Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Selasa, 27 Oktober 2026
Meski Tampilkan Unsur Kelembutan, Dinamika Janger Harus Tetap Terjaga
Senin, 9 Juli 2018,
17:55 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com,Denpasar. Pengamat kesenian menegaskan dalam kesenian Janger unsur lembut diperbolehkan, namun juga tetap menjaga dinamika agar membangkitkan spirit.
[pilihan-redaksi]
Pengamat Seni I Wayan Madra Aryasa mengatakan memang tak dapat dipungkiri bahwa gaya majangeran di setiap daerah berbeda-beda. Namun, sebagai pengamat Madra menuturkan tarian Bali memang tak luput dari unsur dinamis.
Pengamat Seni I Wayan Madra Aryasa mengatakan memang tak dapat dipungkiri bahwa gaya majangeran di setiap daerah berbeda-beda. Namun, sebagai pengamat Madra menuturkan tarian Bali memang tak luput dari unsur dinamis.
“Kedinamisan itu perlu karena ini tontonan publik sehingga dapat menambah roh seisi pementasan,” ujar Madra sebagai pengamat kesenian janger yang hadir di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya, Denpasar.
Meski memiliki kelembutan yang merindukan kedinamisan, namun bagi Madra baik janger dari Tabanan maupun dari kabupaten dan kota lainnya telah berusaha untuk tampil maksimal.
“Rata-rata dari segi unsur klasik janger itu sendiri masih bisa mereka pertahankan,”ujar Madra menambahkan.
Kabupaten Tabanan sendiri menggarap sebuah janger melelampahan yang bertajuk Gugurnya Niwatakawaca. Gugurnya Niwatakawaca mengisahkan gejolak asmara Niwatakawaca yang jatuh hati dengan Dewi Supraba. Pada akhirnya Niwatakawaca yang jahat harus gugur sebab letak kesaktiannya yang berada di pangkal lidah dibeberkan oleh Dewi Supraba.
[pilihan-redaksi2]
Menurut koordinator garapan ini yakni I Made Adi Sutrisna, bahwa dipilihnya cerita Gugurnya Niwatakawaca sebagai alur cerita guna menyadarkan generasi muda di era globalisasi agar senantiasa berpegang teguh pada perbuatan, perkataan, dan pikiran yang baik.
Menurut koordinator garapan ini yakni I Made Adi Sutrisna, bahwa dipilihnya cerita Gugurnya Niwatakawaca sebagai alur cerita guna menyadarkan generasi muda di era globalisasi agar senantiasa berpegang teguh pada perbuatan, perkataan, dan pikiran yang baik.
Adi yang turut menjabat sebagai Ketua karang Taruna Desa Dajan Peken, Tabanan ini pun berujar bahwa garapan ini melibatkan sembilan sekaa truna-truni yang berada di Desa Dajan Peken. “Pada garapan ini kami dibina langsung oleh Ida Ayu Agung Yuliaswati yang sudah tak asing soal janger ,” ujar Adi. Garapan ini menghabiskan waktu latihan selama 6 (enam) bulan yang berawal dari latihan untuk festival di Tabanan, Bali Mandara Nawanatya, dan akhirnya berlabuh ke Pesta Kesenian Bali.
“Awalnya kita iseng mau coba ikut Nawanatya dan akhirnya kita kembali dipercaya untuk tampil di PKB,” tutur Adi seolah tak percaya. (bbn/rls/rob)
Berita Denpasar Terbaru
Berita Premium
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
01
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5906 Kali
02
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4631 Kali
03
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2595 Kali
04
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2240 Kali
05
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2210 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Kamis, 8 Oktober 2026
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Sabtu, 3 Oktober 2026
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026