Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Selasa, 28 Juli 2026
Kisah Simpen Buruh Panjat Asal Linggasana, Tinggal di Gubuk Bersama Keluarga
Selasa, 27 Agustus 2019,
15:30 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, KARANGASEM.
Beritabali.com, Karangasem. Gubuk berukuran 2 × 2,5 meter beratapkan seng dengan empat buah batang bambu sebagai pilarnya serta menggunakan daun kelapa sebagai dinding menjadi satu satunya tempat untuk menghabiskan malam bagi keluarga I Ketut Simpen asal Dusun Linggasana, Desa Bhuanagiri, Bebandem, Karangasem.
[pilihan-redaksi]
Di dalam gubuk berlantaikan tanah ini, Simpen tinggal bersama Istrinya Ni Nengah Manis, 40 tahun dan dua dari tiga anaknya yaitu, I Komang Sueca 7 tahun dan Kadek Ari 13 tahun sementara satu anaknya yang paling tua yaitu, Ni Wayan Putu Ekayanti 20 tahun bekerja merantau ke Denpasar selepas lulus dari bangku sekolah dasar.
Di dalam gubuk berlantaikan tanah ini, Simpen tinggal bersama Istrinya Ni Nengah Manis, 40 tahun dan dua dari tiga anaknya yaitu, I Komang Sueca 7 tahun dan Kadek Ari 13 tahun sementara satu anaknya yang paling tua yaitu, Ni Wayan Putu Ekayanti 20 tahun bekerja merantau ke Denpasar selepas lulus dari bangku sekolah dasar.
Ketika media ini datang ngunjungi tempat tinggal Ketut Simpen ditemani oleh Kepala Wilayah setempat Ketut Subrata pada Selasa (27/08/2019), untuk menemukan rumahnya tidaklah begitu sulit, dari jalan utama Dusun Linggasana jika datang dari arah selatan (Desa Budakeling) posisinya berada di kanan jalan tepatnya sekitar 100 meter dari jalan utama.
Begitu sampai di depan tempat tinggalnya, terlihat lurus atau batang kayu yang ditancapkan menjadi pembatas antara pekarangan rumah dan kebun di sekitarnya. Dalam pekarangan terdapat dua buah gubuk sederhana yaitu satu sebagai tempat tidur dan yang satunya sebagai dapur. Ukuran kedua gubuk tersebut hampir sama bahkan bagian dindingnya juga terbuat dari anyaman bambu dan daun kelapa.
Saat masuk ke pekarangannya, Simpen bersama istri terlihat sedang sibuk mejaitan (merajut janur) untuk persiapkan membuat sarana upakara piodalan di desanya, "Om swastiastu" begitu sapa Simpen ketika mengetahui kedatangan media ini.
Kepada media ini, Simpen menuturkan tinggal bersama keluarga disana baru sekitar dua bulanan, karena sebelumnya tanah yang mereka tinggali adalah milik orang lain yang dipinjamkan. Karena mendiang kakak kandungnya memiliki warisan tanah dan diberikan pada Simpen akhirnya memutuskan untuk pindah ke lokasi tempat dirinya membangun gubuk saat ini.
Kondisi perekonomian membuat Simpen hanya mampu membangun gubuk sederhana sebagai tempat tinggal bersama istri dan anak-anaknya tidak hanya itu, bekerja sebagai buruh panjat dengan penghasilan tak menentu juga memaksa kedua putrinya tidak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.
"Anak pertama perempuan merantau ke Denpasar setelah tamat SD, adiknya juga sama tamat SD dan anak terkecil laki laki masih kelas satu SD," tutur Simpen kepada media ini.
[pilihan-redaksi2]
Bekerja sebagai buruh panjat membuat penghasilan Simpen tidak menentu. Upah yang simpen terima hanya Rp. 5 ribu untuk memanjat satu pohon kelapa itu pun tidak setiap hari. Sementara sang istri Ni Nengah Manis dalam kondisi sakit sakitan sehingga tidak mampu membantu Simpen untuk mencari nafkah
Bekerja sebagai buruh panjat membuat penghasilan Simpen tidak menentu. Upah yang simpen terima hanya Rp. 5 ribu untuk memanjat satu pohon kelapa itu pun tidak setiap hari. Sementara sang istri Ni Nengah Manis dalam kondisi sakit sakitan sehingga tidak mampu membantu Simpen untuk mencari nafkah
Tak cukup sampai disana, di tengah himpitan ekonomi Simpen juga harus membeli air seharga Rp. 1.000 per satu jirigen isian 24 liter untuk memenuhi kebutuhan air bersih keluarga setiap harinya. Sementara itu, terkait kondisi Simpen, Kepala Wilayah Dusun Linggasana, I Ketut Subrata mengaku sebelumnya sudah mengajukan bantuan bahkan ketika tinggal di lahan sebelumnya Simpen merupakan salah satu warga penerima bantuan perehaban.
Selain itu, beberapa waktu lalu sempat juga ada komunitas yang datang melihat kondisi Simpen dan rencananya akan diberikan bantuan berupa bedah rumah.
"Beginilah kondisi warga kami, semoga pihak terkait bisa membantu meringankan bebannya," kata Subrata. (bbn/igs/rob)
Berita Karangasem Terbaru
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3883 Kali
02
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2793 Kali
03
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2028 Kali
04
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1969 Kali
05
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1801 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Sabtu, 18 Juli 2026
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Selasa, 16 Juni 2026
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Senin, 25 Mei 2026
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Senin, 18 Mei 2026
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Selasa, 5 Mei 2026