Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Selasa, 28 Juli 2026
30% dari 100 Ribu Kematian Balita Disebabkan Diare
Sanur
Minggu, 8 Juni 2008,
14:55 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Direktur Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman, Direktorat Jenderal Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum, Susmono mengatakan kematian balita (bawah lima tahun) akibat penyakit diare mencapai sekitar 30% dari setiap 100.000 kematian balita di Indonesia tiap tahun.
“Setiap kematian 100.000 balita di Indonesia per tahun, tercatat ada sekitar 31.200 orang atau 30% lebih disebabkan menderita diare sebagai akibat buruknya sanitasi,†ujar Susmono, usai membuka Lomba Menggambar dan Pidato bagi Anak-anak Sekolah Dasar (SD) dengan tema ‘Menjaga Air Sumber Kehidupan’, Minggu (8/6) di Sanur.
Menurut Susmono, jika dikaitkan dengan akses ke toilet atau jamban di setiap keluarga di Indonesia, sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2006, menyebutkan bahwa baru 55% rumah tangga yang memiliki akses sanitasi dan toilet secara memadai. Itu artinya masih ada sekitar 100 juta masyarakat Indonesia yang hidup dengan sanitasi buruk.
Terkait hal tersebut, saat ini terus digencarkan kampanye nasional program Tahun Sanitasi Internasional (IYS) 2008. Tujuannya untuk mempromosikan sanitasi sebagai faktor penting untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.
Sanitasi yang baik akan berdampak positif pada pengurangan kemiskinan dan pembangunan sosial, karena akan mengurangi penyakit, meningkatkan gizi anak, meningkatkan daya tangkap anak sekolah serta sekaligus meningkatkan produktivitas bagi orang dewasa.
Melalui kampanye nasional IYS 2008 ini, pemerintah dihimbau mengambil tindakan untuk mengatasi sanitasi buruk dan mengalokasikan dana untuk pembangunan prasarana sanitasi.
“Kampanye ini juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk secara swadaya membangun MCK (mandi cuci kakus) yang benar atau sesuai standar kesehatan
dan lingkungan, serta menjadikan sanitasi dan kebersihan sebagai budaya atau kebiasaan,†papar Susmono.
Dipilihnya anak-anak SD dalam peserta lomba tersebut, menurut Susmono, karena anak-anak dinilai memiliki efek ganda bila diberikan pendidikan. Yakni selain untuk dirinya sendiri juga akan bercerita dan akan sampai kepada orang tuanya.
Lagi pula, dalam jangka panjang sekitar 11 tahun ke depan, akan mampu membentuk pola pikir yang lebih baik pada diri si anak tentang sanitasi dan peranan air dalam kehidupan. (sss)
“Setiap kematian 100.000 balita di Indonesia per tahun, tercatat ada sekitar 31.200 orang atau 30% lebih disebabkan menderita diare sebagai akibat buruknya sanitasi,†ujar Susmono, usai membuka Lomba Menggambar dan Pidato bagi Anak-anak Sekolah Dasar (SD) dengan tema ‘Menjaga Air Sumber Kehidupan’, Minggu (8/6) di Sanur.
Menurut Susmono, jika dikaitkan dengan akses ke toilet atau jamban di setiap keluarga di Indonesia, sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2006, menyebutkan bahwa baru 55% rumah tangga yang memiliki akses sanitasi dan toilet secara memadai. Itu artinya masih ada sekitar 100 juta masyarakat Indonesia yang hidup dengan sanitasi buruk.
Terkait hal tersebut, saat ini terus digencarkan kampanye nasional program Tahun Sanitasi Internasional (IYS) 2008. Tujuannya untuk mempromosikan sanitasi sebagai faktor penting untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.
Sanitasi yang baik akan berdampak positif pada pengurangan kemiskinan dan pembangunan sosial, karena akan mengurangi penyakit, meningkatkan gizi anak, meningkatkan daya tangkap anak sekolah serta sekaligus meningkatkan produktivitas bagi orang dewasa.
Melalui kampanye nasional IYS 2008 ini, pemerintah dihimbau mengambil tindakan untuk mengatasi sanitasi buruk dan mengalokasikan dana untuk pembangunan prasarana sanitasi.
“Kampanye ini juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk secara swadaya membangun MCK (mandi cuci kakus) yang benar atau sesuai standar kesehatan
dan lingkungan, serta menjadikan sanitasi dan kebersihan sebagai budaya atau kebiasaan,†papar Susmono.
Dipilihnya anak-anak SD dalam peserta lomba tersebut, menurut Susmono, karena anak-anak dinilai memiliki efek ganda bila diberikan pendidikan. Yakni selain untuk dirinya sendiri juga akan bercerita dan akan sampai kepada orang tuanya.
Lagi pula, dalam jangka panjang sekitar 11 tahun ke depan, akan mampu membentuk pola pikir yang lebih baik pada diri si anak tentang sanitasi dan peranan air dalam kehidupan. (sss)
Berita Denpasar Terbaru
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3883 Kali
02
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2796 Kali
03
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2028 Kali
04
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1969 Kali
05
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1801 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Sabtu, 18 Juli 2026
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Selasa, 16 Juni 2026
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Senin, 25 Mei 2026
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Senin, 18 Mei 2026
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Selasa, 5 Mei 2026