Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Sabtu, 12 September 2026
Gunung Agung Masuki Fase Equilibrium, Gempa Lombok Beri Dampak Positif
Rabu, 26 Desember 2018,
20:00 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, KARANGASEM.
Beritabali.com,Karangasem. Hingga kini aktivitas Gunung api Agung masih pada di level III (Siaga). Bahkan hingga saat ini aktifitas vulkanik di kawah Gunung Agung belum mengalami peningkatan secara signifikan.
[pilihan-redaksi]
Hal itu terungkap saat Menteri ESDM Ignasius Jonan mengunjungi Pos Pengamatan Gunung Api Agung, di Desa/Kecamatan Rendang, Karangasem, Rabu (26/12). Selain untuk meresmikan gedung pos pantau utama yang baru direhabilitasi, dalam kesempatan itu Ignasius Jonan juga sempat memberikan arahan kepada para pengamat gunung api yang bertugas di pos pantau Gunung Api Agung.
Hal itu terungkap saat Menteri ESDM Ignasius Jonan mengunjungi Pos Pengamatan Gunung Api Agung, di Desa/Kecamatan Rendang, Karangasem, Rabu (26/12). Selain untuk meresmikan gedung pos pantau utama yang baru direhabilitasi, dalam kesempatan itu Ignasius Jonan juga sempat memberikan arahan kepada para pengamat gunung api yang bertugas di pos pantau Gunung Api Agung.
“Saat ini status Gunung Agung masih berada di level III atau level siaga, termasuk zona berbahaya masih tetap,” tegas Menteri di Pos Pantau.
Ia juga menegaskan bahwa saat ini Bali masih sangat aman untuk dikunjungi wisatawan. Sementara itu Kasubid Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur, Devy Kamil Syahbana bahwa volume lava di dalam kawah Gunung Agung masih sepertiga dari total volume kawah, dan saat ini aktifitas vulkanik Gunung Agung tengah memasuki proses Equilibrium atau fase stabilitas baru.
Dikatakannya, gempa tektonik 7.0 SR yang mengguncang Lombok yang diikuti oleh ratusan kali rentetan gempa susulan beberapa waktu lalu, memberikan dampak baik terhadap aktivitas vulkanik Gunung Agung.
“Kalau kita lihat sejarah letusan Gunung Agung tahun 1963 silam, memang fase stabilitas baru Gunung Agung ini prosesnya tidak berlangsung dengan cepat. Di tahun 1963 dia butuh waktu hingga satu tahun untuk memasuki fase Equilibrium,” ungkapnya.
Lanjutnya sampai saat ini masih terekam gempa-gempa vulkanik dalam, vulkanik dangkal, dan tektonik jauh yang masih terekam seismometer di Pos Pantau dan itu berlangsung setiap enam jam.
[pilihan-redaksi2]
Berdasarkan data, kata dia, erupsi terkhir terjadi sejak tanggal 27 Juli 2018. Namun sebenarnya ditegaskan Devy, intrusi magmatik ke permukaan itu sampai saat ini masih ada, namun yang perlu diingat yang menyebabkan terjadinya erupsi itu adalah adanya akumulasi gas.
Berdasarkan data, kata dia, erupsi terkhir terjadi sejak tanggal 27 Juli 2018. Namun sebenarnya ditegaskan Devy, intrusi magmatik ke permukaan itu sampai saat ini masih ada, namun yang perlu diingat yang menyebabkan terjadinya erupsi itu adalah adanya akumulasi gas.
Sementara saat proses akumulasi gas di dalam kawah Gunung Agung tengah berlangsung, tiba-tiba diguncang gempa tektonik di Lombok yang mengakibatkan gas yang tengah terakumulasi itu keluar dengan cepat, sehingga erupsi secara sefusif maupun eksplosif itu tidak terjadi. Untuk volume magma dalam kawah, ditegaskan Devy memang masih rendah sekali namun sifatnya anomali yang bisa berubah setiap saat. (bbn/maw/rob)
Berita Premium
Reporter: bbn/maw
Berita Terpopuler
01
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3317 Kali
02
03
04
Anak-anak Bakar Tisu, Rumah di Banyuning Buleleng Ludes Terbakar
Dibaca: 785 Kali
05
Desil Warga Jehem Bangli Lompat dari 2 ke 7, Ini Masalahnya
Dibaca: 725 Kali
ABOUT BALI
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Jumat, 11 September 2026
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Selasa, 1 September 2026
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Sabtu, 18 Juli 2026
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Selasa, 16 Juni 2026
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Senin, 25 Mei 2026