Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Selasa, 28 Juli 2026
Gelombang Tinggi di Bali, Ini Penyebabnya
Senin, 6 Juni 2016,
05:05 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar. Kepala Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar I Wayan Suardana mengatakan saat ini Pulau Bali sudah mulai memasuki musim kemarau. Konsekwensi dari perubahan musim itu adalah angin yang berhembus relatif kencang dan terjadinya gelombang tinggi di kawasan pesisir.
“Masuk kemarau angin relatif lebih kencang. Tiga hari ke depan kondisi gelombang tinggi relatif meningkat. Sebetulnya angin tidak terlalu kencang, tetapi gelombang meningkat terutama di tepi pantai,” kata Suardana dihubungi melalui sambungan telepon, Minggu (5/6/2016).
Kendati demikian, kondisi tersebut tidak terjadi merata di seluruh pantai di Bali. "Tidak merata. Kondisi itu hanya terjadi di wilayah Karangasem selatan, Gianyar, Sanur dan Kuta," jelasnya.
Selain karena kondisi kemarau, pasangnya air laut disebabkan oleh karena posisi sejajar matahari, bulan, dan bumi dalam satu garis maksimal. Hal itu menyebabkan gaya tarik-menarik bulan dan bumi mengalami peningkatan. Sehingga imbasnya adalah meningkatnya permukaan air laut di beberapa bagian.
"Untuk air pasang akibat astronomi kerap terjadi secara periodik. Sedang untuk faktor cuaca diakibatkan adanya pengaruh kecepatan angin, lama angin bertiup serta faktor lain-lainnya," ujarnya.
Lebih jauh dia menjelaskan, secara umum angin memang sudah dominan bertiup dari timur-tenggara. Ditambah lagi dengan adanya pusat tekanan rendah di Samudera Hindia yang menyebabkan nilai gelombang konstruktif/naik.
Selain itu, kenaikan tinggi gelombang utamanya sudah terjadi dari akhir Mei 2016. Sedangkan untuk kasus gelombang tinggi yang di sekitar Pantai Kuta merupakan gabungan antara pengaruh gelombang tinggi di perairan selatan Bali dengan pasang naik akibat astronomi.
"Sebab saat ini masuk periode bulan mati atau bulan baru. Posisi bulan, bumi, dan matahari segaris yang menyebabkan pasang naik sangat tinggi," urai Suardana.
Data BMKG menunjukkan, berdasarkan daftar pasang surut tahun 2016, pasang naik dengan nilai signifikan masih mungkin terjadi hingga 10 Juni 2016. Utamanya pada pagi dan siang hari dengan rentang ketinggian mencapai 2,3 hingga 2,7 meter.[bbn/suaradewata/psk]
Berita Denpasar Terbaru
Berita Premium
Reporter: bbn/psk
Berita Terpopuler
01
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3878 Kali
02
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2375 Kali
03
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2011 Kali
04
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1931 Kali
05
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1792 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Sabtu, 18 Juli 2026
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Selasa, 16 Juni 2026
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Senin, 25 Mei 2026
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Senin, 18 Mei 2026
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Selasa, 5 Mei 2026