Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 28 Juli 2026
Di Tengah Wabah Covid-19, Inflasi di Buleleng Masih Terkendali
BERITABALI.COM, BULELENG.
Tingkat inflasi di Buleleng tidak terpengaruh oleh wabah Covid-19 yang terjadi saat ini. Untuk inflasi di Buleleng masih terkendali dengan angka 0,15 persen pada bulan Maret 2020.
[pilihan-redaksi]
Hal tersebut diungkapkan Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Buleleng, Ni Made Rousmini, S.Sos.,MAP saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (2/4).
Rousmini menjelaskan lembaga yang berwenang menghitung tingkat inflasi adalah Badan Pusat Statistik (BPS) yang ada di masing-masing kabupaten. Dari data yang diperoleh dari BPS Kabupaten Buleleng, saat ini tingkat inflasi di Kabupaten Buleleng masih dalam kondisi terkendali. Angkanya berada di 0,15 persen pada bulan Maret 2020. Sedangkan untuk inflasi nasional sebesar 0,10 persen.
“Ini masih dikategorikan terkendali dan wabah Covid-19 tidak mempengaruhi tingkat inflasi tersebut,” jelasnya.
Namun, dengan semakin merebaknya wabah Covid-19, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng tetap melakukan upaya-upaya pengendalian dan mempertahankan angka tersebut. Salah satu upayanya adalah terjun langsung ke lapangan memantau harga di pasar-pasar bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Buleleng. Perusahaan Daerah (PD) Pasar pun ikut mengawasi harga-harga yang sudah ada saat ini maupun ikut mengendalikan inflasi yang terjadi.
“Tetap dengan memperhatikan pola yang dianjurkan pemerintah yaitu menjaga jarak (social distancing), dengan tim yang terbatas memantau harga-harga di pasar dan mengendalikan inflasi,” ujar Rousmini.
Lebih lanjut, Rousmini mengatakan yang sangat menentukan besaran angka inflasi adalah ketersediaan komoditi, daya beli masyarakat dan kelancaran distribusi. Tiga hal tersebut yang menyebabkan terbentuknya angka tingkat inflasi. Seperti contoh komoditi bawang putih. Buleleng masih sangat tergantung dengan Kabupaten Bangli.
“Tentunya ini sangat berpengaruh kelancaran distribusinya karena masing-masing kabupaten memiliki kebijakan tersendiri terkait pendistribusian barang,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Seksi Statistik Distribusi BPS Buleleng, I Nyoman Giri Putra menyebutkan angka 0,15 persen pada bulan Maret 2020 tersebut berdasarkan survei biaya hidup di perkotaan.
Namun, survei mencakup sampai dengan Seririt. Ada sebelas kelompok pengeluaran yang disurvei untuk tingkat inflasi. Dari sebelas tersebut, enam mengalami inflasi, tiga kelompok mengalami deflasi, dan dua kelompok yang stagnan. “Yang paling besar ada pada kelompok perlengkapan rumah tangga dan juga laundry. Laundry paling besar sebanyak 25 persen penyumbang inflasi,” sebutnya.
Dirinya menambahkan untuk wabah Covid-19 ini pastinya ada pengaruhnya. Namun, survei hanya dilakukan tiga minggu di lapangan. Minggu 1, 2 dan 3 bulan Maret memang melakukan survei langsung dan minggu keempat Maret menggunakan data sekunder. Data sekunder digunakan karena adanya penerapan social distancing sehingga terbatas pada keluarga pegawai BPS Buleleng yang kebetulan berbelanja dan juga tanpa wawancara tatap muka.
“Data sekunder ini masih valid dan bisa dipertanggungjawabkan,” tutup Giri Putra.
Reporter: Humas Buleleng
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3883 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2775 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2026 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1966 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1799 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun