Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Rabu, 28 Oktober 2026
Startup Shushi Garap Besarnya Potensi Pengelolaan Rumput Laut di Indonesia
Kamis, 31 Mei 2018,
12:35 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com,Denpasar. Jika dikelola dengan baik komoditas rumput laut di Bali berpotensial untuk menjadi produsen andalan untuk memasok kebutuhan pasar ekspor. Namun kendalanya selain produksi yang terbatas dan kualitas produksi, lemahnya akses pasar juga menjadi penyebab komoditas ini semakin tergerus.
[pilihan-redaksi]
Dikutip dari Detikfinance, Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) menyebutkan jenis rumput laut eucheuma cottonii yang dibudidayakan di Indonesia nilai potensinya mencapai US$34 miliar atau setara Rp459 triliun (kurs Rp 13.500/US$). Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat adanya peningkatan ekspor rumput laut per Juli 2017 sebesar 20,88% atau senilai US$ 69,9 juta dari periode sama tahun sebelumnya yang sebesar US$ 57,6 juta.
Dikutip dari Detikfinance, Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) menyebutkan jenis rumput laut eucheuma cottonii yang dibudidayakan di Indonesia nilai potensinya mencapai US$34 miliar atau setara Rp459 triliun (kurs Rp 13.500/US$). Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat adanya peningkatan ekspor rumput laut per Juli 2017 sebesar 20,88% atau senilai US$ 69,9 juta dari periode sama tahun sebelumnya yang sebesar US$ 57,6 juta.
Sedangkan Asosiasi Petani dan Pengelola Rumput Laut Indonesia (Aspperli) menyebutkan rata-rata kebutuhan rumput laut untuk pasar ekspor mencapai 200.000 ton per tahun dan rata-rata kebutuhan rumput laut untuk pasar ekspor mencapai 200.000 ton per tahun.
Menyadari potensi inilah, sebuah platform e-commerce Shushi.Asia terbentuk untuk membantu petani rumput laut untuk menjual dan memasarkan produknya. Dari sisi konsumen, Aplikasi ini juga mempermudah mereka untuk mendapatkan suplai rumput laut dengan kualitas baik dan berkelanjutan.
Azhari Dadas, CEO Shushi.Asia mengatakan Shusi.Asia merupakan bentukan dari program Gerakan 1000 Startup. Dari pemetaan permasalahan yang ada di Indonesia dan Bali khususnya, maka pihaknya menemukan permasalahan pada komoditas rumput laut.
"Dari permasalahan tersebut kita juga melihat peluang bisnis yang baik, karena indonesia adalah penghasil rumput laut terbesar di dunia pada tahun 2016 indonesia menghasilkan 11 juta ton rumput laut," ungkapnya belum lama ini.
[pilihan-redaksi2]
Ia mengakui karena permasalahan dan potensi itulah Azhari memfokuskan pada komoditas rumput laut, yang mempunyai peluang sangat bagus tetapi belum dimanfaatkan secara maksimal. Adapun aktivitas Shushi selain melakukan pemberdayaan terhadap petani rumput laut dan juga mempertemukan komoditas tersebut kepada konsumen.
Ia mengakui karena permasalahan dan potensi itulah Azhari memfokuskan pada komoditas rumput laut, yang mempunyai peluang sangat bagus tetapi belum dimanfaatkan secara maksimal. Adapun aktivitas Shushi selain melakukan pemberdayaan terhadap petani rumput laut dan juga mempertemukan komoditas tersebut kepada konsumen.
Azhari berharap kedepan platform shushi bisa menjadi pintu utama untuk komoditas rumput laut di indonesia. Jadi konsumen dalam maupun luar negri bisa mengetahui secara lengkap informasi rumput laut yg bisa ditawarkan indonesia, dan mudah untuk melakukan transaksi. Saat ini dengan rata-rata produksi 1 ton per bulan, Shushi bekerja sama dengan 12 keluarga petani rumput laut dan sudah mensuplai untuk supermarket dan organic shop yang ada di Bali.
"Jadi awalnya kita pastikan dulu marketnya, hal ini diaplikasikan supaya sebelum panen petani sudah tahu akan dibeli kemana rumput lautnya, setelah itu setalah melakukan pengemasan, kami akan memfasilitasi pengiriman produk ke konsumen," ungkapnya.
Dia menambahkan alat dan cara pengemasan sebelumnya telah diedukasi oleh shushi terlebih dahulu, baru kemudian didistribusikan ke konsumen. Disamping itu, pihaknya menggunakan e-commerce dan direct marketing sehingga bisa lebih luas menjangkau pasar, juga menggunakan even dan eksebisi untuk meningkatkan brand dari Shushi. Untuk pemberdayaan petani, Shushi juga berencana untuk menggandeng NGO Rikolto untuk peningkatan operasional dan produksi rumput laut.
Tercatat dari data Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, total produksi rumput laut di Bali pada 2017 sebanyak 597,71 ton. Jumlah tersebut mengalami penurunan drastis dibandingkan pada 2016 sebesar 100.856 ton. Kendala cuaca, petani yang beralih profesi karena harga rumput laut yang dinilai rendah ditengarai sebagai penyebab penurunan tersebut. Padahal pasar ekspor rumput laut yang terhitung potensial digarap di luar negeri diantaranya adalah Tiongkok, Amerika, Eropa dan lainnya. (bbn/rob)
Berita Denpasar Terbaru
Berita Premium
Reporter: bbn/rob
Berita Terpopuler
01
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5932 Kali
02
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4649 Kali
03
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2613 Kali
04
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2271 Kali
05
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2218 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Kamis, 8 Oktober 2026
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Sabtu, 3 Oktober 2026
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026