Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 29 Oktober 2026
Pengrajin Arak Tradisional di Sidemen Diwariskan Turun-Temurun
BERITABALI.COM, KARANGASEM.
Beritabali.com, Karangasem. Menjadi seorang petani penyadap tuak sekaligus pengrajin arak tradisional adalah satu satunya mata pencaharian yang selama ini menghidupi keluarga I Ketut Togog (50) asal Banjar Undisan, Desa Lantang Katik, Sidemen, Karangasem.
[pilihan-redaksi]
Bukan hanya sekedar pencaharian, aktivitas membuat arak traditional ini bahkan sudah menjadi usaha yang diwariskan secara turun temurun oleh pendahulunya. "Saya melanjutkan usaha dari almarhum ayah saya, ini bisa dibilang usaha turun temurun," kata Pria yang memiliki lima orang anak ini ketika dikunjungi di tempat pembuatan araknya pada Selasa (01/10/2019).
Dalam prosesnya, untuk mendapat bahan baku utama pembuatan arak yaitu tuak, setiap hari Ketut Togog harus memanjat sebanyak 25 pohon kelapa yang ia disadap. Dari satu pohon kelapa yang disadap menghasilkan satu liter tuak dalam waktu satu hari satu malam.
Tuak hasil sadapan biasanya diambil setiap pagi dengan cara menaiki pohon kelapa satu per satu sembari membawa sebuah wadah dan senjata menyerupai parang untuk membersihkan bagian kelapa yang disadap. Dalam sekali ambil, Togog bisa mengumpulkan tuak sebanyak 25 liter. Tuak hasil sadapannya inilah yang akan diolah sebagai bahan baku utama pembuatan arak.
Setelah terkumpul, tuak tersebut kemudian dituang ke dalam drum yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa agar saat proses pemasakannya tidak bocor.
Tuak yang sudah dituang ke dalam drum kemudian dimasak di atas tungku dengan menggunakan api yang tidak terlalu besar. Di bagian atas drum terdapat dua buah pipa dengan panjang sekitar 4 meteran yang terhubung langsung dengan gentong air sebagai pendinginnya.
Setelah dimasak selama beberapa jam, uap yang dihasilkan kemudian mengalir melalui pipa tersebut menuju ke pendingin sebelum akhirnya menetes dari lubang pipa. Tetesan inilah yang disebut dengan arak. Untuk satu botol arak tetesan pertama warga setempat menyebutnya "Arak Laingan".
[pilihan-redaksi2]
"Arak Laingan" memiliki sejumlah manfaat, salah satunya banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan terapi oleh sejumlah teraphis. Setelah satu botol pertama, barulah keluar arak kelas Satu dengan kadar alkohol hingga di atas 30 persen.
Untuk perbandingannya, 120 liter tuak yang dimasak bisa hasilkan sebanyak 15 liter arak, 5 liter diantaranya adalah arak dengan kualitas nomor dua sedangkan 10 botol sisanya adalah arak dengan kadar alkohol kelas satu. Selama ini, Arak - arak yang dihasilkannya dijual kepada salah seorang pembeli yang sudah menjadi langganan Ketut Togog dengan harga Rp.30 ribu per botol untuk kelas satunya. Sementara untuk kelas dua dijual dengan harga Rp.20 ribu di lingkungan tempat tinggal Ketut Togog, memang hampir seluruh warga memiliki peralatan untuk menyuling tuak. Bahkan satu kepala keluarga memiliki satu tempat penyulingan. (bbn/igs/rob)
Reporter: -
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5986 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4673 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2650 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2308 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2233 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan