Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 29 Agustus 2026
Kisah Stefanie dan Lucy Bangkitkan Grande Granola Bali, Tembus Pasar Global
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Pandemi COVID-19 sempat menghantam bisnis Grande Granola hingga omzetnya turun 60 persen. Namun, kondisi tersebut justru menjadi titik balik bagi Stefanie dan Lucy untuk mengubah strategi pemasaran dan membawa produk granola asal Bali itu menembus pasar global.
Grande Granola didirikan Stefanie dan Lucy pada 2015. Pada awalnya, bisnis ini mengandalkan model Business to Business (B2B) dengan menyasar hotel dan kafe di Bali.
Keduanya menjalankan bisnis tersebut secara bertahap dengan terus mengembangkan produk sekaligus memperluas pasar. Namun, pandemi COVID-19 membuat strategi bisnis harus kembali disesuaikan.
Baca juga:
Wawancara Bos Hardys (3) : Bangkrut Karena Daya Beli Turun, Gempuran Mart, dan Bisnis Online
Penurunan omzet hingga 60 persen mendorong Stefanie dan Lucy mencari sumber pendapatan baru. Mereka kemudian melihat perubahan perilaku konsumen yang semakin mengandalkan transaksi secara online.
Platform digital akhirnya menjadi salah satu strategi Grande Granola untuk mempertahankan sekaligus mengembangkan bisnis. Salah satunya dengan memanfaatkan fitur Shopee dan bergabung dalam Shopee Mall.
"Sebelumnya B2B.Kemudian pandemi COVID menerpa, terus omset kita turun 60%.Saya kemudian mulai mikir gimana caranya supaya bisa dapetin tambah revenue. Terus waktu itu juga mulai gencar untuk digital marketing,kayak Shopee, orang pada beli online kan. Nah, terus saya masukin di Shopee.Kebetulan Shopee juga nawarin kita untuk jadi Shopee Mall, terus kita akhirnya ikut Shopee Mall. Ya mulai dari situ deh kita jalanin dari Shopee," papar Stefanie, belum lama ini di Denpasar.
Bagi Grande Granola, pemanfaatan Shopee Mall tidak hanya berkaitan dengan peningkatan penjualan. Platform tersebut juga dinilai membantu memperkenalkan merek kepada konsumen yang sebelumnya belum mengenal produk Grande Granola.
Stefanie menyebut pertumbuhan penjualan dari Shopee terus meningkat dari tahun ke tahun. Selain itu, keberadaan produk di platform digital turut membantu membangun pengenalan merek atau brand recognition.
"Oh sangat besar, karena year-on-year juga Shopee itu terus-menerus meningkat ya untuk sales-nya. Dan juga kami percaya kalau Shopee itu bukan cuma sales-nya aja, tapi juga brand recognition. Jadi kayak orang-orang tuh bisa tahu brand kita dari Shopee sih. Jadi lumayan sih," terangnya.
Strategi digital tersebut kemudian berkembang dari sekadar membidik pasar lokal Bali menjadi upaya memperluas jangkauan Grande Granola ke pasar ekspor.
Salah satu fitur yang dimanfaatkan adalah Shopee Ads untuk pemasaran digital. Selain itu, fitur Shopee Ekspor membuka peluang bagi Grande Granola untuk menjangkau konsumen di berbagai negara.
Baca juga:
Cara Sukses Bisnis Online Untuk Pemula
"Kalau fitur dari Shopee itu yang paling kita pakai, itu yang pertama Iklan (Shopee Ads), itu yang paling pertama. Kedua, dia ada Shopee Ekspor, itu juga sangat membantu. Jadi sekarang kita juga bisa ekspor ke Jepang, Filipina, Hong Kong, South Africa, Dubai, Malaysia, Singapura, US sama Asia Tenggara.Jadi kayak itu sangat membantu sih," paparnya.
Perluasan pasar tersebut membuat Grande Granola tidak lagi hanya bergantung pada pasar B2B di Bali. Produk granola yang dikembangkan Stefanie dan Lucy kini memiliki akses ke pasar internasional.
Untuk ekspor, produk Grande Granola disebut terserap sekitar 2.000-an pcs setiap bulan. Menurut Stefanie, kemudahan penggunaan fitur digital, termasuk pengaturan harga, menjadi salah satu faktor yang membuat platform tersebut nyaman digunakan untuk mendukung aktivitas bisnis.
Di sisi produksi, Grande Granola saat ini mampu mengolah sekitar 8 ton produk per bulan. Jumlah tersebut dapat berubah mengikuti kondisi pasar dan musim, mengingat permintaan produk di Bali cenderung bersifat seasonal.
"Kalau sebulan sekitar 8 ton. Tapi kan tergantung ya Kak, kalau di Bali itu kan musiman (seasonal) ya, he-eh. Tapi rata-rata sekitar segitu sebulan," ucapnya.
Bidik Tabanan untuk Production House
Setelah berhasil melewati fase sulit akibat pandemi dan memperluas pasar hingga mancanegara, Stefanie dan Lucy kini menyiapkan langkah berikutnya untuk mengembangkan Grande Granola.
Salah satu rencana terdekat adalah memindahkan production house ke wilayah Tabanan, Bali. Langkah tersebut diharapkan dapat menjadi fondasi untuk meningkatkan kapasitas sekaligus menambah varian produk.
"Kalau goal-nya kita yang paling dekat itu untuk kita mau pindah produksi kan, production house-nya kita mau pindah di Tabanan. Terus kalau dari situ kita mulai akan nambah varian, terus kita mau lebih gencar di export market gitu," harap Stefanie dan Lucy.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4746 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2547 Kali
Pria 28 Tahun Diduga Tewas Gantung Diri di Belakang Rumah Payangan
Dibaca: 2185 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1804 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1229 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun