Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 31 Oktober 2026
Populasi Babi di Bali Menurun, Ini Solusi dari Akademisi
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Kondisi populasi babi di Bali tidak memperlihatkan perkembangan yang signifikan bila dibandingkan dengan permintaan masyarakat akan daging babi.
Hal ini karena daging babi tidak hanya di manfaatkan sebagai produk konsumsi namun juga digunakan dalam kegiatan keagamaan. Oleh sebab itu pemerintah Provinsi Bali perlu membuat kebijakan untuk meningkatkan populasi ternak babi ini.
Kehadiran perguruan tinggi untuk mendampingi pemerintah dalam mengembangbiakkan ternak babi sangat diperlukan dalam memberikan edukasi, pembinaan dan pendampingan kepada peternak.
Secara perlahan diharapkan sistem beternak masyarakat yang selama ini masih tradisional berubah ke peternakan yang modern sehingga, mampu meningkatkan ketersediaan daging babi baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya.
"Selain itu, dengan sistem pemeliharaan yang secara umum dilakukan oleh peternak saat ini dimana peternak belum sepenuhnya mampu menerapkan manajemen usaha peternakan terutama biosecurity-nya, maka peluang terjangkit penyakit lebih besar dibanding bila babi dipelihara secara modern," sebut akademisi Wakil Dekan 2 Fakultas Peternakan Universitas Udayana, Dr. Ir. Budi Rahayu Tanama Putri,S.Pt.,MM.,IPM.,ASEAN.Eng, saat dikonfirmasi, Jumat (12/2) di Denpasar.
Ia pernah melakukan penelitian tentang ternak babi, selama tiga tahun terakhir ini dengan melakukan penelitian khususnya pada babi Bali yang terdapat di Nusa Penida yang merupakan plasma nutfah. Babi Bali merupakan babi tipe lemak, yang merupakan bahan baku yang sangat baik sebagai babi guling.
"Kondisi usaha peternakan babi Bali yang ada di Nusa Penida saat ini sangat memprihatinkan, dimana usaha peternakan dilakukan secara tradisional, tanpa dikandangkan, dan pakan yang diberikan adalah pakan yang bersumber dari limbah pembuatan minyak kelapa, limbah rumah tangga ataupun tanaman pakan babi yang ada di sekitaran lokasi kandang," paparnya.
Seiring dengan perkembangan Nusa Penida sebagai salah satu destinasi wisata favorit, kawasan yang selama ini bebas untuk memelihara babi oleh masyarakat, perlahan beralih fungsi menjadi villa, restauran, dan yang lainnya. Oleh karena itu, perlu dibuat kebijakan berupa regulasi yang bertujuan untuk melindungi sekaligus mengembangbiakkan plasma nutfah ini menjadi komoditi unggulan.
Kemudian secara bersinergi dengan pelaku pariwisata menjadikan ternak ini menjadi objek wisata selain untuk pendidikan yang lebih dikenal dengan istilah agroecoeduturism.
"Dengan demikian, maka ternak babi Bali terhindar dari kepunahan akibat kawasan yang sudah beralih fungsi tersebut. Sejalan dengan aktivitas tersebut perlu pula diberi pendampingan kepada masyarakat setempat tentang model agribisnis peternakan babi yang terintegrasi," katanya.
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 6018 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4692 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2664 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2349 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2243 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan