Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Senin, 27 Juli 2026
Mata Air Papad, "Air Abadi" di Munti Gunung Karangasem
Selasa, 2 Mei 2017,
11:00 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, KARANGASEM.
Beritabali.com, Karangasem. Munti Gunung merupakan desa tua jika dilihat dari tatanan bangunan puranya yang tidak memiliki Padmasana. Sejarah keberadaan Desa Munti berawal dari cerita kedatangan Trah Dalem Bujangga Sakti dari Nyalian, Bangli ke sisi timur Gunung Batur.
Pada kedatangannya ini, Ia mendirikan sebuah perkampungan diberi nama “Munti” yang berarti Inti atau awal kehidupan.
[pilihan-redaksi]
cerita lain yang tidak kalah menarik yakni mengenai sebuah sumber mata air abadi oleh masyarakat menyebutnya Mata Air Papad atau Air Penyambung Nyawa. Mata air ini merupakan mata air satu-satunya yang terdapat di Munti Gunung, Tianyar, Kubu, Karangasem.
“Kenapa disebut Air Penyambung Nyawa, karena di Munti Gunung hanya mata air ini yang menjadi satu-satunya sumber air, seluruh kehidupan warga Munti Gunung bergantung dari mata air tersebut,” ujar Agung Pasrisak selaku Prebekel Tianyar Barat.
Ia juga menuturkan, kisah awal munculnya Mata Air Papad, berawal dari kedatangan Dewi Danu yang berwujud laki-laki tua berpenampilan dekil dan kumuh membawa “tegenan” (pikulan) yang berisi air ke Munti Gunung. Kemudian laki-laki dekil tersebut menawarkan air yang dibawanya itu kepada masyarakat yang saat itu sedang melaksanakan “yadnya” (upacara keagaaman).
Dikarenakan penampilan dari laki-laki tua tersebut kotor dan dekil lalu diusirlah oleh warga tersebut. Mendapat perlakuan seperti itu, laki-laki tua tersebut kemudian memberi kutukan.
"Bahwa Kehidupan di Munti Gunung akan menjadi seperti dirinya saat itu," jelasnya.
Setelah itu karena sudah mendapat penolakan, laki-laki tua tersebut melanjutkan perjalanannya sampai di satu tempat bernama Papad masih di wilayah Munti Gunung, laki-laki tua itu beristirahat, disanalah kemudian air yang dibawanya tumpah dan merembes ke bawah tebing hinga saat ini menjadi sumber air yang tidak pernah kering meski saat musim kemarau sekalipun.
Saat ini Rembesan mata air Papad ini dikeramatkan dan dijadikan sebagai tempat melukat oleh masyarakat sekitar. Mata air ini dipercaya berkhasiat bisa membuat umur panjang, penyegaran fikiran, dan peleburan hal-hal yang negatif.
Agung Pasrisak juga menambahkan, kedepan Rembesan mata air Papad setinggi 3 meter tersebut akan ditampung dalam sebuah “bak” (penampungan air) kemudian akan di pilah menjadi 3 pancuran dibawahnya sebagai tempat melukatan. Nantinya setelah dilaksanakan pemugaran, akan dibangun patung Dewi Danu setinggi 7 meter di areal tersebut.
[pilihan-redaksi2]
Setelah itu akan dilakukan upacara “mendak” Dewi Danu di Pura Ulun Danu kemudian akan di “linggihkan” di Mata Air Papad tersebut.
Agung juga menjelaskan, sebelumnya pada tahun 2013 sudah “menghaturkan Guru Piduka”. Diharapkan setelah menghaturkan Guru Piduka dan melaksanakan prosesi Pemendakan, kutukan yang berasal dari penjelmaan Dewi Danu bisa hilang, sehingga secara tidak langsung bisa menjadi motivasi bagi masyrakat agar bisa berubah khususnya untuk beberapa orang yang masih melakoni profesi gepeng.
“Untuk sekarang belum ada fasilitas apapun untuk pengunjung yang hendak datang kesana, kendala utama dalam pengembangan potensi priwisata di desa Tianyar khususnya Munti Gunung yakni minimnya pendanaan dan promosi,” tegasnya. [igs/wrt]
Berita Karangasem Terbaru
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3870 Kali
02
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 1984 Kali
03
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1846 Kali
04
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1748 Kali
05
Penembakan di Klub Malam Canggu, Dua Orang Terluka, Pelaku Diburu
Dibaca: 1532 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Sabtu, 18 Juli 2026
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Selasa, 16 Juni 2026
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Senin, 25 Mei 2026
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Senin, 18 Mei 2026
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Selasa, 5 Mei 2026