Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 25 Juli 2026
Pengungsi Suriah di Jerman Tunjukkan Solidaritas Untuk Ukraina
BERITABALI.COM, DUNIA.
Perang di Ukraina mengingatkan warga Suriah yang ada di Jerman tentang pelarian mereka sendiri dari negaranya karena perang. Mereka ramai-ramai menunjukkan solidaritas dengan pengungsi Ukraina.
Sepuluh tahun lalu, Mohammad Naanaa masih tinggal di pinggiran kota metropolitan Aleppo, di Suriah. Ketika itu sudah banyak aksi protes yang digelar setiap kali menentang perlakuan rezim Bashar al Assad.
Dia sendiri tidak ikut aksi-aksi itu. Ketika itu dia berusia 19 tahun dan sedang sibuk menyiapkan diri menghadapi ujian sekolah menengah.
Namun, situasi berubah cepat. Konflik meluas menjadi perang dan dia harus meninggalkan Aleppo.
Dia mengungsi ke Turki dan akhirnya tiba di Jerman. Orang tua Mohammad mengungsi sembilan bulan kemudian ke London.
"Kalau kamu pernah mengalami pengungsian, kamu pasti mengerti dan solider dengan pengungsi dari Ukraina," kata Mohammad.
"Soal pengungsian, kami ahlinya, sejak 11 tahun." Situasi perang di mana-mana sama Melihat situasi di Ukraina, Mohammad ingat lagi situasi di negaranya sendiri.
"Kalau saya lihat gambar-gambarnya di berita-berita, tidak ada bedanya dengan di Suriah dulu. Bahkan orang Ukraina berperang melawan musuh yang sama.”
Sejak 2015, Rusia mengerahkan pasukan ke Suriah membantu rezim Assad untuk menindas tuntutan demokrasi. Dalam serangan ke kota strategis Idlib, pasukan Rusia melakukan pemboman terhadap tempat tinggal penduduk sipil dan rumah sakit.
Laporan PBB dari tahun 2020 menyebutkan, ketika itu pasukan Rusia terlibat dalam "kejahatan perang" di Suriah.
Saad Yagi juga mengungsi dari Suriah. Namun, dia melihat ada perbedaan dalam konflik di negaranya dengan konflik di Ukraina.
"Perang di Suriah lebih tepat disebut sebagai revolusi," katanya. "Karena ketika itu kamu menggelar protes menentang rezim yang memerintah. Baru ketika pasukan Iran datang untuk membantu pasukan pemerintah, terjadi perang saudara."
Selain itu, gerakan yang menentang rezim yang berkuasa masih harus menghadapi gempuran kelompok teror ISIS.
Solidaritas untuk Ukraina
Saad Yaghi 13 tahun lalu bergabung dengan gerakan yang menentang rezim, setelah rumahnya dibom dengan rudal. Dia sempat membuat foto-foto untuk sebuah kantor berita berbahasa Arab untuk mendokumentasikan berbagai kejahatan yang terjadi di kotanya, dekat perbatasan ke Irak.
"ISIS sempat menahan saya selama tiga hari," Saad bercerita.
"Karena waktu itu saya terlihat membawa kamera dan banyak membuat rekaman." Untungnya, mereka tidak menemukan bukti apa-apa, kalau ada, saya pasti sudah dibunuh.”
Setelah dia dibebaskan, orang tuanya memutuskan untuk meninggalkan Suriah. Mereka pertama-tama ke Damaskus, lalu tahun 2015 mengungsi ke Jerman. Saat ini Saad Yaghi kuliah jurnalistik di kota Dortmund.
Bagi Saad Yaghi, menunjukkan solidaritas kepada pengungsi Ukraina adalah sebuah kewajiban.
"Tahun 2014 di Ukraina ada aksi demonstrasi besar dan saya lihat ada bendera Suriah yang dikibarkan para demonstran di sana. Orang Ukraina waktu itu menunjukkan solidaritasnya dengan kami," katanya.
"Sekarang, kami harus membalas solidaritas itu." Di akun Twitternya, dia mengirim foto tanda solidaritas. Saad mengatakan, dia juga punya banyak teman orang Rusia yang tidak setuju dengan serangan ke Ukraina.
"Mereka menceritakan, banyak kenalan mereka di Rusia yang ditangkap karena menentang politik Putin. Banyak yang dipukuli dan mungkin juga ada yang dibunuh," katanya.
Hari Sabtu (19/03), para pengungsi Suriah di Jerman merencanakan aksi peringatan 11 tahun perang di negaranya, sekaligus menunjukkan solidaritas mereka kepada Ukraina. "Kami tidak ingin lebih banyak orang mati di sana, sebelum Putin berhenti," kata Saad Yaghi.(sumber: suara.com)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3821 Kali
Penembakan di Klub Malam Canggu, Dua Orang Terluka, Pelaku Diburu
Dibaca: 1488 Kali
Positif Ekstasi, Kanit Reskrim Polsek Kuta Ditahan Propam Polda Bali
Dibaca: 1469 Kali
Menhub Setuju Bandara Letkol Wisnu Dikembangkan di Bali Utara
Dibaca: 1422 Kali
Risiko terhadap Momentum Digital Indonesia
Dibaca: 1319 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun