Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 20 September 2026
Upacara Wanaralaba di Pura Agung Pulaki Gunakan Buah Lokal Buleleng
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Upacara Wanaralaba (pemberian makanan kepada kera) di wilayah Pura Agung Pulaki, Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali kini menggunakan buah lokal Buleleng.
"Penggunaan buah lokal di Kabupaten Buleleng nampaknya sudah mulai dilakukan oleh kalangan masyarakat Buleleng, baik sebagai sarana upacara maupun konsumsi pribadi. Buah lokal seperti buah jeruk, pisang, anggur serta bunga gumitir dan telur ayam kali ini digunakan sebagai sarana upacara Wanaralaba di Pura Agung Pulaki," jelas Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana saat melakukan persembahyangan di Pura Agung Pulaki, Kamis (1/10/2020).
Sebelumnya, Agus Suradnyana menekankan kepada jajarannya agar seluruh aparatur sipil negara (ASN) Kabupaten Buleleng menggunakan buah lokal. Baik sebagai sarana upacara maupun kegiatan-kegiatan lainnya. Dengan menggunakan buah lokal dipastikan putaran perekonomian di Buleleng akan semakin meningkat khususnya pada sektor pertanian.
“Kalau buah lokal terserap dengan baik maka mereka (petani) akan menjaga kualitas buahnya,” katanya.
Sementara itu, Kelian Ageng (pemimpin) Pengurus Pengempon Pura Agung Pulaki, Jro I Nyoman Bagiarta mengatakan upacara Wnaralaba digelar rutin saat upacara Pujawali di Pura Agung Pulaki lan Pesanakan Ida yang jatuh pada Purnamaning Sasih Kapat. Wanaralaba adalah sebuah tradisi yang sudah berjalan secara turun-temurun sebagai wujud syukur dan terima kasih kepada Tuhan.
“Apapun yang merupakan hasil bumi seperti jagung, pisang dan buah lainnya kita wajib mempersembahkannya,” ucapnya.
Bagiarta menambahkan, Wanaralaba wajib dilakukan setiap Purnama Kapat. Namun, pemberian makan kepada kera telah dilakukannya setiap hari bahkan kera tersebut diberikan makan tiga kali dalam sehari. Pembelian pakan kera ini bersumber dana dari punia (sumbangan) dan masyarakat umum yang mempersembahkan secara langsung saat melaksanakan persembahyangan.
“Belakangan ini kenakalannya (kera) sudah tidak muncul lagi, setelah tiang tingkatkan dari kualitas makan, pagi jagung, siang buah dari ketela, tomat dan pisang. Laporan dari masyarakat sekitar jarang masuk ke rumah penduduk,” pungkasnya.
Upacara Pujawali Pura Agung Pulaki yang sebelumnya dilakukan selama tujuh hari untuk tahun ini berlangsung selama tiga hari terhitung mulai tanggal 1 sampai 3 Oktober 2020 mendatang. Pemangkasan ini dilakukan untuk mengurangi kerumunan dan interaksi antar pemedek (umat) sesuai dengan protokol kesehatan covid-19.
Reporter: Humas Buleleng
Berita Terpopuler
Sopir Truk di Muncan Karangasem Dibakar Hidup-hidup, Diduga Soal Setoran
Dibaca: 7849 Kali
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5635 Kali
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3532 Kali
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2388 Kali
ABOUT BALI
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan