Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Senin, 26 Oktober 2026
Mata Air Papad, "Air Abadi" di Munti Gunung Karangasem
Selasa, 2 Mei 2017,
11:00 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, KARANGASEM.
Beritabali.com, Karangasem. Munti Gunung merupakan desa tua jika dilihat dari tatanan bangunan puranya yang tidak memiliki Padmasana. Sejarah keberadaan Desa Munti berawal dari cerita kedatangan Trah Dalem Bujangga Sakti dari Nyalian, Bangli ke sisi timur Gunung Batur.
Pada kedatangannya ini, Ia mendirikan sebuah perkampungan diberi nama “Munti” yang berarti Inti atau awal kehidupan.
[pilihan-redaksi]
cerita lain yang tidak kalah menarik yakni mengenai sebuah sumber mata air abadi oleh masyarakat menyebutnya Mata Air Papad atau Air Penyambung Nyawa. Mata air ini merupakan mata air satu-satunya yang terdapat di Munti Gunung, Tianyar, Kubu, Karangasem.
“Kenapa disebut Air Penyambung Nyawa, karena di Munti Gunung hanya mata air ini yang menjadi satu-satunya sumber air, seluruh kehidupan warga Munti Gunung bergantung dari mata air tersebut,” ujar Agung Pasrisak selaku Prebekel Tianyar Barat.
Ia juga menuturkan, kisah awal munculnya Mata Air Papad, berawal dari kedatangan Dewi Danu yang berwujud laki-laki tua berpenampilan dekil dan kumuh membawa “tegenan” (pikulan) yang berisi air ke Munti Gunung. Kemudian laki-laki dekil tersebut menawarkan air yang dibawanya itu kepada masyarakat yang saat itu sedang melaksanakan “yadnya” (upacara keagaaman).
Dikarenakan penampilan dari laki-laki tua tersebut kotor dan dekil lalu diusirlah oleh warga tersebut. Mendapat perlakuan seperti itu, laki-laki tua tersebut kemudian memberi kutukan.
"Bahwa Kehidupan di Munti Gunung akan menjadi seperti dirinya saat itu," jelasnya.
Setelah itu karena sudah mendapat penolakan, laki-laki tua tersebut melanjutkan perjalanannya sampai di satu tempat bernama Papad masih di wilayah Munti Gunung, laki-laki tua itu beristirahat, disanalah kemudian air yang dibawanya tumpah dan merembes ke bawah tebing hinga saat ini menjadi sumber air yang tidak pernah kering meski saat musim kemarau sekalipun.
Saat ini Rembesan mata air Papad ini dikeramatkan dan dijadikan sebagai tempat melukat oleh masyarakat sekitar. Mata air ini dipercaya berkhasiat bisa membuat umur panjang, penyegaran fikiran, dan peleburan hal-hal yang negatif.
Agung Pasrisak juga menambahkan, kedepan Rembesan mata air Papad setinggi 3 meter tersebut akan ditampung dalam sebuah “bak” (penampungan air) kemudian akan di pilah menjadi 3 pancuran dibawahnya sebagai tempat melukatan. Nantinya setelah dilaksanakan pemugaran, akan dibangun patung Dewi Danu setinggi 7 meter di areal tersebut.
[pilihan-redaksi2]
Setelah itu akan dilakukan upacara “mendak” Dewi Danu di Pura Ulun Danu kemudian akan di “linggihkan” di Mata Air Papad tersebut.
Agung juga menjelaskan, sebelumnya pada tahun 2013 sudah “menghaturkan Guru Piduka”. Diharapkan setelah menghaturkan Guru Piduka dan melaksanakan prosesi Pemendakan, kutukan yang berasal dari penjelmaan Dewi Danu bisa hilang, sehingga secara tidak langsung bisa menjadi motivasi bagi masyrakat agar bisa berubah khususnya untuk beberapa orang yang masih melakoni profesi gepeng.
“Untuk sekarang belum ada fasilitas apapun untuk pengunjung yang hendak datang kesana, kendala utama dalam pengembangan potensi priwisata di desa Tianyar khususnya Munti Gunung yakni minimnya pendanaan dan promosi,” tegasnya. [igs/wrt]
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5856 Kali
02
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4605 Kali
03
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2571 Kali
04
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2214 Kali
05
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2198 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Kamis, 8 Oktober 2026
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Sabtu, 3 Oktober 2026
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026