Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Selasa, 28 Juli 2026
Lebih Milenial, Dedoff 2019 Tepis Kesan Monoton dan Gaet Youtuber Jadi Juri
Rabu, 7 Agustus 2019,
18:00 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com, Kesiman. Selain perubahan nama singkatan, perhelatan Denpasar Documentary Film Festival (DDFF) yang tahun ini memasuki kali ke sepuluh akan nampak berbeda. Apa saja itu?
[pilihan-redaksi]
Direktur Dedoff, Maria Ekaristi mengatakan DDFF tahun ini terasa lebih milenial dengan perubahan nama even menjadi Denpasar Documentary Film Festival (Dedoff).
Direktur Dedoff, Maria Ekaristi mengatakan DDFF tahun ini terasa lebih milenial dengan perubahan nama even menjadi Denpasar Documentary Film Festival (Dedoff).
Hal menarik lainnya, panitia melibatkan youtuber sebagai juri. Salah satunya adalah Puja Astawa, youtuber yang melejit melalui video kocak. Hal tersebut dipaparkan epada wartawan, Selasa (6/8) kemarin di Kebun Kalpataru, Jalan Sedap Malam, Kesiman.
Dalam kesempatan itu ia juga didampingi Menurut manager festival IGK Trisna Pramana alias Tutut, Direktur Pelaksana Yayasan Bali Gumanti Agung Bawantara dan perwakilan Dinas Kebudayaan Kota Denpasar. Mengawali diskusi Bawantara mengatakan, sembilan tahun menggiatkan festival film dokumenter bukanlah hal yang mudah.
Pandangan publik yang masih melihat film dokumenter sebagi film yang kaku, menjadi salah satu penyebabnya. "Menginjak tahun ke sepuluh kami melalukan pembenahan, sehingga tidak monoton. Seperti menyegarkan juri, karena komposisi juri DDFF selama hampir enam tahun, selalu sama. Kami akan rolling (gilir)," ujarnya.
Dijelaskannya, melalui peremajaan juri tersebut dapat meluruskan pandangan publik terhadap film dokumenter selama ini. Kata Bawantara, jika sebelumnya film dokumenter dinilai penuh dengan pakem, kini akan mengangkat hal remeh temeh.
"Kami lebih banyak menampung kemungkinan dalam video dokumenter, kami harap ke depan dan seterusnya festival ini dapat dikelola teman-teman muda," ungkap Bawantara.
Ia mengatakan, pendaftaran peserta DDFF telah dibuka dan berakhir hingga 30 Agustus 2019 mendatang. Ekaristi yang akrab disapa Eka, juga angkat bicara. Menurut perempuan energik ini, Dedoff memberi kesempatan seluas-luasnya kepada para pegiat bicara film dokumenter untuk membicarakan apa saja melalui filmnya.
Semisal soal anak muda di pelosok yang ingin menceritakan bahwa kambingnya tidak mau makan rumput. Atau membicarakan tentang apa jadinya bila hal yang tidak penting dianggap penting. “Intinya, semua boleh bercerita,” tegas Eka.
Dalam kesempatan itu, Tutut juga menambahkan, dengan melibatkan youtuber dalam DDFF merupakan bagian dari upaya menggairahkan film dokumenter di kalangan milenial. Sebab menurutnya, unsur-unsur dalam karya youtuber juga serupa dengan unsur dalam penggarapan film dokumenter.
Terkait kategori, Tutut mengatakan terdapat kategori pelajar yakni jenjang SMA dan kategori umum. Tidak ada syarat khusus dalam festival ini, bahkan kata dia, penggunaan alat untuk menggarap film dokunenter yang dilibatkan dalam festival, tidak diatur. Kata dia, tidak menutup kemungkinan apabila pengambilan gambar dan editing dilakukan secara amatir melalui ponsel android.
[pilihan-redaksi2]
Namun menurutnya, kualitas karya akan terlihat pada pemutaran nanti. Terkait dengan durasi film dokumenter, ketika DDFF sebelumnya panitia menentukan kategori SMA maksimal 5 menit. Namun DDFF kali ini, durasi diperpanjang sehingga kategori SMA mulai dari 10 menit sampai 40 menit. Sedangkan kategori umum, maksimal 30 menit.
Namun menurutnya, kualitas karya akan terlihat pada pemutaran nanti. Terkait dengan durasi film dokumenter, ketika DDFF sebelumnya panitia menentukan kategori SMA maksimal 5 menit. Namun DDFF kali ini, durasi diperpanjang sehingga kategori SMA mulai dari 10 menit sampai 40 menit. Sedangkan kategori umum, maksimal 30 menit.
“Isu utamanya adalah bagaimana melihat film dokumenter sebagai produk potensial bisnis konten, membangun ekosistem industri, serta bentuk pendidikan dokumenter yang berkelanjutan,” tegas Trisna.
Ia menyebutkan, Dedoff 2019 dikuratori oleh tokoh-tokoh muda yakni Daniel Rudi asal Jakarta, Dwitra J Ariana asal Bangli, Putu Kusuma Wijaya asal Buleleng dan John Badalu asal Jakarta. Sedangkan Juri Kategori Pelajar SMA, terdiri dari Ayu Diah Cempaka yakni kritikus film, Warih Wisatsana yakni penyair, penggerak aktivitas kreatif, Puja Astawa. Juri kategori umum terdiri dari Rio Helmi yang dikenal sebagai fotografer, Putu Fajar Arcana dan Agung Sentausa dari Badan Perfilman Indonesia. (bbn/rls/rob)
Berita Denpasar Terbaru
Berita Premium
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
01
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3883 Kali
02
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2775 Kali
03
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2026 Kali
04
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1966 Kali
05
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1799 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Sabtu, 18 Juli 2026
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Selasa, 16 Juni 2026
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Senin, 25 Mei 2026
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Senin, 18 Mei 2026
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Selasa, 5 Mei 2026