Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Senin, 26 Oktober 2026
IAM Flying Vet, Tim Dokter Hewan Penanganan Satwa Laut Terdampar Dibentuk
Jumat, 4 Mei 2018,
07:00 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com.Denpasar, Asosiasi Dokter Hewan Megafauna Akuatik Indonesia di bawah naungan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) yang bekerjasama dengan Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) baru-baru ini diinisiasi melalui dukungan multipihak lintas sektoral.
[pilihan-redaksi]
Disebut juga dengan nama IAM (Indonesia Aquatic Megafauna) Flying Vet, asosiasi ini mewadahi dokter hewan di seluruh Indonesia dengan minat dan dedikasi untuk kelestarian ekosistem laut, melalui pengelolaan megafauna aquatik. Baik itu pencegahan kejadian terdampat, juga penanganan mamalia laut sakit dan/atau terdampar baik hidup ataupun mati, yang terjadi di berbagai wilayah pesisir Indonesia.
Disebut juga dengan nama IAM (Indonesia Aquatic Megafauna) Flying Vet, asosiasi ini mewadahi dokter hewan di seluruh Indonesia dengan minat dan dedikasi untuk kelestarian ekosistem laut, melalui pengelolaan megafauna aquatik. Baik itu pencegahan kejadian terdampat, juga penanganan mamalia laut sakit dan/atau terdampar baik hidup ataupun mati, yang terjadi di berbagai wilayah pesisir Indonesia.
Diinisiasi secara kolaboratif oleh WWF-Indonesia, Yayasan Cetacean Sirenian Indonesia (Cetasi), Kementerian Kelautatan dan Perikanan (KKP) bersama Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI), IAM Flying Vet Indonesia diluncurkan pada 3 Mei 2018, dalam rangkaian kegiatan Seminar dan Pelatihan Dokter Hewan dalam Penanganan Medik Kejadian Mamalia Laut Terdampar di
Indonesia, 30 April – 3 Mei 2018 di Denpasar.
Megafauna akuatik, yang berasal dari golongan reptilia (penyu), elasmobranch (hiu dan pari) serta mamalia laut (duyung, paus, dan lumba-lumba), merupakan kelompok satwa yang rentan akibat tekanan terhadap populasinya yang kian meningkat. Berbagai pendekatan konservasi megafauna akuatik Indonesia telah dilakukan oleh para pihak, mulai dari penetapan perlindungan jenis, pengelolaan habitat termasuk pendekatan sains, serta peningkatan kapasitas untuk berbagai keterampilan khusus yang diperlukan dalam pengelolaan.
IAM Flying Vet dibentuk sebagai respon terhadap kondisi meningkatnya kejadian megafauna laut terdampar. Adapun titik-titik utama kejadian terdampar di berbagai wilayah Indonesia yang dicatat dalam satu dekade terakhir yakni, Kalimantan Timur (107 kasus), Bali (57 kasus), Aceh (25 kasus), Nusa Tenggara Timur (22 kasus), dan Papua (19 kasus) (Whale Stranding Indonesia, 2018).
“Fenomena ini membutuhkan bantuan dokter hewan untuk bergerak cepat, tanggap, legal dan kompeten, untuk melakukan penanganan medis di lokasi kejadian meskipun berada di area terpencil,” ungkap Dwi Suprapti, Marine Species Conservation Coordinator, WWF-Indonesia.
Ia melanjutkan dokter hewan yang memiliki kompetensi di bidang megafauna akuatik sangat dibutuhkan untuk membantu pemerintah dalam menangani kejadian terdampar. Baik untuk pertolongan hidup, penanganan penyakit, investigasi kematian (veterinary forensic), serta meminimalisir dampak negatif kejadian terdampar bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan sekitar.
“Dokter hewan Indonesia terus meningkatkan kompetensinya dalam melakukan diagnosis, merawat, dan melakukan penyelidikan post-mortem pada megafauna akuatik terutama pada kejadian terdampar. Penting bagi kita untuk mendalami investigasi kematian dan mengungkap penyebab kejadian mamalia terdampar, untuk membuat rekomendasi pengelolaan kejadian mamalia laut
terdampar ke depannya,” tambah Dr. Heru Setijanto, Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI).
[pilihan-redaksi2]
Andi Rusandi, Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut (KKHL) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI menyebutkan Kejadian mamalia laut terdampar tidak bisa diprediksi waktunya sehingga dibutuhkan kesiapan, kemampuan, dan kerjasama antar stakeholders dan masyarakat dalam melakukan penanganan di lapangan – yaitu melalui IAM Flying Vet ini.
Andi Rusandi, Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut (KKHL) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI menyebutkan Kejadian mamalia laut terdampar tidak bisa diprediksi waktunya sehingga dibutuhkan kesiapan, kemampuan, dan kerjasama antar stakeholders dan masyarakat dalam melakukan penanganan di lapangan – yaitu melalui IAM Flying Vet ini.
Sementara itu, Drh. Ida Ayu Dian Kusuma Dewi, MVSc, Koordinator Umum IAM Flying Vet Indonesia mengatakan seminar dan Pelatihan Dokter Hewan dalam Penanganan Medik Kejadian Mamalia Laut adalah langkah IAM Flying Vet untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan dokter hewan.
Seminar dan Pelatihan Dokter Hewan dalam Penanganan Medik Kejadian Mamalia Laut Terdampar di Indonesia dihadiri oleh 19 dokter hewan yang aktif pada beberapa kejadian mamalia laut terdampar di Indonesia. Mereka berasal dari Aceh, Bangka Belitung, Yogyakarta, Pontianak, Papua Barat, Bali, Jember, dan Jakarta, mewakili berbagai instansi seperti BPSPL Denpasar, Balai Budidaya Air Payau Ujung Batee Aceh, Universitas Syah Kuala Banda Aceh, Karantina Pertanian Bangka Belitung dan Papua Barat, Dinas Pertanian dan Peternakan Jember, Universitas Udayana, Universitas Muhamadiyah Pontianak, WWF-Indonesia, Coral Reef Alliance, dan Klinik Hewan. (bbn/rls/rob)
Berita Denpasar Terbaru
Berita Premium
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
01
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5859 Kali
02
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4606 Kali
03
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2576 Kali
04
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2215 Kali
05
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2198 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Kamis, 8 Oktober 2026
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Sabtu, 3 Oktober 2026
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026