Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 26 Oktober 2026
Cuaca Buruk, Eksplorasi Bangkai Kapal Van Der Wijck Dihentikan Sementara
beritabali.com/ist/suara.com/Cuaca Buruk, Eksplorasi Bangkai Kapal Van Der Wijck Dihentikan Sementara
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Proses ekplorasi bangkai kapal Van Der Wijck sementara dihentikan. Penyebabnya, cuaca yang buruk serta arus laut yang tinggi membuat petugas dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim merasa kesusahan.
Ditambah, kalau tetap nekat ke dasar laut para penyelam juga tidak akan menemukan apa-apa. Sebab, dalam kondisi cuaca buruk jarak pandang penyelam akan sangat terbatas.
Salah satu penyelam dalam ekspidisi pencarian kapal Van Der Wijck, Budi Hariyono mengatakan, proses pencarian akan dilanjutkan setelah laut mulai tenang. Rencananya, tim akan berangkat lagi pada Sabtu (1/5/2021) setelah subuh.
"Kemarin saja tidak lihat apa-apa saat menyelam. Jadi kalau dipaksakan tetap saja tak maksimal. Jarak pandang hanya 2 meter saja, ditambah arus sangat deras," terangnya kepada SuaraJatim.id pada Jum'at (30/4/2021).
Karena jarak pandang terbatas itu lah, Budi menuturkan ketika menyelam ke titik bangkai kapal, turunnya malah melancong jauh. Diduga kuat hal itu juga disebakan karena arus laut yang buruk sehingga penyelam tak bisa maksimal.
Sementara itu Arkeolog BPCB Jatim Wicaksono Dwi Nugroho mengatakan, pencarian kapal melibatkan banyak tim. Antara lain, 13 orang tim dari BPCB, 6 orang nelayan setempat, 5 orang Dinas Kebudayaan dan 2 penyelam profesional.
"Sampai kapan proses ekplorasi ini, sampai ketemu dan mendokumentasikan berupa foto maupun video," bebernya.
Menurut Wicaksono, timnya diberi tugas langsung untuk melakukan ekplorasi. Kalau sudah mengumpulkan dokumen baru nanti diserahkan ke tim untuk dianalisa, terkait bangkai kapal itu merupakan kapal Van Der Wijck atau bukan.
"Informasi dari nelayan lokal peristiwa itu memang ada. Kebetulan saksi yang melihat proses evakuasi tenggelamnya kapal baru meninggal setahun kemarin. Jadi tinggal bukti kongrit yang harus ditelurusi," katanya.
Kendati demikian pihaknya ingin memastikan jika kapal yang sempat ditulis dalam novel karangan Buya Hamka itu memang nyata bukan kisah fiksi. Kedepan, jika sudah selesai penjajakan di lokasi tenggelamnya kapal, bukan tidak mungkin, bangkai kapal ini akan menjadi wahana wisata baru.
"Masyarakat tahu peristiwa itu, karena cerita novel Buya Hamka. Kekhawatiran saya, generasi sekarang itu mengingat kapal itu hanya sebagai fiksi saja, padahal itu fakta sejarah," katanya.(sumber: suara.com)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5852 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4605 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2570 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2213 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2198 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan