Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Selasa, 14 Juli 2026
Meski Tampilkan Unsur Kelembutan, Dinamika Janger Harus Tetap Terjaga
Senin, 9 Juli 2018,
17:55 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com,Denpasar. Pengamat kesenian menegaskan dalam kesenian Janger unsur lembut diperbolehkan, namun juga tetap menjaga dinamika agar membangkitkan spirit.
[pilihan-redaksi]
Pengamat Seni I Wayan Madra Aryasa mengatakan memang tak dapat dipungkiri bahwa gaya majangeran di setiap daerah berbeda-beda. Namun, sebagai pengamat Madra menuturkan tarian Bali memang tak luput dari unsur dinamis.
Pengamat Seni I Wayan Madra Aryasa mengatakan memang tak dapat dipungkiri bahwa gaya majangeran di setiap daerah berbeda-beda. Namun, sebagai pengamat Madra menuturkan tarian Bali memang tak luput dari unsur dinamis.
“Kedinamisan itu perlu karena ini tontonan publik sehingga dapat menambah roh seisi pementasan,” ujar Madra sebagai pengamat kesenian janger yang hadir di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya, Denpasar.
Meski memiliki kelembutan yang merindukan kedinamisan, namun bagi Madra baik janger dari Tabanan maupun dari kabupaten dan kota lainnya telah berusaha untuk tampil maksimal.
“Rata-rata dari segi unsur klasik janger itu sendiri masih bisa mereka pertahankan,”ujar Madra menambahkan.
Kabupaten Tabanan sendiri menggarap sebuah janger melelampahan yang bertajuk Gugurnya Niwatakawaca. Gugurnya Niwatakawaca mengisahkan gejolak asmara Niwatakawaca yang jatuh hati dengan Dewi Supraba. Pada akhirnya Niwatakawaca yang jahat harus gugur sebab letak kesaktiannya yang berada di pangkal lidah dibeberkan oleh Dewi Supraba.
[pilihan-redaksi2]
Menurut koordinator garapan ini yakni I Made Adi Sutrisna, bahwa dipilihnya cerita Gugurnya Niwatakawaca sebagai alur cerita guna menyadarkan generasi muda di era globalisasi agar senantiasa berpegang teguh pada perbuatan, perkataan, dan pikiran yang baik.
Menurut koordinator garapan ini yakni I Made Adi Sutrisna, bahwa dipilihnya cerita Gugurnya Niwatakawaca sebagai alur cerita guna menyadarkan generasi muda di era globalisasi agar senantiasa berpegang teguh pada perbuatan, perkataan, dan pikiran yang baik.
Adi yang turut menjabat sebagai Ketua karang Taruna Desa Dajan Peken, Tabanan ini pun berujar bahwa garapan ini melibatkan sembilan sekaa truna-truni yang berada di Desa Dajan Peken. “Pada garapan ini kami dibina langsung oleh Ida Ayu Agung Yuliaswati yang sudah tak asing soal janger ,” ujar Adi. Garapan ini menghabiskan waktu latihan selama 6 (enam) bulan yang berawal dari latihan untuk festival di Tabanan, Bali Mandara Nawanatya, dan akhirnya berlabuh ke Pesta Kesenian Bali.
“Awalnya kita iseng mau coba ikut Nawanatya dan akhirnya kita kembali dipercaya untuk tampil di PKB,” tutur Adi seolah tak percaya. (bbn/rls/rob)
Berita Denpasar Terbaru
Berita Premium
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
01
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3684 Kali
02
Positif Ekstasi, Kanit Reskrim Polsek Kuta Ditahan Propam Polda Bali
Dibaca: 1358 Kali
03
Risiko terhadap Momentum Digital Indonesia
Dibaca: 1237 Kali
04
Menhub Setuju Bandara Letkol Wisnu Dikembangkan di Bali Utara
Dibaca: 1127 Kali
05
The Greatest Showcase Jadi Event Mermaid Pertama Terbesar di Indonesia
Dibaca: 1078 Kali
ABOUT BALI
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Selasa, 16 Juni 2026
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Senin, 25 Mei 2026
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Senin, 18 Mei 2026
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Selasa, 5 Mei 2026