Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 18 Oktober 2026
Limbah Makanan di Denpasar Berkisar Antara 115-184,67 Kg
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Akumulasi limbah makanan di Tempat Pengolahan Sampah (TPS) di Denpasar berkisar antara 115 kg-184,67 kg/TPS/hari.
Jumlah akumulasi tertinggi terjadi di Kecamatan Denpasar Barat sebanyak 184,67 kg/TPS/hari. Akumulasi terendah terjadi di Kecamatan Denpasar Timur sebanyak 115 kg/TPS/hari.
Data tersebut merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali selama periode Januari-Mei 2021.
Hal tersebut terungkap dalam webinar dengan topik "Berkah Food Waste dan Upaya Mendukung Ekowisata" yang diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian, Universitas Warmadewa pada Sabtu (22/01).
"Jumlah akumulasi limbah makanan dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kepadatan penduduk, pola konsumsi, umur, pengetahuan hingga frekuensi makan dalam sehari. Jumlah anggota keluarga juga berpengarug signifikan" kata akademisi Fakultas Pertanian, Universitas Warmadewa, Dr. I Nengah Muliarta, S.Si., M.Si yang juga terlibat dalam analisis hasil penelitian food waste yang dilakukan PPLH Bali.
Muliarta yang juga merupakan Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali tersebut mengungkapkan era digital saat ini menyebabkan pola pembelian makanan memberi kontribusi terhadap jumlah limbah makanan yang dihasilkan.
Semakin besar rata-rata pengeluaran untuk membeli bahan makanan pada satu waktu, semakin besar kemungkinan menghasilkan lebih banyak limbah makanan
Limbah makanan tidak hanya berdampak buruk pada lingkungan, tetapi juga memainkan peran utama dalam menciptakan kerugian ekonomi dan masalah sosial yang tidak perlu.
Dampak ekonomi yang besar dari membuang makanan mempengaruhi semua individu dan organisasi yang terlibat dalam rantai penyediaan makanan.
Apalagi fenomena di negara maju, makanan dipandang sebagai komoditas sekali pakai. Dampaknya sekitar sepertiga atau setengah dari semua makanan yang diproduksi untuk konsumsi manusia secara global diperkirakan akan terbuang percuma.
"Contoh kasus dalam sebuah penelitian tahun 2011 di Inggris, kontribusi terbesar untuk limbah makanan berasal dari rumah sebesar 8,3 juta ton per tahun, merugikan konsumen sebesar £12 miliar dan menyumbang 3% dari emisi gas rumah kaca Inggris" jelasnya.
Menurut Muliarta, praktik buruk pembuangan limbah makanan berdampak pada lingkungan berupa emisi gas rumah kaca, lindi, dan bau. Tumpukan limbah makanan akan menghasilkan gas metana yang memiliki potensi pemanasan global 25 kali lebih besar daripada karbon dioksida dalam 100 tahun.
"Umumnya alasan rumah tangga tidak melakukan pemilahan sampah adalah terlalu malas, memiliki kesenjangan pengetahuan dan kurangnya fasilitas. Ini masalah klasik," kata pria yang sempat menjadi Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Bali periode 2014-2017.
Muliarta menyebutkan frekuensi makan berpengaruh cukup signifikan terhadap produksi limbah makanan. Dalam survei di kawasan Saridewi, Denpasar Utara yang telah menerapkan konsep zero waste sejak tahun 2020 terungkap bahwa 76,40% warga Saridewi memiliki frekuensi makan 3-4 kali dalam sehari.
Upaya mengurangi limbah makanan, sambil mempertahankan tingkat produksi dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan global. Artinya langkah mengurangi limbah makanan di satu wilayah dapat menyebabkan ketersediaan makanan yang lebih banyak di tempat lain.
Reporter: bbn/mul
Berita Terpopuler
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4467 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2106 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2011 Kali
Rem Blong, Truk Bermuatan Batu Terjun ke Jurang di Sidemen
Dibaca: 1641 Kali
Sidak Cafe di Payangan, Polisi dan BNN Gianyar Tes Urine 21 Orang
Dibaca: 1481 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan