Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 8 Juli 2026
Seorang Pria Bunuh Diri Usai Habisi Istri dan 3 Anak
BERITABALI.COM, DUNIA.
Seorang pria di Jerman bunuh diri setelah menghabisi nyawa istri dan tiga anaknya karena diduga memiliki sertifikat vaksin Covid-19 palsu.
Ada lima mayat termasuk tiga anak berusia 4, 8 dan 10 tahun dengan luka tembak di rumah mereka di Koenigs Wusterhausen pada hari Sabtu.
Pihak berwenang yakin pria berusia 40 tahun itu telah menembak mati istri dan anak-anaknya sebelum ia memutuskan bunuh diri.
Jaksa Gernot Bantleon mengatakan kepada kantor berita DPA Jerman bahwa pria itu meninggalkan catatan yang mengatakan sertifikat vaksin palsu untuk istrinya.
Sertifikat Covid-19 diwajibkan bagi karyawan Jerman bulan lalu ketika negara itu memperketat pembatasan anti-virusnya.
Majikan istrinya dilaporkan telah mengetahuinya dan pasangan itu takut mereka akan ditangkap dan anak-anak mereka dibawa pergi, kata Bantleon.
Polisi disiagakan setelah saksi melaporkan melihat mayat di dalam rumah di distrik Senzig kota, tenggara Berlin.
Penyelidik mengatakan mereka telah menemukan pistol di rumah, tapi tidak jelas apakah itu senjata yang digunakan untuk menembakkan tembakan mematikan.
Mereka tidak menemukan indikasi bahwa ada orang lain yang hadir pada saat itu atau ada orang yang memaksa masuk ke dalam rumah.(sumber: suara.com)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3607 Kali
Risiko terhadap Momentum Digital Indonesia
Dibaca: 1172 Kali
The Greatest Showcase Jadi Event Mermaid Pertama Terbesar di Indonesia
Dibaca: 1030 Kali
Positif Ekstasi, Kanit Reskrim Polsek Kuta Ditahan Propam Polda Bali
Dibaca: 686 Kali
Peserta JKN Tembus 282,7 Juta, BPJS Kesehatan Catat Kinerja Positif
Dibaca: 577 Kali
ABOUT BALI
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun