Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 11 September 2026
Festival Kakao untuk Tingkatkan Daya Tawar Petani
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Petani kakao belum mendapatkan akses pasar yang maksimal akibat tidak adanya fasilitas pendampingan serta akses pelatihan. Kondisi tersebut menyebabkan kapasitas dan kwalitas produksi petani kakao sangat rendah sehingga posisi tawarnya pun rendah.
Melihat fakta itulah, Oxfam NOVIB, Yayasan Kalimajari, Business Watch Indonesia (BWI), Koperasi Semaya Samaniya bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Jembrana menyelenggarakan Bali International Cocoa Festival (BICF)/Festival Kakao Internasional yang akan berlangsung pada 28-31 Agustus 2014 di Gedung Kesenian Bung Karno, Jembrana. Rencananya secara resmi akan dibuka oleh Menteri Koperasi dan Usaha Kecil daan Menengah Syarief Hasan.
BICF ini akan berisikan kegiatan seperti eksebhisi, konferensi internasional dan workshop kakao, kuliner cokelat, busines gathering, CSR, serta dimeriahkan beberapa kegiataan kebudayaan budaya lokal. Festival ini rencananya akan dihadiri petani kakao dari Aceh, Lampung, Sulsel, Papua, serta beberapa petani di NTT, serta delegasi dari Asia seperti Vietnam, Timor Leste.
Ketua Panitia BCIF 2014, Agung Widiastuti mengatakan pelaksanaan festival ini mewadahi petani untuk bersama-sama saling berbagi ilmu serta pengalaman dalam meningkatkan daya tawar mereka.
"Kami ingin memfasilitasi petani melalui festival ini bahwa dengan memiliki komitmen tinggi, maka akses pasar dapat diraih," ujarnya kepada awak media di Denpasar, Senin (25/8).
Dia mengatakan bahwa saat ini petani kakao yang mengantongi food sertificate masih segelintir. Padahal, daya tawar tersebut berada dalam sebuah sertifikat. Dia mencontohkan, petani kakao di Jembrana yang telah mengantongi food sertificate dan akhirnya mampu menaikkan daya tawar sehingga produknya terjual di harga premium.
Agung menjelaskan dalam festival nanti diharapkan ada semacam proses berbagi pengalaman antar petani dari wilayah lain. Bahkan, dia sangat berharap lahir sebuah sikap bersama untuk kemajuan lebih baik.
Festival ini pula sebagai upaya mendekatkan peserta dengan masyarakat penghasil kakao di Jembrana yang menjadikan tanaman tersebut sebagai sumber pendapatan utama. Apalagi, jelasnya, dengan semakin banyaknya industri kecil yang membutuhkan cokelat lokal dengan original taste maka potensi kakao semakin besar.
"Dalam festival ini kami ingin bangun wadah, buyer dan komponen Jembrana bisa hadirkan komitmen kuat untuk kapasitas mereka.
Sekretaris BCIF 2014, Teresia Widianti, menambahkan penyelenggaraan kegiataan ini untuk meningkatkan added value petani. Menurutnya, selama ini kondisi petani saat bersatu mampu mendapatkan akses pasar, tetapi kurang kuat.
"Ini upaya coba mengundang petani-petani yang belum tahu bahwa kalau menjual ke tengkulak tidak akan memberikan posisi tawar," jelasnya.
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3313 Kali
Anak-anak Bakar Tisu, Rumah di Banyuning Buleleng Ludes Terbakar
Dibaca: 782 Kali
Desil Warga Jehem Bangli Lompat dari 2 ke 7, Ini Masalahnya
Dibaca: 724 Kali
ABOUT BALI
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan