Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 15 Oktober 2026
Pandemi, Kasus Kekerasan Anak Cenderung Meningkat
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Selama Pandemi kekerasan terhadap anak disebut cenderung meningkat baik kejahatan seksual, fisik bahkan sampai kehilangan nyawa.
Aktivis perlindungan Anak dan Perempuan, Siti Sapurah mengatakan hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor mulai dari faktor ekonomi, anak tidak memiliki hak membela diri apalagi pelakunya orang tua. Kemudian faktor lainnya karena tidak semua lembaga dibentuk oleh Negara yang notabene harus memperjuangkan anak tidak begitu paham akan UU.
"Justru meningkat selama 2 tahun terakhir hampir setiap hari ada kasus kekerasan terhadap anak. Dengan faktor penyebab kekerasan tersebut terjadi karena anak dianggap sebagai aksesoris keluarga, makhluk lemah atau dianggap tidak memiliki power untuk melawan. Selain itu juga empati masyarakat kepada anak orang lain itu telah mulai menipis juga," jelasnya, Jumat,(15/10) di Denpasar.
Ia menyebut dari data hasil penelitian Kementerian setiap hari dari sebelas anak salah satunya adalah, korban dari kekerasan.
"Jadi dalam setiap hari ada saja kekersan. Ada sampai sekarat bahkan sampai meregang nyawa. Dengan rentan umur menerima kekerasan mulai dari umur 0 tahun atau dari janin di Ibunya misal dilakukan aborsi pada janinnya serta sampai anak berumur 18 tahun. Artinya, bahwa kekerasan terhadap anak semakin tinggi dan terus meningkat. Bahwa dapat dikatakan efek jera tersebut jauh api dari panggang," bebernya.
Jika dilihat sejauh ini, kata dia, sebagian besar pelaku adalah orang-orang terdekat korban. Kendati bukan menggeneralisir, lanjutnya, dari beberapa kasus kekerasan pada anak biasanya dilakukan pada masyarakat di ekonomi ke bawah.
Hal tersebut disebakan karena sebagian tidak memahami sang anak atau tidak dapat membijaksanai kenakalan anaknya. maka timbullah kekerasan, selain juga dipicu tingkat depresinya tinggi.
Dirinya menambahkan, anak harus dijaga apapun yang terjadi. Anak adalah, potret kedua orang tuanya. Artinya berikan anak teladan agar anak tersebut dapat tumbuh sesuai dengan yang diinginkan.
"Teladan dari orang tuanya akan membuat anak ini menjadi figur yang kita inginkan. Jangan sampai kekerasan dilakukan hanya karena anak tersebut tidak mengikuti nasehat orang tuanya saja. Anak merupakan pewaris Bangsa Indonesia karena, dengan menghilangkan satu orang anak Indonesia sama artinya memotong generasi Bangsa Indonesia," tutup Sapurah.
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4381 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2049 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 1920 Kali
Rem Blong, Truk Bermuatan Batu Terjun ke Jurang di Sidemen
Dibaca: 1578 Kali
Sidak Cafe di Payangan, Polisi dan BNN Gianyar Tes Urine 21 Orang
Dibaca: 1417 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan