Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Desa Pegayaman, Kampung Muslim di Hutan Gatep
BERITABALI.COM, BULELENG.
Desa Pegayaman, di Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng merupakan sebuah kampung Muslim yang awalnya di bangun di kawasan hutan gayam (Inocarpus edulis) atau dalam bahasa Bali disebut pohon gatep. Akibat berada di kawasan hutan gayam menyebabkan desa tersebut dinamakan Desa Pegayaman.
Para pemukim awal Pegayaman adalah orang-orang Jawa Muslim yang dikirim oleh Kerajaan Buleleng. Sebagai desa yang berbukit yang berbentuk memanjang, Pegayaman menyerupai benteng alam yang kokoh, melindungi wilayah Buleleng sepanjang pantai Utara Bali.
Demikian terungkap dalam sebuah Jurnal ilmiah berjudul “Akulturasi Budaya Pada Masyarakat Muslim Desa Pegayaman Buleleng Bali” yang dipublikasikan dalam Jurnal Arsitektur Universitas Bandar Lampung, Volume 2, Nomor 2 Tahun 2012. Artikel tersebut ditulis oleh L. Edhi Prasetya dari Jurusan Arsitektur, Universitas Pancasila, Jakarta.
Edhi Prasetya menuliskan sejarah berdirinya Pegayaman tidak dapat dipisahkan dari sejarah kota Singaraja, pusat pemerintahan kerajaan Buleleng yang beragama Hindu 300 tahun yang lalu. Sekitar abad ke-16 ketika terjadi peperangan antara kerajaan Buleleng melawan Kerajaan Blambangan, sekelompok laskar Blambangan yang membantu Raja Buleleng, diajak ke Bali.
Mereka kemudian ditempatkan di wilayah bukit berhutan gatep yang dijadikan desa benteng dan juga laskar tersebut dijadikan pengawal puri. Laskar Blambangan tinggal dan hidup di hutan gatep dengan menggarap lahan pertanian.
Desa Pegayaman memiliki lima dusun atau banjar, yaitu Banjar Dinas Barat Jalan, Banjar Dinas Timur Jalan, Banjar Amerta Sari, Banjar Kubu, dan Banjar Kubu Lebah. Desa Pegayaman memiliki luas wilayah ±1.400 Ha yang memanjang dengan jarak ±18 km.
Pola permukiman pada Desa Pegayaman memiliki pola labirin. Pola ini bercirikan banyak perempatan yang merupakan pertemuan jalan dengan gang. Hal ini dipengaruhi oleh strategi prajurit untuk melakukan perang gerilya dalam mempertahankan kerajaan.
Reporter: bbn/mul
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5924 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4645 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2613 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2270 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2218 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan