Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 22 September 2026
Apa Itu Cemburu, Ini Penjelasan Akademisi Studi Psikologi
BERITABALI.COM, BADUNG.
Sebagian besar masyarakat mungkin belum mengetahui apa saja faktor penyebab seseorang cemburu. Adapun penjelasan terkait cemburu disampaikan, Akademisi Program Studi Psikologi, Dr. Ni Made Swasti Wulanyani., S.Psi., M.Erg,.
Menurutnya cemburu merupakan, emosi negatif yang dialami seseorang manakala merasa hubungannya dengan seseorang terancam karena kehadiran pihak ketiga. Rasa terancam timbul karena adanya rasa dan pemikiran tentang kepemilikan serta perhatian.
Misalnya, saja seorang anak yang merasa terancam hubungannya dengan ibunya saat adiknya lahir. Contoh lain adalah, seorang remaja yang merasa akan tidak mendapat perhatian lagi dari teman-temannya saat ada remaja lain yang baru masuk menjadi anggota kelompoknya.
Dalam hubungan romantik, seorang pria merasa terancam saat pasangannya memiliki teman kerja yang lebih menarik dalam penampilan.
Dari definisi dan contoh tersebut dapat disimpulkan bahwa penyebab timbulnya cemburu antara lain adalah: Merasa memiliki, Takut kehilangan atensi, Merasa rendah diri, atau Merasa kurang dihargai.
"Tingkat atau kemunculan rasa cemburu berbeda-beda tergantung pada perpaduan dari kemampuan berpikir logis atau penalaran, kematangan emosional, pengalaman masa lalu contohnya dari lingkungan," jelasnya, Sabtu,(29/1) di Badung.
Kondisi psikologis berkaitan dengan timbulnya rasa cemburu, misalnya, saja seseorang yang Self esteem atau self confidence nya rendah maka, akan cenderung merasa rendah diri, merasa atau berpikir bahwa dirinya tidak sebaik orang lain sehingga pasangan atau subjek lekatnya akan mengalihkan perhatian kepada orang lain.
Orang yang cenderung berkepribadian obsesif merasa sangat memiliki orang lain seutuhnya, Orang yang depresif akan selalu merasa rendah diri, Orang yang sangat bergantung pada orang lain akan merasa takut kehilangan pasangannya secara fisik maupun perhatian, Orang yang cenderung curiga (paranoid) akan selalu merasa memiliki saingan dalam mendapatkan perhatian, Orang yang hipersensitif tentu akan selalu merasa sekelilingnya negatif.
Bahkan ada cemburu yang patologis yaitu tetap merasa cemburu padahal tidak ada fakta yang sesuai dengan pemikiran negatifnya.
Baca juga:
Karangasem Diguncang Gempa Magnitudo 4,1
"Dengan demikian, orang-orang dengan diagnose depresi, paranoia, anxiety, skizoprenia, kelekatan berlebihan menjadi cukup rentan untuk mengalami cemburu. Cemburu adalah gabungan dari rasa terluka, cemas, dan marah sehingga tentu saja bisa mengarah kepada perbuatan agresif," katanya.
Maka itu, untuk upaya meminimalisir cemburu tersebut, ia menganjurkan kepada pasangan agar dibenahi cara berpikirnya, self esteemnya agar lebih menghargai diri sendiri dan meningkatkan kepercayaan dirinya, manajemen emosi, dan juga manajemen perilakunya.
Dirinya menambahkan, upaya tersebut dapat dilakukan secara mandiri termasuk dalam rangka pencegahan cemburu yang berlebihan.
"Namun jika sudah mengarah ke patologis maka diperlukan bantuan dari professional (psikolog atau psikiater)," pungkas Wulanyani.
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
Sopir Truk di Muncan Karangasem Dibakar Hidup-hidup, Diduga Soal Setoran
Dibaca: 8253 Kali
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5707 Kali
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3564 Kali
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2409 Kali
ABOUT BALI
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar