Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Istana Negara Garuda: Filosofi, Perancang, Hingga Kritik
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Konsep Istana Negara Garuda di Kalimantan, tempat Ibu Kota baru yang diwujudkan dalam bentuk bangunan menyerupai burung garuda tersebut mendapat kritikan dari banyak pihak. Tak hanya karena desainnya yang dinilai kurang progresif, konsep tersebut juga dinilai kurang ramah lingkungan.
Meski demikian, ternyata terdapat filosofi yang mendalam pada desain tersebut. Lalu bagaimana filosofi yang dimaksud? Siapa yang mencetuskan konsep dan perancang desain ini? Dan apa pula kritikan yang masuk ke pemerintah terkait konsep Istana Negara Garuda?
Sebenarnya, filosofi dari bentuk dan citra garuda yang nampak pada konsep bangunan tersebut adalah cerminan Indonesia sebagai bangsa yang besar dan negara yang kuat. Selain itu, desain tersebut juga ingin menyampaikan pesan Bhineka Tunggal Ika, yang selalu terhubung, aktif, dan mudah diakses.
Meski demikian ternyata cukup banyak pihak yang kurang setuju dengan desain konsep dan filosofi tersebut. Di antaranya adalah kalangan arsitek dan pemerhati desain bangunan.
Siapa Perancang Desain Istana Negara Garuda?
Nama Nyoman Nuarta, yang merupakan seorang pematung yang cukup terkenal di Bali menjadi orang dibalik desain tersebut. Desain ini dianggap paling mendekati dengan keinginan pemerintah dalam membangun istana negara yang baru.
Namun demikian, desain tersebut masih merupakan konsep awal yang memerlukan banyak perbaikan dan koreksi. Jadi masyarakat diharapkan tidak buru-buru mencela, karena desain final untuk dieksekusi baru akan ditentukan pada bulan Agustus mendatang.
Kritik dari Berbagai Pihak
Kritik datang dari berbagai pihak, termasuk Ikatan Arsitek Indonesia. Pihaknya menyatakan bahwa bangunan istana negara dengan desain garuda ini justru tidak mencirikan kemajuan peradaban bangsa dan kurang sesuai dengan perkembangan era digital saat ini.
Seharusnya desain ikon negara memberikan kesan progresif, pembangunan berkelanjutan, serta modernitas, namun tanpa kehilangan identitas bangsa.
Dari Green Building Council Indonesia, Ahli Rancang Kota Indonesia, Ikatan Arsitan Landskap Indonesia, serta Ikatan Ahli Perancangan Wilayah dan Kota, kritik yang dilayangkan terbagi menjadi 3 poin.
- Pertama, desain tersebut sebaiknya tidak digunakan sebagai desain istana negara, namun menjadi bangunan monumen yang dilteakkan di titik strategis dan dilepaskan dari fungsi istana negara.
- Usul bahwa desain yang akan digunakan disayembarakan dengan prinsip dan ketentuan desain yang disepakati.
- Terkait pembangunan ibu kota negara, tidak harus dimulai dengan bangunan gedung namun bisa mulai pembangunan Tugu Nol, yang ditandai dengan pembangunan lanskap hutan hujan tropis.
Konsep Istana Negara Garuda ini memang belum final, dan ada baiknya juga ketika mendapat kritik dan masukan dari berbagai pihak. Artinya, banyak orang yang peduli dan ingin agar hasil dari pembangunan benar-benar memuaskan. Kita nantikan saja bagaimana perkembangan isu ini selanjutnya.(sumber: suara.com)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5921 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4640 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2611 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2267 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2216 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan