Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Rabu, 28 Oktober 2026
Ahli Tsunami: Jika Ada Gempa Lebih dari 2 Menit, Segera Jauhi Pantai
Selasa, 2 Oktober 2018,
09:22 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Beritabali.com, Jakarta. Tak hanya sekali ini, tsunami menerjang pesisir Indonesia. Sebut saja tsunami Aceh pada 2004. Atau tsunami Banda Naera pada 1674 yang tercatat sebagai tsunami terbesar di Tanah Air dengan ketinggian ombak mencapai 94 meter.
[pilihan-redaksi]
"Sebenarnya, tsunami warning itu ya gempanya sendiri. Tidak perlu menunggu BMKG, tidak perlu mengandalkan sistem peringatan dini BMKG. Indikatornya, kalau ada gempa tidak berhenti selama 2 menit, langsung lari menjauh dari pantai," ujar Abdul Muhari kepada Liputan6.com, Jakarta, Senin 1 Oktober 2018.
Menurut dia, peringatan tsunami tercepat yang dilakukan BMKG, melalui televisi. Namun, ketika gempa terjadi, masyarakat bakal langsung keluar rumah menghindari bangunan dan pohon.
"Tidak ada yang nonton TV lagi. Mereka sudah panik. Oleh karena itu, indikator yang bisa kami secara science peringatkan, jika ada gempa baik lemah maupun kuat tapi terjadi selama 2 menit tidak berhenti, langsung menjauh dari pantai," Abdul Muhari menjelaskan.
Mengapa 2 menit?
Pria yang memperoleh gelar doktornya dari Universitas Tohoku, Sendai, Jepang itu mengatakan, setiap gempa dan tsunami butuh pelepasan energi. Pada kasus-kasus yang terjadi sebelumnya, gempa yang berdurasi selama inilah yang mengakibatkan tsunami.
[pilihan-redaksi2]
"Pada kasus-kasus yang terjadi sebelumnya, gempa yang terjadi dengan durasi lama, lebih dari 1 menit, membangkitkan tsunami," kata pria yang akrab disapa Aam itu.
Peneliti di Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Danny Hilman Natawijaya mengatakan, pendidikan tentang gejala tsunami di Indonesia masih kurang. Padahal, sosialisasi dan pengajaran tentang tsunami dan gejalanya merupakan early warning system termurah yang bisa didapatkan pemerintah.
"Selama ini yang diajarkan secara umum di kita itu, tsunami diawali dengan air surut. Padahal tidak semua tsunami ditandai surutnya air," kata Danny Hilman kepada Liputan6.com, Senin.
Gempa dan tsunami Palu serta Donggala menyebabkan 844 orang meninggal dunia. Sebagian besar korban berasal dari Palu yang diterjang tsunami usai gempa. BNPB memperkirakan, jumlah korban gempa Palu, Donggala dan sekitarnya akan terus bertambah. Petugas, lanjut dia, masih terus melakukan evakuasi. [bbn/liputan6.com/psk]
Berita Premium
Reporter: bbn/psk
Berita Terpopuler
01
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5944 Kali
02
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4656 Kali
03
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2631 Kali
04
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2284 Kali
05
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2223 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Kamis, 8 Oktober 2026
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Sabtu, 3 Oktober 2026
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026