Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Festival Kakao untuk Tingkatkan Daya Tawar Petani
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Petani kakao belum mendapatkan akses pasar yang maksimal akibat tidak adanya fasilitas pendampingan serta akses pelatihan. Kondisi tersebut menyebabkan kapasitas dan kwalitas produksi petani kakao sangat rendah sehingga posisi tawarnya pun rendah.
Melihat fakta itulah, Oxfam NOVIB, Yayasan Kalimajari, Business Watch Indonesia (BWI), Koperasi Semaya Samaniya bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Jembrana menyelenggarakan Bali International Cocoa Festival (BICF)/Festival Kakao Internasional yang akan berlangsung pada 28-31 Agustus 2014 di Gedung Kesenian Bung Karno, Jembrana. Rencananya secara resmi akan dibuka oleh Menteri Koperasi dan Usaha Kecil daan Menengah Syarief Hasan.
BICF ini akan berisikan kegiatan seperti eksebhisi, konferensi internasional dan workshop kakao, kuliner cokelat, busines gathering, CSR, serta dimeriahkan beberapa kegiataan kebudayaan budaya lokal. Festival ini rencananya akan dihadiri petani kakao dari Aceh, Lampung, Sulsel, Papua, serta beberapa petani di NTT, serta delegasi dari Asia seperti Vietnam, Timor Leste.
Ketua Panitia BCIF 2014, Agung Widiastuti mengatakan pelaksanaan festival ini mewadahi petani untuk bersama-sama saling berbagi ilmu serta pengalaman dalam meningkatkan daya tawar mereka.
"Kami ingin memfasilitasi petani melalui festival ini bahwa dengan memiliki komitmen tinggi, maka akses pasar dapat diraih," ujarnya kepada awak media di Denpasar, Senin (25/8).
Dia mengatakan bahwa saat ini petani kakao yang mengantongi food sertificate masih segelintir. Padahal, daya tawar tersebut berada dalam sebuah sertifikat. Dia mencontohkan, petani kakao di Jembrana yang telah mengantongi food sertificate dan akhirnya mampu menaikkan daya tawar sehingga produknya terjual di harga premium.
Agung menjelaskan dalam festival nanti diharapkan ada semacam proses berbagi pengalaman antar petani dari wilayah lain. Bahkan, dia sangat berharap lahir sebuah sikap bersama untuk kemajuan lebih baik.
Festival ini pula sebagai upaya mendekatkan peserta dengan masyarakat penghasil kakao di Jembrana yang menjadikan tanaman tersebut sebagai sumber pendapatan utama. Apalagi, jelasnya, dengan semakin banyaknya industri kecil yang membutuhkan cokelat lokal dengan original taste maka potensi kakao semakin besar.
"Dalam festival ini kami ingin bangun wadah, buyer dan komponen Jembrana bisa hadirkan komitmen kuat untuk kapasitas mereka.
Sekretaris BCIF 2014, Teresia Widianti, menambahkan penyelenggaraan kegiataan ini untuk meningkatkan added value petani. Menurutnya, selama ini kondisi petani saat bersatu mampu mendapatkan akses pasar, tetapi kurang kuat.
"Ini upaya coba mengundang petani-petani yang belum tahu bahwa kalau menjual ke tengkulak tidak akan memberikan posisi tawar," jelasnya.
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5917 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4639 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2604 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2260 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2215 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan