Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Napi Berontak Pada Kondisi Lapas Yang Bobrok
BERITABALI.COM, BADUNG.
Apa yang menjadi latar belakang kerusuhan Lapas Kerobokan, pada Selasa (21/2/2012) lalu? Disinyalir bahwa aksi kerusuhan itu tidak hanya masalah diskriminatif yang dilakukan pihak Lapas Kerobokan, tapi ada pada kasus lepasnya 3 pelaku penusukan napi oleh pihak KPLP pimpinan Anang Khuzaini. Benarkah demikian ?
Sumber beritabali.com mengungkapkan, tindakan diskriminatif yang dilakukan pihak Lapas Kerobokan sudah lama berlangsung. Ribuan napi disana merasa terjadi ada pengelompokan pengelompokan napi yang semestinya cepat diatasi oleh pihak Lapas Kerobokan. “Semacam ada geng geng-ngan di dalam Lapas, sebut saja begitu,” beber sumber, pada Kamis (23/2/2012).
Tindakan diskriminatif itu tak hanya bernuansa geng-geng-an saja, tapi sudah menjurus 'UUD' alias Ujung-Ujungnya Duit. Bagi kelompok napi yang memiliki uang banyak, kebutuhannya selama dalam tahanan terjamin 100 persen. “Bagi geng napi yang uangnya sedikit jangan harap bisa keluar berobat keluar Lapas. Tapi bagi geng napi yang uangnya banyak, mereka bisa keluar sekena hati. Bisa berobat dan keluar ke tempat hiburan malam atau menjenguk keluarga,” bisik sumber yang enggan disebut namanya itu.
Inilah yang memantik para napi dan mengeluhkan kinerja Lapas Kerobokan. Keluhan itu sepertinya sudah mencapai “ubun ubun di kepala” dan para napi mulai berontak. Puncak pemberontakan para napi terjadi pasca penusukan yang dilakukan tiga napi terhadap seorang napi di Lapas Kerobokan, pada Minggu (19/2/2012).
Seorang napi bernama Made Eriyasa ditusuk oleh tiga napi yakni Bashori, Dwi Wijayanto dan Eko Mardianto. Akibat penusukan itu, Made Eriyasa mengalami luka tusuk ditangan sepanjang 15 cm dan dirawat di RSUP Sanglah. Tiga napi tadi diamankan ke Polsek Kuta. Akibatnya napi yang pro terhadap Made Eryasa gerah dan tidak terima perlakuan tiga napi tersebut. Mereka mengamuk dan merusak kaca dan kantor Lapas Kerobokan.
Sehari kasus itu diredam, muncul kembali gejolak dari para napi yang pro Made Eryasa. Pasalnya mereka mendengar bahwa tiga napi Bashori, Dwi Wijayanto dan Eko Mardianto dikabarkan dilepas oleh KPLP yang dikomandoi Anang Khuzaini. Tiga napi itu dibawa pihak KPLP dari tahanan Polsek Kuta Utara dan dibawa ke rumah dinas untuk dilakukan pembinaan.
Kekesalan para napi kembali terusik setelah mengetahui barang bukti tiga napi tadi hilang mendadak. Inilah yang memantik kemarahan para napi dan akhirnya melakukan kerusuhan dan perusakan serta pembakaran Lapas Kerobokan. “Mereka tidak terima perlakukan KPLP karena menghilangkan barang bukti dan menahan tiga napi di rumah dinas KPLP. Ada kesan terjadi suap dalam masalah itu,” ungkap sumber lagi.
Tanpa dikomando, ratusan napi napi akhirnya mengamuk pada Selasa (21/2/2012) malam, dan membuat Lapas Kerobokan mencekam. Kerusuhan dari pukul 22.30 Wita hingga keesokan harinya itu, pada Rabu (22/2/2012) sekitar pukul 08.00 Wita, berakhir dengan penyerbuan aparat kepolisian dan TNI. Dari penyerbuan itu, dua napi mengalami luka tembak, satu diantaranya luka ringan dan seorang polisi terkena lemparan sepatu.
Tim gabungan Polri dan TNI berhasil mengamankan 30 pucuk senjata api laras panjang dari dalam Lapas Kerobokan dan ribuan butir peluru tajam. Kalapas Kerobokan Bowo Nariwono saat dihubungi wartawan enggan berkomentar banyak. Bowo mengaku sibuk dan terkesan tidak mau diganggu. “Waduh, saya masih sibuk, nanti saja,” ucapnya sambil menutup gagang via telpon, pada Kamis (23/2/2012).
Reporter: bbn/psk
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5920 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4640 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2610 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2266 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2215 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan