Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 20 September 2026
Lomba Bajak Sawah Warnai Festival Budaya Pertanian
Badung
BERITABALI.COM, BADUNG.
Beritabali.com, Badung. Festival Budaya Pertanian di Kabupaten Badung, Bali hari ini dimeriahkan lomba 'matekap' atau membajak sawah. Festival ke-2 itu akan diselenggarakan hingga Minggu (28/7/2013) besok.
Lomba 'matekap' yang menggunakan alat tradisional digelar di Desa Petang, Badung dan diikuti para petani yang ada di Kabupaten Badung, Bali. Dalam event langka ini para peserta diwajibkan menunjukkan ketrampilannya, mulai cara menuntun sepasang sapi hingga teknik mengemburkan sawah.
Salah satu peserta bernama Wayan Lanus yang berperan sebagai 'joki' sapi mengaku sedikit gerogi. Pasalnya, membajak sawah atau ladang kali ini tidak seperti biasanya yakni banyak penonton yang menyaksikan dan memadati arena lomba.
"Lomba membajak sawah ini saya sedikit gerogi. Gimana tidak gerogi karena biasanya saya membajak sawah atau ladang hanya sendirian di lokasi, tapi disini saya ditonton banyak orang," ujarnya, Sabtu (27/7/2013).
Menurut Lanus, lomba 'matekap' atau membajak sawah ini perlu terus diadakan untuk menarik minat para generasi muda agar tertarik menekuni pertanian. "Saya lihat belakangan ini generasi muda mulai meninggalkan pekerjaan sebagai petani. Padahal jika memiliki lahan diolah dengan baik, maka tak kalah penghasilannya dengan warga bekerja di sektor lain, seperti buruh dan lainnya," jelasnya.
Sementara itu, tim juri lomba 'matekap' Ida Bagus Suryawanta mengaku kreteria dalam lomba ini salah satunya para 'joki' sapi harus terampil menuntun sapi sehingga hasil bajakan ladangnya merata. "Selain itu kedalaman bajakan tersebut minimal 20 sentimenter dan saat meratakan garapan ladangnya bersih," imbuhnya.
Suryawanta yang juga pegawai di Dinas Pertanian Provinsi Bali itu menambahkan bahwa lomba ini tidak sekedar mempertontonkan kepada pengunjung festival, tetapi yang lebih penting agar bisa melestarikan kebudayaan pertanian, seperti ' matekap' atau membajak sawah tersebut dengan alat tradisional.
"Pemakaian alat tradisional tidak kalah cepat dengan menggunakan traktor, asalkan para joki terampil dan menguasai teknik menuntun sepasang sapi itu," tegasnya.
Saat ini, kata Suryawanta dalam mengolah ladang atau sawah para petani sebagian besar menggunakan alat modern seperti traktor. Tapi ada satu sisi kelebihan bila menggunakan alat tradisional adalah jangkauan alat untuk lebih dalam mengemburkan ladang yang diolah. "Menggunakan alat tradisional 'matekap' bisa menjangkau petak-petak lahan yang sempit dan sulit dijangkau traktor," tutupnya. (dws)
Reporter: -
Berita Terpopuler
Sopir Truk di Muncan Karangasem Dibakar Hidup-hidup, Diduga Soal Setoran
Dibaca: 7868 Kali
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5636 Kali
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3532 Kali
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2388 Kali
ABOUT BALI
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan