Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 31 Oktober 2026
Motivasi Spirit Puputan Agar Tetap Bertahan di Masa Pandemi
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Meskipun Bali saat ini masih diselimuti Pandemi Covid-19, tetapi semangat atau spirit puputan jangan sampai padam di dalam diri agar bisa tetap bertahan untuk menghadapinya.
Menurut Dr Ir I GN Nitya Santhiarsa,MT penulis buku "Spirit Puputan, Jaya Dalam Perang dan Damai", spirit puputan akan mampu membangun Bali pada saat ini maupun setelah pandemi. Salah satu contohnya adalah bagaimana memajukan ekonomi, olah raga maupun berkesenian dengan spirit puputan.
"Saya sangat yakin dengan spirit puputan, orang Bali akan mampu survive dalam melewati masa-masa sulit ini," jelasnya, Minggu (20/9/2020) di Denpasar.
Untuk itulah, untuk memahami spirit puputan lebih dalam Dr Ir I GN Nitya Santhiarsa, MT menuangkan dalam sebuah buku yang berjudul "Spirit Puputan, Jaya Dalam Perang dan Damai".
Ada pun latar belakang dalam penulisan buku tersebut, yaitu memberi penjelasan lebih detail terkait hubungan antara spirit puputan dan perang puputan. Jika dilihat sebelumnya banyak orang sering menyamakan hal tersebut, akan tetapi dalam tulisan di buku ini sangat berbeda sekali.
"Akan dijelaskan secara gamblang dalam buku ini", ucapnya.
Jika dilihat spirit puputan tersebut telah ada di Bali sejak Rsi Markandya menghindukan orang Bali sejak abad ke VIII. Jadi spirit puputan tersebut akarnya telah tertuang dalam Bhagawad Gita Bab II, Sloka 31 sampai Sloka 39 yang terdiri kurang lebih 9 sloka.
"Jadi itulah inti dari spirit puputan," cetusnya.
Kenapa Sri Krishna mengajarkan bagaimana perang membela dharma habis-habisan dalam perang Mahabratha, itulah akar dari spirit puputan.
"Itu telah ada sejak abad ke 8 Masehi di Bali", katanya.
Sedangkan perang puputan merupakan hal yang berbeda, yang mana itu merupakan perang habis-habisan guna melawan musuh yang lebih kuat. Jadi, tidak mungkin perang puputan tersebut terjadi jika lawannya seimbang.
"Kekalahan itu sudah hampir nyata sehingga terjadilah perang puputan atau perang habis-habisan. Jika dilihat, hal tersebut hanya terjadi 4 kali saja di Bali antara lain, Perang Jagaraga, Puputan Badung, perang Puputan Klungkung dan perang Marga," paparnya.
Adapun hal tersemat dalam buku spirit puputan yaitu, tidak berbicara peperangan. Akan tetapi, berbicara kemajuan dalam perdamaian.
"Bagaimana kita dapat membangun bangsa dan negara dalam suasana damai, ternyata spirit puputan juga sangat berguna. Seperti spirit Bushido misalnya, yang digunakan membangun negara Jepang sehabis perang dunia ke dua dan itu berhasil," tutupnya.
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 6018 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4692 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2664 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2349 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2243 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan