Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Sabtu, 9 Mei 2026
Meski Tampilkan Unsur Kelembutan, Dinamika Janger Harus Tetap Terjaga
Senin, 9 Juli 2018,
17:55 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com,Denpasar. Pengamat kesenian menegaskan dalam kesenian Janger unsur lembut diperbolehkan, namun juga tetap menjaga dinamika agar membangkitkan spirit.
[pilihan-redaksi]
Pengamat Seni I Wayan Madra Aryasa mengatakan memang tak dapat dipungkiri bahwa gaya majangeran di setiap daerah berbeda-beda. Namun, sebagai pengamat Madra menuturkan tarian Bali memang tak luput dari unsur dinamis.
Pengamat Seni I Wayan Madra Aryasa mengatakan memang tak dapat dipungkiri bahwa gaya majangeran di setiap daerah berbeda-beda. Namun, sebagai pengamat Madra menuturkan tarian Bali memang tak luput dari unsur dinamis.
“Kedinamisan itu perlu karena ini tontonan publik sehingga dapat menambah roh seisi pementasan,” ujar Madra sebagai pengamat kesenian janger yang hadir di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya, Denpasar.
Meski memiliki kelembutan yang merindukan kedinamisan, namun bagi Madra baik janger dari Tabanan maupun dari kabupaten dan kota lainnya telah berusaha untuk tampil maksimal.
“Rata-rata dari segi unsur klasik janger itu sendiri masih bisa mereka pertahankan,”ujar Madra menambahkan.
Kabupaten Tabanan sendiri menggarap sebuah janger melelampahan yang bertajuk Gugurnya Niwatakawaca. Gugurnya Niwatakawaca mengisahkan gejolak asmara Niwatakawaca yang jatuh hati dengan Dewi Supraba. Pada akhirnya Niwatakawaca yang jahat harus gugur sebab letak kesaktiannya yang berada di pangkal lidah dibeberkan oleh Dewi Supraba.
[pilihan-redaksi2]
Menurut koordinator garapan ini yakni I Made Adi Sutrisna, bahwa dipilihnya cerita Gugurnya Niwatakawaca sebagai alur cerita guna menyadarkan generasi muda di era globalisasi agar senantiasa berpegang teguh pada perbuatan, perkataan, dan pikiran yang baik.
Menurut koordinator garapan ini yakni I Made Adi Sutrisna, bahwa dipilihnya cerita Gugurnya Niwatakawaca sebagai alur cerita guna menyadarkan generasi muda di era globalisasi agar senantiasa berpegang teguh pada perbuatan, perkataan, dan pikiran yang baik.
Adi yang turut menjabat sebagai Ketua karang Taruna Desa Dajan Peken, Tabanan ini pun berujar bahwa garapan ini melibatkan sembilan sekaa truna-truni yang berada di Desa Dajan Peken. “Pada garapan ini kami dibina langsung oleh Ida Ayu Agung Yuliaswati yang sudah tak asing soal janger ,” ujar Adi. Garapan ini menghabiskan waktu latihan selama 6 (enam) bulan yang berawal dari latihan untuk festival di Tabanan, Bali Mandara Nawanatya, dan akhirnya berlabuh ke Pesta Kesenian Bali.
“Awalnya kita iseng mau coba ikut Nawanatya dan akhirnya kita kembali dipercaya untuk tampil di PKB,” tutur Adi seolah tak percaya. (bbn/rls/rob)
Berita Premium
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
01
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 838 Kali
02
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 717 Kali
03
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 537 Kali
04
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 516 Kali
05
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Selasa, 5 Mei 2026
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Senin, 30 Maret 2026
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Kamis, 26 Maret 2026
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang
Kamis, 12 Februari 2026