Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 29 Juli 2026
20 Persen Masyarakat Bali Alami Depresi
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Sekitar 20 persen dari 3,9 juta penduduk Bali mengalami depresi. Indikator tingkat depresi masyarakat Bali tersebut ditandai dengan mudah terjadinya perkelahian antar kelompok di Bali. Indikator lainnya adalah meningkatnya peredaraan narkotika di Bali.
Direktur Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bangli dr. Made Sugiharta Yasa pada keteranganya di Renon, (17/4/2012) menyebutkan indicator lain sebagai bukti meningkatnya tingkat depresi masyarakat Bali ditunjukkan dengan meningkatnya kunjungan masyarakat ke café atau tempat hiburan lainnya untuk melepas stress.
Bukti lainnya juga terlihat dengan semakin meningkatnya masyarakat Bali yang mengkonsumsi minuman penambah stamina. beberapa minuman berenergi itu laku keras , itu menunjukkan orang defresi , karena gejala defresi ringan dia lemah , tidak bertenaga, tidak bergairah , dengan minum minuman berenergi dia ada semangat” jelas dr. Made Sugiharta Yasa.
Sugiharta Yasa menambahkan tingkat depresi yang paling sering terlihat selama ini di kalangan masyarakat Bali adalah meningkatnya tingkat kecemasan. Sehingga tidak jarang untuk mengatasi kecemasan yang berlebihan masyarakat meluapkanya melalui minum-minuman beralkohol.
Reporter: bbn/mul
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3884 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2817 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2036 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1986 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1804 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun