Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 30 Agustus 2026
Pandemi, Kasus Kekerasan Anak Cenderung Meningkat
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Selama Pandemi kekerasan terhadap anak disebut cenderung meningkat baik kejahatan seksual, fisik bahkan sampai kehilangan nyawa.
Aktivis perlindungan Anak dan Perempuan, Siti Sapurah mengatakan hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor mulai dari faktor ekonomi, anak tidak memiliki hak membela diri apalagi pelakunya orang tua. Kemudian faktor lainnya karena tidak semua lembaga dibentuk oleh Negara yang notabene harus memperjuangkan anak tidak begitu paham akan UU.
"Justru meningkat selama 2 tahun terakhir hampir setiap hari ada kasus kekerasan terhadap anak. Dengan faktor penyebab kekerasan tersebut terjadi karena anak dianggap sebagai aksesoris keluarga, makhluk lemah atau dianggap tidak memiliki power untuk melawan. Selain itu juga empati masyarakat kepada anak orang lain itu telah mulai menipis juga," jelasnya, Jumat,(15/10) di Denpasar.
Ia menyebut dari data hasil penelitian Kementerian setiap hari dari sebelas anak salah satunya adalah, korban dari kekerasan.
"Jadi dalam setiap hari ada saja kekersan. Ada sampai sekarat bahkan sampai meregang nyawa. Dengan rentan umur menerima kekerasan mulai dari umur 0 tahun atau dari janin di Ibunya misal dilakukan aborsi pada janinnya serta sampai anak berumur 18 tahun. Artinya, bahwa kekerasan terhadap anak semakin tinggi dan terus meningkat. Bahwa dapat dikatakan efek jera tersebut jauh api dari panggang," bebernya.
Jika dilihat sejauh ini, kata dia, sebagian besar pelaku adalah orang-orang terdekat korban. Kendati bukan menggeneralisir, lanjutnya, dari beberapa kasus kekerasan pada anak biasanya dilakukan pada masyarakat di ekonomi ke bawah.
Hal tersebut disebakan karena sebagian tidak memahami sang anak atau tidak dapat membijaksanai kenakalan anaknya. maka timbullah kekerasan, selain juga dipicu tingkat depresinya tinggi.
Dirinya menambahkan, anak harus dijaga apapun yang terjadi. Anak adalah, potret kedua orang tuanya. Artinya berikan anak teladan agar anak tersebut dapat tumbuh sesuai dengan yang diinginkan.
"Teladan dari orang tuanya akan membuat anak ini menjadi figur yang kita inginkan. Jangan sampai kekerasan dilakukan hanya karena anak tersebut tidak mengikuti nasehat orang tuanya saja. Anak merupakan pewaris Bangsa Indonesia karena, dengan menghilangkan satu orang anak Indonesia sama artinya memotong generasi Bangsa Indonesia," tutup Sapurah.
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4749 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2550 Kali
Pria 28 Tahun Diduga Tewas Gantung Diri di Belakang Rumah Payangan
Dibaca: 2191 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1809 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1234 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun