Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 31 Oktober 2026
Ini Alasan Indonesia Pilih Vaksin Covid-19 Buatan China
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Kusnandi Rusmil, Koordinator Uji Klinis vaksin COVID-19 mengungkap alasan Indonesia melakukan uji klinis fase ketiga dari vaksin Sinovac, buatan China.
[pilihan-redaksi]
Menurutnya, baru negara tersebut yang telah mengujicoba terhadap manusia. Sedangkan beberapa negara lain yang melakukan hal serupa, masih dalam tahap awal penelitian.
"Jadi isu yang beredar kenapa pakai vaksin China dan lain sebagainya. Ya memang baru di China dilakukan penelitian ini. Di luar memang banyak yang melakukan penelitian tapi belum bisa dipakai, belum sampai fase 3. Baru mulai fase 1 dan 2, yang fase 3 baru di China. Kita harus cepat menggunakan vaksin ini, karena kita sudah banyak korban dari COVID ini. Sehingga kita harus cepat, membikin vaksin," kata Kusnandi dalam keterangan resminya seperti dikutip dari Liputan6.com.
Kusnandi menjelaskan fase tiga pengujian vaksin COVID-19 ini harus ketat dalam hal keamanan penggunannya, dan harus multicenter. Indonesia merupakan salah satu negara yang tengah menjadi lokasi uji coba vaksin COVID-19 dalam fase 3 ini, bersama negara di Amerika Latin, India, Bangladesh, dan Chili.
Nantinya, sebut Kusnandi, jika penggunaan vaksin COVID-19 ini aman di lima negara tersebut, maka vaksin ini boleh dijual. Kusnandi menegaskan keamanan penggunaan vaksin ini dilakukan berkali-kali.
"Yang melakukan fase 1 dan 2 baru di China. Tempat lain baru mulai. Nanti hasilnya lebih lama lagi karena bahan yang kita mau pakai ini asalnya virus yang dimatikan. Jadi virus COVID yang dimatikan itu tidak akan menyebabkan penyakit COVID, tetapi dari hasil penelitian tadi dia menimbulkan zat anti penyakit. Jadi bisa mencegah penyakit ini, tapi ada kekurangannya. Suntikannya enggak bisa sekali, dua kali," ujar Kusnandi.
Usai dilakukan penyuntikan vaksin COVID-19 sebanyak dua kali terhadap relawan, maka hasilnya akan dilihat enam bulan kemudian dengan mengambil contoh darah. Sehingga diketahui kualitas vaksin tersebut bekerja dengan baik atau tidak.
Rencananya sebut Kusnandi, percobaan suntikan vaksin COVID-19 itu dilakukan kepada 1.620 relawan. Lebih dari 1.500 relawan itu dilakukan tentunya usai percobaan penyuntikan terhadap ratusan orang di Cina pada fase 2.
"Setelah dipublikasikan dan semua orang bisa baca kemudian masuk fase 2, itu jumlah subjek yang digunakan kurang lebih ada 400 orang. Ini juga untuk melihat keamanan dan efektifitas. Ini juga dilakukan di China. Di China ternyata bagus dan sudah dipublikasikan. Semua orang bisa baca hasilnya setelah fase 2 bagus, baru masuk fase 3," jelas Kusnandi.
Publikasi yang dimaksudkan oleh Kusnandi adalah hasil penelitian vaksin COVID-19 pada fase 1 terhadap 50 - 100 orang ke majalah ilmiah dan diakui oleh organisasi kesehatan dunia (WHO). Hasil penelitian tentunya tidak menyebabkan penyakit dan tidak menyebabkan masalah.
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 6023 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4697 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2664 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2354 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2244 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan