Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Rabu, 28 Oktober 2026
Bumi Makin Terang, Polusi Cahaya Meningkat
Kamis, 30 November 2017,
19:00 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Beritabali.com, Washington. Bumi menjadi semakin terang, tetapi para ilmuwan mengatakan bahwa itu mungkin bukan hal baik.
Para peneliti mengatakan, data satelit menunjukkan bahwa nyala artifisial di permukaan Bumi pada malam hari tumbuh sekitar dua persen dalam keterangan dan area dari tahun 2012 sampai 2016, menggarisbawahi kekhawatiran mengenai dampak ekologis polusi cahaya pada manusia dan binatang.
[pilihan-redaksi]
Laju pertumbuhan yang diamati di negara-negara berkembang lebih cepat dari pada negara-negara kaya yang sudah bercahaya terang.
Para peneliti mengatakan data satelit cuaca Badan Kelautan dan Atmosfer AS mungkin mengecilkan situasinya karena sensornya tidak bisa mendeteksi beberapa cahaya LED yang makin meluas penggunaannya, khususnya cahaya biru.
"Malam Bumi makin terang. Dan saya sesungguhnya tidak berharap seragam bahwa begitu banyak negara makin terang," kata fisikawan Christopher Kyba dari GFZ German Research Centre for Geosciences, yang memimpin riset yang terbit di jurnal Science Advances.
Dengan sedikit pengecualian, pertumbuhan cahaya malam diamati di seluruh Amerika Selatan, Afrika, dan Asia.
Cahaya masih stabil di sedikit negara saja. Ini meliputi wilayah-wilayah paling terang di dunia seperti Italia, Belanda, Spanyol, dan AS, meski para peneliti mengatakan 'kebutaan' sensor satelit pada beberapa cahaya LED mungkin menyelubungi peningkatan yang sesungguhnya.
Area cahaya Australia menurun akibat kebakaran. Cahaya malam juga meredup di Suriah dan Yaman yang masih dilanda perang.
Ahli ekologi Franz Holker dari Germanys Leibniz-Institute for Freshwater Ecology and Inland Fisheries (IGB) mengatakan polusi cahaya memiliki konsekuensi ekologis, dengan siklus cahaya alami terganggu oleh cahaya artifisial pada lingkungan malam.
Menurut dia, peningkatan cahaya langit bisa mempengaruhi tidur manusia.
"Selain mengancam 30 persen vertebrata yang nokturnal dan lebih dari 60 persen invertebrata yang nokturnal, cahaya artifisial juga mempengaruhi tumbuhan dan mikroorganisme," kata Holker, seperti dilansir Reuters.
"Ini mengancam keragaman hayati melalui perubahan kebiasaan pada malam hari, seperti pola reproduksi dan migrasi, dari banyak spesies berbeda: serangga, amfibi, ikan, burung, kelelawar, dan binatang lainnya," imbuhnya.
Kyba mengatakan cahaya waktu malam juga menyembunyikan bintang-bintang yang sudah disaksikan orang selama ribuan tahun.
Para ahli berharap pertumbuhan penggunaan cahaya LED yang sangat efisien bisa mengurangi penggunaan energi di seluruh dunia.
Temuan baru itu mengindikasikan penggunaan cahaya artifisial justru tumbuh, meningkatkan permintaan akan energi.
"Sementara kita tahu bahwa LED menghemat energi dalam proyek-proyek spesifik, misalnya ketika kota mengganti penerang jalan dari lampu-lampu sodium ke LED, ketika kita lihat daya kita dan kita lihat di tingkat nasional dan global, itu mengindikasikan bahwa penghematan itu berimbang dengan pertumbuhan cahaya-cahaya yang baru atau lebih terang di tempat lain," pungkas Kyba. [bbn/idc/wrt]
Berita Premium
Reporter: bbn/eng
Berita Terpopuler
01
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5948 Kali
02
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4658 Kali
03
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2636 Kali
04
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2287 Kali
05
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2224 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Kamis, 8 Oktober 2026
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Sabtu, 3 Oktober 2026
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026