Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 28 Juli 2026
Astuti Diduga Diracun
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Kematian Fajar Astuti yang ditemukan tewas dua hari lalu (19/2), di Hotel Griya Anyar Jalan Kargo permai diduga tewas karena diracun. Korban diduga mengalami pendarahan jantung, hati dan perut.
Kapolsek Denbar AKP IB Mantra yang dihubungi terpisah mengatakan, belum menemukan indikasi seperti itu.
Penyelidikan masih berjalan dan sejumlah saksi sudah diperiksa. Sementara ini, jelas Kapolsek, aparat kepolisian belum menerima hasil otopsi. “Otopsi belum kita terima. Penyebab kematiannya belum diketahui,” paparnya.
Menyangkut pria misterius yang disebut-sebut pacar korban, belum diketahui keberadaannya. Petugas kini masih mendalami siapa orang terdekat korban selain suaminya. “Masih lidik, saksi sudah diperiksa. Sekarang penyelidikan mengarah ke pria yang dikatakan pacar korban,” ucap mantan Kapolsek Kuta Utara ini.
Tewasnya Fajar Astuti di Hotel Griya Taman Sari kamar C30 Jalan Pondok Indah Kargo Denpasar, sangat misterius. Tidak ada luka yang serius dibagian luar tubuh wanita asal Dauh Pala Dauh Pekan Tabanan ini Kematiannya, seperti telah direncanakan. Menurut sumber, Astuti tewas karena diracun. “Dibagian jantung hati dan perut ada pendarahan,” beber sumber.
Reporter: bbn/bgl
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3878 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2396 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2011 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1931 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1792 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun