Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 28 Oktober 2026
Jet Tempur Buatan Korsel-RI Siap Terbang
BERITABALI.COM, DUNIA.
Jet tempur kolaborasi Korea Selatan dan Indonesia, KF-21 Boramae, dilaporkan akan uji coba terbang perdana pada Juli mendatang. Saat ini jet tempur Falcon generasi 4.5 tersebut telah menyelesaikan 50 persen dari program uji keseluruhan dan 95 persen dari seluruh persyaratan pengujian di darat, sebelum penerbangan perdananya yang dijadwalkan pada bulan depan.
Pemerintah AS menggambarkan jet tempur generasi ini memiliki kapabilitas lebih canggih, termasuk radar Active Electronically Scaned Array (AESA), serta sistem avionik yang ditingkatkan, dan juga akan dilengkapi sensor Infrared Search and Track (IRST).
Meski begitu, pesawat tempur ini tidak bersaing dengan pesawat tempur siluman gerasi 5 seperti F-22 dan F-35. Tapi akan berkompetisi dengan pesawat tempur generasi 4,5 lainnya seperti F-15E/EX Strike Eagle AS, Chengdu J-10C China, dan Sukhoi Su-35 Rusia.
KF-21 Boramae akan didukung mesin ganda General Electric F414-GE-400K. Mesin yang sama seperti digunakan di jet Boeing F/A-18E/F Super Hornet tersebut bisa menghasilkan kecepatan mach 1,83 (2.260 km/jam). Soal daya tempuh, KF-21 bisa melaju sejauh 2.900 km.
Mengutip Asia Times, sejumlah ahli menilai KF-21 ini menjadi upaya Korsel mengurangi ketergantungan pada senjata dan alutsista asing sambil mempromosikan diri sebagai produsen dan pengekspor utama persenjataan kelas atas.
KF-21 merupakan proyek kolaborasi antara Korsel dan Indonesia. Jakarta berjanji membayar 20 persen biaya produksi dari total US$7,6 juta.
Saat dipasarkan, KF-21 diperkirakan dibanderol senilai U$65 juta menempatkannya di atas pesawat tempur ringan seperti FA-50 - versi tempur dari jet latih T-50 yang dikembangkan oleh Korea Aerospace Industries dengan Lockheed Martin. Meski begitu, KF-21 masih lebih murah dari pesawat tempur canggih seperti Rafale dan Typhoon buatan Barat.
Sebelumnya, proyek ini sempat mandek lantaran Indonesia belum bisa membayar sebagian biaya produksi yang dijanjikannya.
Namun, The Korea Herald melaporkan Seoul dan Jakarta telah merampungkan term pembayaran November lalu dan saat ini tengah melanjutkan proyek tersebut.
"Indonesia akan melakukan pembayaran selama lima tahun ke depan hingga 2026, dan 30 persen di antaranya akan berupa transfer barang," menurut Administrasi Program Akuisisi Pertahanan Korea Selatan.(sumber: cnnindonesia.com)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5948 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4658 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2643 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2288 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2224 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan