Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Limbah Makanan di Denpasar Berkisar Antara 115-184,67 Kg

Sabtu, 22 Januari 2022, 17:25 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Limbah Makanan di Denpasar Berkisar Antara 115-184,67 Kg.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Akumulasi limbah makanan di Tempat Pengolahan Sampah (TPS) di Denpasar berkisar antara 115 kg-184,67 kg/TPS/hari. 

Jumlah akumulasi tertinggi terjadi di Kecamatan Denpasar Barat sebanyak 184,67 kg/TPS/hari. Akumulasi terendah terjadi di Kecamatan Denpasar Timur sebanyak 115 kg/TPS/hari. 

Data tersebut merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali selama periode Januari-Mei 2021. 

Hal tersebut terungkap dalam webinar dengan topik "Berkah Food Waste dan Upaya Mendukung Ekowisata" yang diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian, Universitas Warmadewa pada Sabtu (22/01).

"Jumlah akumulasi limbah makanan dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kepadatan penduduk, pola konsumsi, umur, pengetahuan hingga frekuensi makan dalam sehari. Jumlah anggota keluarga juga berpengarug signifikan" kata akademisi Fakultas Pertanian, Universitas Warmadewa, Dr. I Nengah Muliarta, S.Si., M.Si yang juga terlibat dalam analisis hasil penelitian food waste yang dilakukan PPLH Bali.

Muliarta yang juga merupakan Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali tersebut mengungkapkan era digital saat ini menyebabkan pola pembelian makanan memberi kontribusi terhadap jumlah limbah makanan yang dihasilkan.

Semakin besar rata-rata pengeluaran untuk membeli bahan makanan pada satu waktu, semakin besar kemungkinan menghasilkan lebih banyak limbah makanan 

Limbah makanan tidak hanya berdampak buruk pada lingkungan, tetapi juga memainkan peran utama dalam menciptakan kerugian ekonomi dan masalah sosial yang tidak perlu. 

Dampak ekonomi yang besar dari membuang makanan mempengaruhi semua individu dan organisasi yang terlibat dalam rantai penyediaan makanan. 

Apalagi fenomena di negara maju, makanan dipandang sebagai komoditas sekali pakai. Dampaknya sekitar sepertiga atau setengah dari semua makanan yang diproduksi untuk konsumsi manusia secara global diperkirakan akan terbuang percuma. 

"Contoh kasus dalam sebuah penelitian tahun 2011 di Inggris, kontribusi terbesar untuk limbah makanan berasal dari rumah sebesar 8,3 juta ton per tahun, merugikan konsumen sebesar £12 miliar dan menyumbang 3% dari emisi gas rumah kaca Inggris" jelasnya. 

Menurut Muliarta, praktik buruk pembuangan limbah makanan berdampak pada lingkungan berupa emisi gas rumah kaca, lindi, dan bau. Tumpukan limbah makanan akan menghasilkan gas metana yang memiliki potensi pemanasan global 25 kali lebih besar daripada karbon dioksida dalam 100 tahun. 

"Umumnya alasan rumah tangga tidak melakukan pemilahan sampah adalah terlalu malas, memiliki kesenjangan pengetahuan dan kurangnya fasilitas. Ini masalah klasik," kata pria yang sempat menjadi Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Bali periode 2014-2017.

Muliarta menyebutkan frekuensi makan berpengaruh cukup signifikan terhadap produksi limbah makanan. Dalam survei di kawasan Saridewi, Denpasar Utara yang telah menerapkan konsep zero waste sejak tahun 2020 terungkap bahwa 76,40% warga Saridewi memiliki frekuensi makan 3-4 kali dalam sehari. 

Upaya mengurangi limbah makanan, sambil mempertahankan tingkat produksi dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan global. Artinya langkah mengurangi limbah makanan di satu wilayah dapat menyebabkan ketersediaan makanan yang lebih banyak  di tempat lain.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/mul



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami