Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 31 Juli 2026
Pengrajin Arak Tradisional di Sidemen Diwariskan Turun-Temurun
BERITABALI.COM, KARANGASEM.
Beritabali.com, Karangasem. Menjadi seorang petani penyadap tuak sekaligus pengrajin arak tradisional adalah satu satunya mata pencaharian yang selama ini menghidupi keluarga I Ketut Togog (50) asal Banjar Undisan, Desa Lantang Katik, Sidemen, Karangasem.
[pilihan-redaksi]
Bukan hanya sekedar pencaharian, aktivitas membuat arak traditional ini bahkan sudah menjadi usaha yang diwariskan secara turun temurun oleh pendahulunya. "Saya melanjutkan usaha dari almarhum ayah saya, ini bisa dibilang usaha turun temurun," kata Pria yang memiliki lima orang anak ini ketika dikunjungi di tempat pembuatan araknya pada Selasa (01/10/2019).
Dalam prosesnya, untuk mendapat bahan baku utama pembuatan arak yaitu tuak, setiap hari Ketut Togog harus memanjat sebanyak 25 pohon kelapa yang ia disadap. Dari satu pohon kelapa yang disadap menghasilkan satu liter tuak dalam waktu satu hari satu malam.
Tuak hasil sadapan biasanya diambil setiap pagi dengan cara menaiki pohon kelapa satu per satu sembari membawa sebuah wadah dan senjata menyerupai parang untuk membersihkan bagian kelapa yang disadap. Dalam sekali ambil, Togog bisa mengumpulkan tuak sebanyak 25 liter. Tuak hasil sadapannya inilah yang akan diolah sebagai bahan baku utama pembuatan arak.
Setelah terkumpul, tuak tersebut kemudian dituang ke dalam drum yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa agar saat proses pemasakannya tidak bocor.
Tuak yang sudah dituang ke dalam drum kemudian dimasak di atas tungku dengan menggunakan api yang tidak terlalu besar. Di bagian atas drum terdapat dua buah pipa dengan panjang sekitar 4 meteran yang terhubung langsung dengan gentong air sebagai pendinginnya.
Setelah dimasak selama beberapa jam, uap yang dihasilkan kemudian mengalir melalui pipa tersebut menuju ke pendingin sebelum akhirnya menetes dari lubang pipa. Tetesan inilah yang disebut dengan arak. Untuk satu botol arak tetesan pertama warga setempat menyebutnya "Arak Laingan".
[pilihan-redaksi2]
"Arak Laingan" memiliki sejumlah manfaat, salah satunya banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan terapi oleh sejumlah teraphis. Setelah satu botol pertama, barulah keluar arak kelas Satu dengan kadar alkohol hingga di atas 30 persen.
Untuk perbandingannya, 120 liter tuak yang dimasak bisa hasilkan sebanyak 15 liter arak, 5 liter diantaranya adalah arak dengan kualitas nomor dua sedangkan 10 botol sisanya adalah arak dengan kadar alkohol kelas satu. Selama ini, Arak - arak yang dihasilkannya dijual kepada salah seorang pembeli yang sudah menjadi langganan Ketut Togog dengan harga Rp.30 ribu per botol untuk kelas satunya. Sementara untuk kelas dua dijual dengan harga Rp.20 ribu di lingkungan tempat tinggal Ketut Togog, memang hampir seluruh warga memiliki peralatan untuk menyuling tuak. Bahkan satu kepala keluarga memiliki satu tempat penyulingan. (bbn/igs/rob)
Reporter: -
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3905 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 3055 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2088 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 2050 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1826 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun