Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Jejak Pelabuhan Dagang Kuta

Jumat, 24 Oktober 2008, 09:05 WITA Follow
Beritabali.com

Beritabali.com

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, BADUNG.

Pantai Jerman di bagian selatan Kuta, di dekat Tuban, pada awalnya adalah pelabuhan Kuta di mana para pedagang dari luar Bali berlabuh. Nama Tuban di daerah ini berawal dari adanya saudagar dari kota Tuban di Jawa Timur yang berlabuh dan membangun komunitas di sini. Mereka menambatkan perahu di pelabuhan lalu berdagang di kawasan Kuta sekitar pantai yang paling terkenal saat ini.


Adapun nama pantai Jerman muncul karena dulunya daerah ini merupakan perumahan warga Jerman di Kuta.


Tapi kini pelabuhan dan perumahan itu sudah tidak ada bekasnya sama sekali. Masih ada pura di mana mereka yang baru datang saat itu bersembahyang ketika baru sampai. Sedangkan bekas pelabuhan dan perumahan sudah habis dikikis air laut.

 


Sejarah soal pelabuhan ini bisa dibaca dari laporan Pierre Dubois, Wakil Pemerintahan Hindia Belanda yang tinggal di Kuta pada April 1827. Dalam laporannya itu, ia memberikan gambaran mengenai perkembangan politik di Bali dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di Kuta.


Pierre Dubois dalam kedudukannya sebagai civiel gezaghebber Pemerintah Belanda, diizinkan untuk tinggal di Kuta yang merupakan pelabuhan yang terpenting di Bali Selatan waktu itu. Kuta (dahulu disebut Coutaen) merupakan pelabuhan tempat penyaluran pemasukan barang impor dan pengeluaran barang ekspor hasil bumi daerah Bali Selatan.


Daerah Kuta termasuk jurisdiksi kekuasaan kerajaan Kesiman. Dalam menjalankan tugasnya di Badung, Dubois mendapat bantuan dari Raja Kesiman. Dubois menceritakan bahwa pelabuhan Kuta di bagian pantai barat dan pantai timurnya dihuni oleh penduduk campuran yang terdiri dari orang-orang Bali yang kebanyakan nelayan dan para pedagang Cina dan Bugis.

 


Dalam laporannya, Dubois menceritakan bahwa pada saat itu Kuta dihuni kurang lebih 400 keluarga Bali dan 40 keluarga Cina dan Bugis. Diantara keluarga Bali yang bermukim di Kuta, banyak diantaranya adalah pelarian dari kerajaan lain karena tersangkut suatu perkara. Dengan bermukim di Kuta, berusaha agar terhindar dari hukuman yang dikenakan terhadap mereka. Oleh karena penduduknya terdiri campuran banyak suku, maka di Kuta sering terjadi tindak kejahatan seperti pencurian, perampokan dan pembunuhan.


Situasi Kuta lainnya juga diceritakan seorang pedagang Banyuwangi yang bernama Pak Jembrong. Pada tanggal 20 Mei 1835, ia berangkat dari Banyuwangi menuju Pulau Bali dan kemudian menuju Lombok. Ia tiba di pantai Barat Kuta pada tanggal 18 Agustus 1835.

 


Menurut laporan Pak Jembrong, Kuta pada waktu itu merupakan suatu pelabuhan yang ramai dan nampaknya menjadi pusat perdagangan Bali dengan Singapura. Pada saat tiba di sana dilihatnya ada sekitar 40 perahu berlabuh, di antaranya 16 perahu baru tiba dari Singapura.


Perahu-perahu tersebut membawa barang dagangan dari Singapura yang terdiri dari candu, barang-barang besi, kain, gambir, senjata api, mesiu, uang logam buatan Cina dan barang lainnya buatan Inggris. (sumber: harian baliaga).


Pada Abad 19, Mads Lange seorang syahbandar asal Denmark juga menetap dan mendirikan markas dagang di Kuta. Melalui kemampuannya bernegoisasi, ia menjadi salah satu perantara perdagangan yang disegani.


Kini, Mads Lange adalah salah satu ikon tokoh Kuta yang jenasahnya dimakamkan di dalam area pemukiman penduduk.


Laporan : Luh De Suriyani untuk Kuta Karnival
Sumber Foto : www.alphalink.com

 

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/sin



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami