Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 28 Juli 2026
Pameran Cat Air Asia di Museum Sutedja Neka
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Museum Neka Ubud kembali menggelar pameran bertaraf internasional. Kali ini pameran yang diselenggarakan oleh Asia Water Colour Confederation ini menampilkan aneka lukisan cat air( water colour)dari para pelukis ternama Asia.
Baca juga:
Lithuania Kirim Drone Militer ke Ukraina
Pameran ini bakal dibuka pada hari Minggu (8/11) oleh Gubernur Bali, Mangku Pastika. Pameran yang digelar 8 November–30 November 2008 ini bakal menampilkan aneka ekspresi seni seniman lukis Asia lewat goresan cat air.
Dalam pameran ini akan dipamerkan sebanyak 165 karya lukis cat air dari Jepang, Cina, Indonesia, Singapura, Taiwan, dan beberapa negara lainnya.
Pelukis top yang ikut dalam pameran ini antara lain Cui Yu Zhang dari Cina, Koo Cha Soong dari Korea Selatan, dan pelukis cat air ternama Asia lainnya.
Baca juga:
Lithuania Kirim Drone Militer ke Ukraina
Menurut pemilik museum Neka, pameran ini untuk membuktikan kepada dunia bahwa seni lukis cat air tidak kalah dengan seni lukis dari cat minyak
Mudah-mudahan, pameran ini bisa menjadi wahana kerjasama dan bertukar pengalaman antar para pelukis Asia,“ kata Pemilik Museum, Pande Wayan Sutedja Neka dalam jumpa pers-nya.
Reporter: bbn/dey
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3883 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2764 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2026 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1962 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1799 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun