sesi edukasi, kegiatan ini juga menghadirkan skrining kesehatan mental berbasis aplikasi digital Harmoni Jiwa yang dikembangkan oleh Ketua Program Studi Magister Informatika Universitas Udayana, Cokorda Rai Adi Pramartha, S.T., M.M.S.I., Ph.D.
Aplikasi tersebut merupakan hasil proyek KONEKSI, kolaborasi antara pemerintah Australia dan Indonesia yang melibatkan Universitas Udayana dan University of Sydney untuk mendukung pengembangan kebijakan serta teknologi yang inklusif dan berkelanjutan.
Melalui Harmoni Jiwa, siswa dapat melakukan penilaian awal terhadap kondisi kesehatan mental mereka secara mudah, cepat, dan rahasia. Hasil skrining diharapkan mampu meningkatkan kesadaran diri sekaligus membantu identifikasi dini siswa yang membutuhkan pendampingan lebih lanjut.
Salah satu peserta, Gangga, mengaku memperoleh banyak wawasan baru terkait kesehatan mental melalui kegiatan tersebut.
"Saya baru memahami bahwa rasa sedih berkepanjangan dan cemas berlebihan tidak boleh dianggap sepele. Materi yang diberikan sangat mudah dipahami dan membuat saya lebih peduli terhadap kesehatan mental diri sendiri maupun teman-teman. Skrining melalui aplikasi juga sangat membantu karena membuat kami bisa mengenali kondisi mental kami secara lebih baik," ujar Gangga.
Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari pihak sekolah maupun para siswa. Selain pemberian edukasi dan skrining kesehatan mental, kegiatan juga diakhiri dengan penyerahan cinderamata kepada pihak sekolah serta pemberian buku Hope and Freedom karya Rudi Waisnawa sebagai bagian dari upaya pencegahan praktik pemasungan terhadap orang dengan gangguan jiwa.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
ABOUT BALI
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli